[IFI Freelance] Broken Wings (Chapter 6)

Processed with Rookie

Broken Wings
by happyinkeul (@happyinkeul)

Main Cast : Kim Hanbin (B.I), Lee Hi, Lee Suhyun, Oh Sehun, Kim Jiwon (Bobby), iKon member dan beberapa artis lainnya.
Genre : Fantasy, Romance, Angst | Rating : PG16

Summary :
“Jika aku harus mati untuk melindunginya maka inilah yang seharusnya kulakukan, karena takdir kami tercipta bukan untuk saling mencintai melainkan saling membunuh. Jika aku harus mati bahkan untuk yang ke seribu kalinya, aku akan mengatakannya pada Tuhan semuanya tidak akan masalah bagiku karena dikehidupanku yang selanjutnya aku pasti akan bertemu kembali dengannya dan mencintainya lagi.”

Ketika cinta yang dimiliki mereka tidak bisa melawan takdir mereka yang terlahir bukan untuk saling mencintai, melainkan saling membunuh satu sama lain. Hanbin sang dark angel dan Hayi sang light angel, keduanya jatuh cinta dan mencoba untuk menentang takdir yang ada hingga akhirnya takdir memisahkan mereka. Akankah mereka bersatu kembali dikehidupan yang akan datang?

(Previous – chapter 1 | chapter 2 | chapter 3 | chapter 4 | chapter 5)

Chapter 06 : I Know You Care

I’ve never heard them until now

I know you care, I know it is always been there

But there is trouble ahead I can feel it

You were just saving yourself when you hide it.

—Ellie Goulding

Kim Hanbin, selamatkan aku! Jebal! Kim Hanbin!

Mata emas dan sayap hitam.

Kedua mata Hayi tak berkedip melihat sosok Hanbin yang begitu berbeda dihadapannya, membawanya terbang tinggi menembus dinginnya udara musim dingin, mata Hayi memandang kebawah, kerlap-kerlip cahaya lampu menyelimuti hampir seluruh bagian kota Seoul, rasa kagum, tak percaya sekaligus ngeri bercampur menjadi satu karena Hayi memandang kebawah dari ketinggian yang cukup tinggi. Hayi merekatkan pegangan tangannya pada leher Hanbin semakin erat, Hanbin bisa merasakan tubuh Hayi yang masih bergetar karena takut, matanya melirik Hayi yang sekarang menutup kedua matanya erat-erat.

Hanbin membawa Hayi kesebuah taman bermain anak-anak yang terletak tak jauh dari rumah Hayi, tak ada seorang pun yang berada disana kecuali mereka berdua. Perlahan-lahan Hayi membuka kembali kedua matanya ketika ia merasakan kedua kakinya berhasil menapak tanah. Hanbin, orang pertama yang Hayi lihat ketika ia membuka mata. Hanbin yang terlihat begitu berbeda.

“Hanbin-ah..” Ucap Hayi memanggil nama Hanbin dengan suara yang bergetar setelah ia membuka kedua matanya. Hanbin menatap Hayi dengan pandangan penuh amarah. Warna kedua bola matanya yang berubah dan terlihat berbeda dari biasanya sungguh membuat Hanbin terlihat lebih mengerikan. Degup jantung Hayi semakin tak beraturan menyaksikan bentuk tubuh Hanbin yang terlihat sangat berbeda karena kedua sayap hitam yang berada dibelakang punggungnya.

“Tak bisakah kau berhenti membuatku mencemaskanmu?” Tanya Hanbin pada Hayi dengan ketus.

“Kenapa kau bisa datang menolongku? Apa kau bisa mendengar isi pikiranku?” Hayi balas bertanya pada Hanbin, namun Hanbin hanya menatap lurus kearah dimana Hayi berada, mengacuhkan segala pertanyaan yang membuat Hayi begitu penasaran.

Tubuh Hayi mulai bergetar hebat, ia memberanikan diri mengambil beberapa langkah ke depan untuk menatap Hanbin lebih dekat lagi.

“A.. apa yang terjadi kepadamu? Siapa kau sebenarnya?” Tanya Hayi seiring dengan beberapa langkah yang diambil olehnya.

Hanbin menyungingkan sebuah senyuman yang terlihat seperti mengejek, matanya menatap Hayi lekat-lekat seakan ia ingin menerkamnya kapan saja, “Kau takut denganku?” Tanya Hanbin dingin.

Hayi menghentikan langkahnya ketika ia mendengar pertanyaan Hanbin, matanya menatap Hanbin tak bergeming, tubuh mungil Hayi yang tadinya gemetaran sedikit demi sedikit menghilang ketika ia menatap wajah Hanbin yang berdiri dihadapannya.

“Tidak.”

Jawaban Hayi terdengar sangat meyakinkan, tidak ada sedikit pun keraguan yang terlukis dari raut wajahnya tentu saja hal itu membuat Hanbin semakin cemas, karena Hayi sudah mengetahui bentuk asli Hanbin sebagai dark angel dan Hanbin tahu dengan pasti bahwa Hayi tidak akan melewatkan hal tersebut dengan mudah, cepat atau lambat Hayi akan mengetahui tentang jati dirinya sebagai light angel.

Hanbin masih memandang Hayi lekat-lekat namun tiba-tiba saja seluruh lampu taman yang ada disekitar taman tersebut pecah dan padam. Hayi terlihat kaget dengan kejadian yang baru saja dialaminya, ia langsung menyebarkan pandangannya ke seluruh area taman. Hayi menatap kearah kepingan pecahan lampu taman yang sekarang sudah berserakan di tanah. Keadaan disekitar Hayi mendadak menjadi gelap gulita.

“Kau lihat apa yang bisa kulakukan?” Tanya Hanbin pada Hayi yang sekarang sudah berdiri tepat dibelakangnya. Hayi masih tidak bergeming dengan sikap Hanbin yang begitu dingin dan berusaha untuk membuatnya ketakutan. Hanbin mendekatkan wajahnya ke telinga Hayi lalu ia berkata, “Aku bisa saja mencelakaimu atau bahkan membunuhmu, berhentilah untuk mencari tahu siapa aku ini dan berhentilah bertanya padaku.”

Hayi berbalik menatap Hanbin yang kini berada sangat dekat dengannya, Hayi dapat merasakan suhu tubuh Hanbin yang terasa begitu hangat meskipun ia tidak menyentuhnya. Tanpa disadari, air mata Hayi jatuh membasahi pipi. Hati Hanbin terasa seperti tersayat dengan pisau ketika melihat Hayi yang mulai menangis, secara tidak sengaja Hanbin telah menyakitinya.

“Kau tak akan pernah membuatku terluka atau membunuhku. Katakan padaku siapa kau sebenarnya dan kenapa pikiramu denganku bisa tersambung satu sama lain?” Tanya Hayi dengan terisak, frustasi akan sikap Hanbin yang selalu memberikan penolakan terhadap dirinya, hal itu tentu saja membuat hatinya merasa kecewa. Hanbin masih diam seribu bahasa, hanya menatap Hayi yang kini sedang menangis. Hayi menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya, kini ia memandang Hanbin lebih dekat lagi tepat menatap lurus kedalam matanya seakan mencari sesuatu yang disembunyikan Hanbin. Hayi dapat merasakan detak jantungnya yang kembali berdetak tidak beraturan dimana pun ia berada di sisi Hanbin. Secara perlahan, Hayi meraih kedua pipi Hanbin dengan lembut.

“Entah siapa dirimu dan mengapa pikiran kita bisa terhubung satu sama lain aku akan menemukannya dengan caraku sendiri. Satu hal yang ku tahu dengan pasti, kau tak akan pernah menyakitiku, karena kau peduli padaku…”

“Lee Hayi, hentikan.” Hanbin menempelkan dahinya pada dahi Hayi, kedua mata Hanbin terlihat berkaca-kaca. Kali ini, pertahanan Hanbin benar-benar runtuh, keinginannya untuk memeluk Hayi dalam pelukannya lebih besar daripada keinginan untuk mengacuhkannya. Kim Hanbin, yang tidak akan pernah bisa mengacuhkan Lee Hayi wanita yang dia cintai. Ditariknya Hayi mendekat, kini Hayi tenggelam dalam pelukan Hanbin yang terasa begitu hangat. Hayi bersandar pada dada Hanbin yang bidang, ia dapat mendengar dengan jelas irama detak jantung Hanbin yang terdengar berbeda dari detak jantung manusia normal. Tanpa sedikitpun keraguan Hayi membalas pelukan Hanbin dengan lebih erat lagi, tangannya menyentuh kedua sayap Hanbin yang bulu-bulunya terasa begitu lembut ditangannya. Hayi tersenyum, ia tak pernah membayangkan bahwa pelukan Hanbin begitu membuatnya nyaman dan satu hal lain yang terlintas dibenak Hayi, bahwa pelukan Hanbin terasa tidak begitu asing untuknya.

“Ada banyak hal yang ingin aku katakan padamu, tapi itu semua hanya akan membuat dirimu dalam bahaya dan aku tidak akan melakukannya jadi, berhentilah untuk bertanya atau mencari tahu tentang diriku.”

Hayi mendorong Hanbin untuk melepaskan dirinya dari pelukan Hanbin. Kedua mata Hayi kini menatap tajam kearah Hanbin, tentu saja tidak terima dengan perkataan Hanbin yang menyebut dirinya dalam bahaya, Hayi berfikir hal tersebut hanya berupa omong kosong belaka.

“Bahaya katamu? Kau bahkan tidak memberitahu siapa kau sebenarnya, menurutmu aku akan percaya begitu saja jika kau mengatakan aku dalam bahaya?”

“Lihatlah apa yang hampir terjadi padamu tadi!” Teriak Hanbin yang kini terdengar sangat frustasi.

“Aku hanya memancingmu untuk datang kepadaku.” Hayi berkata dan menatap Hanbin dengan dingin. Lipatan di dahi Hanbin kini terlihat dengan sangat jelas, berusaha untuk memahami arti perkataan yang dikatakan oleh Hayi.

“Mworago? Apa kau sudah gila? Jika aku terlambat untuk menyelamatkanmu kau mungkin sudah mati! Begitu kah caramu memperlakukan aku?!” Teriak Hanbin seraya mengguncangkan tubuh mungil Hayi. Hayi masih menatap Hanbin dengan tajam.

“Aku tahu kau akan menyelamatkanku. Lepaskan aku!” Ucap Hayi dingin, dengan kasar ia menghempaskan kedua tangan Hanbin yang memeggang kedua lengannya.

“Berhentilah untuk berbuat seenakmu! Apa kau sudah gila untuk mengorbankan nyawamu untuk sekedar mencari tahu siapa aku?!”

“Ya! Aku memang sudah gila karenamu! Aku hampir gila karena kau terus saja hadir memenuhi isi fikiranku, wajahmu selalu terbayang jelas di depan mataku bahkan ketika aku menutup kedua mataku!” Teriak Hayi dengan kesal, kini dadanya terasa semakin sesak.

“Baiklah mulai sekarang aku tidak akan berbicara denganmu.” Ucap Hanbin dingin, kata-kata tersebut tentu saja membuat dada Hayi terasa semakin sesak, bagaikan tidak bernafas dengan oksigen.

“Begitukah caramu memperlakukan aku? Baiklah, jika itu mau mu tapi aku tidak akan berhenti untuk mencari tahu siapa dirimu. Aku tidak akan berhenti sampai disini.” Ucap Hayi seraya menatap Hanbin dengan tajam dan berlari pergi untuk meninggalkannya, dia takut jika berada lebih lama lagi dengan Hanbin mulut bodohnya akan berkata lebih banyak hal yang selama ini ia sembunyikan dari Hanbin. Tentang dirinya yang mulai mencintai Hanbin yang membuat Hayi begitu ingin mengetahui banyak hal tentang Hanbin melebihi apapun dan mengapa dirinya merasa begitu terikat baik secara fisik maupun bathin.

Air mata Hayi semakin jatuh berurai membasahi kedua pipinya. Hayi berlari menjauh dari tempat dimana Hanbin berada dengan segenap sisa-sisa kekuatan yang ia punya, meskipun dadanya kian terasa begitu berat namun ia tetap memaksakan untuk berlari kembali menuju rumahnya yang berjarak tidak begitu jauh. Hanbin masih menatap kepergian Hayi, menatap punggungnya yang berlari menjauh hingga hilang ditengah kegelapan malam. Air mata Hanbin kembali menetes membasahi kedua pipinya, ia terjatuh tak bisa merasakan kedua kakinya, perlahan-lahan sayap hitamnya menghilang, nafasnya terengah-engah kelelahan, dadanya kini terasa sesak.

“Lee Hayi, maafkan aku.” Isak Hanbin didalam kegelapan malam. Hanbin tahu cepat atau lambat mimpi buruknya akan segera menjadi kenyataan.

* * *

Hari telah berganti dan matahari pagi mulai bersinar terang, suara burung yang mencicit cukup untuk menandai akan datangnya pagi. Hayi membuka kedua matanya, matanya terlihat sembab karena ia menangis semalaman. Ia merenggangkan seluruh otot yang ada dibadannya sebelum memposisikan tubuhnya untuk duduk. Hayi berusaha untuk bangun dari tempat tidurnya, namun tiba-tiba saja pandangannya menjadi kabur, semua yang dilihatnya menjadi berputar-putar, rasa pusing yang teramat dahsyat menyerang kepala Hayi. Matanya terbelalak ketika ia menyaksikan sebuah kabut yang memenuhi kamarnya, tubuh Hayi tiba-tiba saja merasa dingin.

“Lee Suhyun! Suhyunnie!” Teriak Hayi untuk meminta tolong. Suhyun yang kamarnya bersebelahan dengan kamar Hayi tentu saja mendengar teriakan Hayi langsung bergerak menuju kamar kakaknya.

“Unnie, kenapa kau berteriak-teriak memanggilku seperti orang kesetanan?” Tanya Suhyun seraya membuka pintu kamar Hayi. Matanya terbelalak ketika melihat kakaknya duduk bersimpuh dilantai, memegang dadanya seakan ia kesulitan untuk bernafas. Suhyun langsung berlari untuk menolong Hayi.

“Unnie! Kau sakit?!”

Hayi menggeleng lemah, namun kedua tangannya masih mengenggam dadanya yang terasa sesak. Raut wajah Hayi terlihat seperti orang yang kebingungan, kabut itu menghilang ketika Suhyun memasuki kamarnya. Suhyun yang terlihat cemas akan kakaknya bergegas untuk memapah Hayi kembali keatas tempat tidur, disentuhnya dahi Hayi namun suhu tubuhnya terasa normal.

“Lebih baik kau istirahat dirumah saja, unnie.”

“Tidak aku akan ke sekolah.” Jawab Hayi keras kepala, ia harus bertemu dengan Hanbin lagi hari ini.

“Unnie! Kurangilah sifat keras kepalamu!”

“Tidak apa badanku juga tidak demam.” Ucap Hayi tidak mempedulikan perkataan Suhyun, tanpa pikir panjang lagi Hayi langsung saja berlari menuju ke kamar mandi.

“Ya! Unnie!” Suhyun yang tahu sifat keras kepala kakaknya hanya bisa geram saat Hayi mengacuhkan perkataannya.

* * *

Pagi hari dikediaman Hanbin, semuanya berjalan seperti biasa. Yunhyeong yang sibuk menyiapkan sarapan dan Hanbin yang tidak peduli dengan urusan manusia dipagi hari seperti sarapan atau menikmati secangkir kopi sambil menonton review acara sepak bola. Pikirannya masih kembali mengingat Hayi yang berlari pergi meninggalkannya, Hanbin tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya karena telah membuat Hayi menangis.

“Nih roti untukmu, sepertinya kau bakal butuh banyak energi hari ini.”

Hanbin memutar kepalanya ketika melihat Yunhyeong yang kini telah berdiri disampingnya sambil menyodorkan sepiring roti bakar. Hanbin mengambilnya dengan malas, Yunhyeong tahu dengan jelas jika Hanbin masih terus terpikir tentang kejadian tadi malam.

“Sepertinya perkataanmu akan menjadi kenyataan, Song Yunhyeong.” Ucap Hanbin dengan tawanya yang getir.

Sebuah suara bel berbunyi kencang beberapa kali, membuat Yunhyeong dan Hanbin dengan otomatis langsung memberikan pandangannya kearah pintu masuk rumah mereka. Dahi Yunhyeong berkerut ketika ia menatap Hanbin, seperti orang yang kebingungan. Hanbin hanya mengangkat kedua bahunya sebagai respon jika ia juga tidak tahu siapa yang bertamu kerumahnya sepagi ini.

Suara bel tersebut masih tetap berbunyi untuk yang kelima kalinya, Yunhyeong akhirnya memutuskan untuk membuka pintu tersebut untuk melihat siapa yang datang, namun baru saja ia memeggang gagang pintu, sebuah aura yang ia kenali dengan baik sudah begitu terasa disekitarnya. Yunhyeong tahu betul seseorang yang berdiri dibalik pintu tersebut bukanlah manusia, namun seorang angel.

Yunhyeong akhirnya membuka pintu rumahnya, terlihat seorang wanita dengan rambut panjang tergerai sedang berdiri membelakangi dirinya. Wanita itu terlihat sangat cantik bahkan ketika kau hanya melihatnya dari belakang, proporsi tubuhnya sungguh membuat dirinya begitu sempurna.

“Jennie?” Tanya Yunhyeong pada wanita yang berdiri dihadapannya. Wanita itu akhirnya membalik badannya menghadap Yunhyeong, senyum manis berkembang dari bibir merah cherrynya. Kedua matanya berkilauan bagaikan sebuah kristal ketika cahaya mentari menyinari tubuhnya. Jennie Kim, seorang dark angels sekaligus mantan tunangan Hanbin.

“Yunhyeong! Akhirnya aku menemukan kalian! Apakah Hanbin sedang bersamamu?” Tanya wanita itu dengan semangat, kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri, mencoba untuk mencari sosok Hanbin yang terhalangi oleh tubuh Yunhyeong. Tetapi, seakan tidak mempedulikan Yunhyeong yang mencoba untuk menghalanginya, ia malah mendorong Yunhyeong dengan paksa, dorongannya yang kuat cukup membuat Yunhyeong menganga tidak percaya.

“Wanita itu benar-benar tidak berubah! Selalu seenaknya!” Umpat Yunhyeong yang langsung melesat untuk menghentikannya.

“Hanbin-ah!” Teriak Jennie ketika ia memaksa untuk memasuki rumah Hanbin. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri untuk mencari sosok Hanbin. Rona wajah Jennie berubah secara singkat ketika ia menemukan sosok pria yang dicarinya sedang berdiri mematung dihadapannya, kedua tangannya dilipat didepan dada, matanya memandang Jennie dengan tatapan sangat dingin. Tapi, seakan tak peduli dengan sikap Hanbin yang dingin, Jennie justru segera berlari kearah Hanbin dan memeluknya dengan erat.

“I miss you so much, Kim Hanbin.”

Hanbin tidak bergeming, kedua tangannya masih terlipat didepan dada, meskipun Jennie memeluknya dengan erat. Jennie yang akhirnya melepaskan pelukannya, kini memandang Hanbin dengan pandangannya yang dibuat-buat, seakan dirinya sedih karena Hanbin memperlakukan dirinya dengan sangat dingin.

“Kau tidak rindu denganku?”

“Tidak.”

Raut wajah Jennie seketika saja berubah ketika mendengar Hanbin memberikan jawabannya yang tentunya bukan jawaban yang dia sukai. Matanya menatap Hanbin dengan pandangan sinisnya, kini ia melipat kedua tangannya didada.

“Tch, kau benar-benar tidak berubah, Kim Hanbin.” Ucap Jennie sinis.

“Apa tujuanmu datang kemari?”

“Benar! Dan kenapa kau memakai seragam sekolah? Oh tidak! Bahkan seragam sekolahmu mirip dengan seragamku!” Teriak Yunhyeong tidak percaya, memotong pembicaraan diantara Hanbin dan Jennie.

Jennie menatap Yunhyeong dengan tajam, bagi Jennie, Yunhyeong selalu saja menyebalkan karena selalu ingin tahu dan ikut campur dengan segala urusannya.

“Tentu saja aku akan menyamar sebagai manusia dan pergi ke sekolah yang sama dengan tunanganku.” Ucap Jennie yang kini raut wajahnya sudah berubah ceria kembali, tangannya langsung menarik tangan Hanbin untuk dipeluknya. Hanbin tidak bergeming, namun tatapannya cukup untuk mengatakan bahwa ia tidak suka dengan sikap Jennie.

“Kau tahu aku tidak akan pernah menikahimu.” Ucap Hanbin datar.

Jennie mendelik dengan sinis, perubahan raut wajahnya yang sangat drastis terkadang membuat Yunhyeong tidak bisa berkata apa-apa. Lain halnya dengan Hanbin yang selalu mengacuhkannya.

“Berhentilah menyombongkan dirimu, Kim Hanbin. Aku akan membantumu untuk menyingkirkan reinkarnasi light angel itu, sebelum Kai menghancurkannya dan para tetua akan mengangkatnya sebagai pemimpin klan Raven. Aku tidak ingin menikahinya! Lebih baik aku menikah denganmu, kau tahu kan Kai sangat menyebalkan?”

“Jennie…” Jennie menoleh untuk menatap Hanbin ketika ia menyebut namanya, kini Hanbin sudah berdiri dihadapannya dengan jarak wajah mereka yang teramat dekat. Jennie hanya bisa membeku menatap wajah tampan Hanbin dari dekat, melihat Jennie yang berdiri mematung, Hanbin menyunggingkan senyuman liciknya, tangannya membelai rambut Jennie.

“Aku tidak peduli dengan siapa kau akan menikah, tetapi… jika kau berani untuk menghancurkan reinkarnasi kekasihku, akan kupastikan kau lah yang akan kuhancurkan terlebih dahulu.”

Mendengar ucapan Hanbin yang terdengar sangat mengintimidasinya, tentu saja membuat Jennie semakin mematung ditempatnya, bulu kuduknya berdiri membayangkan jika ucapan Hanbin menjadi kenyataan. Dia tahu dengan jelas seberapa besar kekuatan Hanbin, untuk menghancurkannya tentu bukan hal yang sulit bagi Hanbin.

Hanbin masih tersenyum licik memandang Jennie yang terdiam membisu. Yunhyeong pun, bergidik ngeri mendengar perkataan Hanbin yang sebenarnya tidak ditujukan padanya.

“A… apa kau sudah tidak peduli dengan klanmu?!” Tanya Jennie sambil berteriak. Dia sengaja meninggikan suaranya agar Hanbin berfikir ia tidak takut dengan ancamannya.

“Tidak peduli sama sekali.” Ucap Hanbin singkat bahkan tanpa berbalik untuk menatapnya dan berjalan keluar rumah.

“Ya! Kau benar-benar gila!” Umpat Jennie dengan kesal. Yunhyeong masih disamping Jennie, mengamati nafasnya yang terengah-engah karena menahan emosinya yang membara. Seutas senyum terlukis pada bibirnya.

“Jika kau tidak mau menikah dengan Kai, maka bantulah kami.” Ucap Yunhyeong pada Jennie.

“Apa kau sudah gila? Membantu kalian sama saja dengan menjadi pengkhianat bagi klan!”

Yunhyeong terkekeh mendengar ucapan Jennie yang secara tidak langsung telah menyebutnya pengkhianat, memang benar ia adalah pengkhianat klan, Yunhyeong sendiri juga tidak mengerti mengapa ia mau melakukan hal senekat ini hanya demi temannya. Karena bagi Yunhyeong tidak ada pemimpin dari klan Raven yang lebih pantas daripada Hanbin.

“Yah… aku memang sudah jadi pengkhianat, kok.” Ucap Yunhyeong santai sambil berjalan keluar rumah, meninggalkan Jennie yang kini mengumpatnya dengan kesal.

“Ya! Song Yunhyeong! Kenapa kau begitu menyebalkan?!”

* * *

Tepat lima belas menit sebelum bel pelajaran pertama berbunyi, Hayi sudah duduk manis didalam kelasnya. Matanya melirik ke sebuah meja yang masih kosong disampingnya, terlihat Hayi sangat menantikan kedatangan Hanbin. Rasa penasarannya akan siapa sosok Hanbin yang sebenarnya kini semakin hari semakin besar saja. Wajah Hayi menunjukkan seperti ia sedang berfikir keras, memorinya kini membawanya kembali pada sosok Hanbin yang sangat berbeda dengan sayap hitam dan mata emasnya.

Sayap?

Mata Emas?

Apakah dia seorang angel?

Hayi langsung menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, masih tidak yakin dengan analisanya sendiri. Bukannya seorang angel memiliki sayap berwarna putih? Jika Hanbin seorang angel, mengapa sayapnya berwarna hitam? Fikir Hayi dalam benakknya. Kepalanya terasa sakit memikirkan hal-hal yang diluar nalarnya, hal-hal aneh yang selalu menghampirinya akhir-akhir ini. Jujur saja Hayi pun masih tidak percaya saat melihat sosok Hanbin yang terlihat begitu berbeda tadi malam. Hanbin yang membawanya terbang tinggi, Hanbin yang menatapnya dengan tatapan dingin. Namun, tiba-tiba saja pikiran Hayi langsung tertuju pada Bobby, sahabatnya yang begitu tertarik pada hal-hal aneh diluar logika, yang selalu menceritakan hal-hal mengenai para angel dan para watchers kepadanya sedari mereka kecil. Hayi tahu mungkin Bobby akan mengatainya gila, tapi ia sudah tidak peduli lagi. Terlebih ketika Hanbin terdengar begitu akrab dengan Bobby. Tanpa pikir panjang lagi, Hayi segera berlari menuju kelas Bobby, dimana Bobby biasa berada.

Dengan nafas yang terengah-engah, Hayi kini telah berdiri didepan pintu kelas Bobby. Dibukanya pintu kelas Bobby, matanya mencari sosok Bobby diantara kerumunan orang-orang yang sedang berkumpul didalam kelas.

“Ya! Kau mencari aku?” Bobby menepuk pundak Hayi dari belakang, tentu saja hal itu membuat Hayi terlonjak kaget, beberapa kali ia terlihat mengelus dadanya.

“Kenapa kau terlihat begitu kaget? Kau pikir aku ini setan?” Tanya Bobby dengan ketus melihat Hayi yang menurutnya terlihat sangat over reaction.

“Hah! Kenapa kau harus mengagetkan aku sih?” Gerutu Hayi kesal.

“Kau yang terlihat mencurigakan seperti ingin mengambil sesuatu.”

“Ya! Kau pikir aku pencuri?!” Teriak Hayi kesal, Bobby selalu saja membuat Hayi kehilangan kesabaran.

“Kenapa kau mencariku?” Tanya Bobby to the point.

Hayi menghindari tatapan Bobby, matanya berputar, terlihat bingung harus mulai bercerita dari mana tentang hal yang tidak masuk akal ini.

“Apakah angel mempunyai sayap hitam?” Tanya Hayi dengan suara yang pelan agar tidak ada seseorang pun yang mendengar pembicaraan mereka. Dahi Bobby kini berkerut, matanya menatap Hayi dengan tatapan tidak percaya. Keringat dingin perlahan mengucur dari dahinya.

“Apa kau sudah gila? Kau percaya dengan hal semacam itu? Kau tahu itu hanya lelucon yang kubuat ketika kita masih kecil saja.” Bobby mulai menertawai Hayi, tentu saja melihat Bobby yang tertawa padanya membuat Hayi merasa dipermainkan.

“Jadi selama ini kau membodohiku?” Tanya Hayi sinis, tubuhnya bergetar menahan amarah yang bisa kapan saja ia lontarkan. Bobby hanya mengangguk tanpa rasa bersalah sedikit pun. Hayi menghela nafas panjang, masih berusaha untuk menahan amarahnya. Rasa bersalah mulai mendera Bobby ketika ia melihat raut wajah Hayi yang menatapnya dengan sinis, kedua tangan Hayi mengepal kencang berusaha untuk mengendalikan amarahnya.

“K… Kau tidak apa-apa?” Tanya Bobby hati-hati.

“Aku benar-benar membencimu, Bobby!” Teriak Hayi kesal dan melesat pergi meninggalkan Bobby.

Hayi berlari kembali menuju ruangan kelasnya dengan nafas yang masih terengah-engah dan rasa kesal yang masih menempel padanya, Hayi membanting pintu kelasnya dengan kencang, semua mata tertuju padanya namun Hayi seakan sudah tidak peduli pada apapun yang orang akan katakana atau pikirkan. Kepalanya tertunduk lesu, langkahnya gontai ketika ia berjalan menuju tempat duduknya.

Hayi terdiam ketika ia menyadari bahwa tempat duduk Hanbin yang berada disebelahnya sudah tidak lagi kosong, namun bukan Hanbin yang menempati tempat duduk tersebut melainkan seorang wanita yang masih teman sekelasnya. Tentu saja hal itu membuat Hayi bertanya-tanya mengapa ia menempati tempat duduk Hanbin.

“Kenapa kau duduk disini?” Tanya Hayi dengan datar.

“Hanbin yang memintaku untuk menukar tempat duduknya, karena susah untuk melihat penjelasan guru di papan tulis.”

Hayi terpaku setelah ia mendengar penjelasan dari temannya alasan Hanbin yang memintanya untuk menukar tempat duduknya. Tapi, Hayi tahu dengan jelas bukan itu alasan Hanbin yang sebenarnya. Hati Hayi mulai terasa tidak tenang, nafasnya kini terasa sesak. Hayi tahu Hanbin sedang menjauhinya. Matanya kini mencari sosok Hanbin, tidak sulit bagi Hayi untuk mencari sosok Hanbin walaupun ia kini duduk membelakanginya, punggung tegak Hanbin, punggung yang tidak mengeluarkan sayapnya. Tenggorokan Hayi terasa begitu kering, matanya terasa berat karena air matanya mulai berkumpul.

Kenapa kau menjauhiku? Kim Hanbin, jawab aku…

Hayi bertanya pada Hanbin melalui pikiran mereka yang tersambung, pandangan Hayi tidak pernah lepas untuk mengamati segala gerak-gerik Hanbin. Satu detik, dua detik, tiga detik tidak ada respon apapun yang diberikan oleh Hanbin, tidak ada gesture tubuh Hanbin yang terlihat berbeda, Hanbin masih tak bergeming.

Pintu kelas kembali terbuka, terlihat sosok wanita paruh baya memasuki ruang kelas dengan setumpuk buku yang dibawanya. Hayi yang tadinya akan berjalan untuk mengajak Hanbin berbicara tentu saja menghentikan langkahnya dan kembali ke tempat duduknya, namun kini ia sudah tidak bisa menahan rasa sedihnya lagi, air mata Hayi jatuh perlahan-lahan membasahi kedua pipi merahnya.

Hanbin masih menatap lurus kedepan, pandangannya kosong, tubuhnya mematung kaku. Suara Hayi yang terdengar didalam isi kepalanya terasa begitu menyakitkan untuk Hanbin, ketika ia harus menahan semua rasa sayangnya untuk Hayi semata-mata demi keselamatan Hayi. Hanbin menghela nafas panjang, ia menelungkupkan kepalanya di meja, hatinya hancur mendengar suara tangis Hayi yang menggema ditelinganya. Saat ini, Hanbin hanya ingin memeluk dan mencium kedua mata Hayi untuk membuatnya berhenti menangis.

* * *

Terik matahari terasa begitu menghangatkan tubuh ditengah dinginnya musim dingin, deru angin bertiup kencang mematahkan beberapa ranting pohon, suara riuh mewarnai hampir diseluruh sudut sekolah. Lee Suhyun, wanita manis bermata sipit ini kini terlihat seperti sedang mengamati seseorang dari kejauhan. Kedua tangannya memeggang sebuah teropong yang kini telah ditempelkan di kedua matanya, kedua alisnya mengkerut, mulutnya perlahan-lahan mulai menganga. Dari teropong Suhyun, bisa terlihat seorang pria dengan kedua tangannya yang kekar sedang berlari mendribble bola, wajahnya terlihat begitu serius untuk menghindari blokade lawan-lawannya. Pria berbaju merah itu memutar tubuhnya untuk menghindari lawan, dipunggungnya tertulis angka 9 dengan nama Bobby. Ya, Bobby-lah orang yang sedang diamati Suhyun dari kejauhan.

“Ya! Suhyunnie hentikan! Kau memalukan!” Umpat Yoojung, teman sekelas Suhyun sekaligus sahabatnya. Gadis ini terlihat begitu manis dengan rambut hitam panjangnya, kulitnya putih berkilau.

“Omo! Omo! Bobby oppa membuat score! Omo! MASUUUUK!!!” Teriak Suhyun histeris ketika melihat Bobby memasukkan goal ke gawang lawannya melalui teropong. Melihat Suhyun yang mulai berteriak histeris dan meloncat kegirangan, Yoojung langsung menbekap mulut Suhyun dengan kedua tangannya.

“Sst!! Diamlah sedikit! Ya!”

Suhyun meronta-ronta agar Yoojung berhenti untuk membekap mulutnya, dengan lirikan jangan-lagi-kau-lakukan-itu akhirnya Yoojung melepaskan Suhyun.

Suhyun langsung menarik nafas panjang, seakan ia hampir kehabisan nafas. Kedua pipinya masih bersemu merah. “Kau lihat kan, bagaimana Bobby oppa memasukkan bolanya tadi? Shuuuuut~” Ucap Suhyun dengan semangat seraya meniru gaya Bobby ketika ia memasukkan bola tadi.

“Iya, iya, terserah kau saja.” Jawab Yoojung datar, malas untuk menanggapi Suhyun yang terlalu tergila-gila pada Bobby. Suhyun masih berbicara panjang lebar tentang Bobby, hal yang sudah biasa dilakukannya setiap kali melihat aksi Bobby yang dianggapnya sangat cool. Yoojung menghela nafas panjang, hanya bisa bersabar untuk menghadapi Suhyun. Yoojung yang sudah merasa malas untuk mendengarkan celotehan Suhyun tentang Bobby, kini melemparkan pandangannya untuk melihat beberapa kerumunan orang yang ada di samping kirinya.

“Omo!” Yoojung terlihat begitu kaget akan sesuatu, Suhyun yang menyadari tingkah aneh temannya tersebut mengikuti arah pandangan Yoojung disisi sebelah kirinya. Mata Suhyun kini ikut terbelalak. Kim Hanbin terlihat sedang berjalan dengan seorang wanita cantik yang menempel begitu mesra disisinya.

“Siapa wanita itu?” Tanya Suhyun masih tidak bisa berkedip untuk memandangi Hanbin dan wanita cantik disebelahnya.

“Kau tidak tahu?” Tanya Yoojung kepada Suhyun. Suhyun menggelengkan kepalanya.

“Wanita itu, Jennie Kim, dia baru pindah hari ini ke sekolah kita dan kau tahu dia mengatakan hampir ke semua orang disekolah ini bahwa ia adalah tunangan dari Kim Hanbin, ku kira dia hanya wanita pembual gila saja tapi melihat mereka bergandengan tangan seperti itu sepertinya dia tidak berbicara omong kosong. Daebak, para fans Hanbin pasti sangat kecewa.”

Mendengar ucapan Yoojung, kini kedua mata Suhyun semakin terbelalak, mulutnya menganga lebar. Yoojung yang melihat tingkah aneh Suhyun kini menatapnya dengan curiga, Yoojung tahu dengan jelas jika hanya Bobby yang bisa membuatnya terlihat seperti orang bodoh. Yoojung kini menatap Suhyun lekat-lekat, kedua matanya menyipit.

“Kau… tidak tertarik pada Kim Hanbin juga, kan?”

“APA? KAU TERTARIK PADA KIM HANBIN?!” Bobby yang muncul tiba-tiba dari belakang Suhyun dengan berteriak kencang tentu saja membuat Suhyun terlonjak kaget. Wajahnya merah padam melihat Bobby yang kini menatapnya dari dekat.

“Ya! Kenapa kau mengagetkan aku!” Umpat Suhyun dengan kesal, tangannya kini menepuk-nepuk dadanya yang berdegup kencang tak karuan.

“Katakan padaku, kau menyukai Kim Hanbin?” Tanya Bobby pada Suhyun sekali lagi dengan tatapan yang tajam.

“Bukan aku tapi Hayi unnie yang menyukainya.”

“Apa?!” Kini kedua mata Bobby yang terbelalak lebar, mulutnya menganga, seakan tak percaya. Bobby bertanya pada Suhyun untuk memastikan bahwa yang baru saja didengarnya bisa saja salah.

“Unnie menyukai Hanbin, oppa apa kau melihatnya? Dia tidak boleh melihatnya!”

“Hayi menyukainya?” Tanya Bobby masih tidak percaya dengan jawaban Suhyun. Suhyun mengangguk cepat mengiyakan jawaban Bobby. Kini Bobby melemparkan pandangannya pada Hanbin, masih tidak percaya jika Hayi dapat menyukai Hanbin bahkan ketika Hayi tidak mengetahui siapa Hanbin sesungguhnya. Aneh, namun keringat dingin kini mengucur deras dari dahinya, pikirannya tiba-tiba saja menjadi kalut. Bobby kini menatap gadis yang berdiri disamping Hanbin, walaupun hanya dilihat sekilas saja Bobby bisa merasakan aura hitam yang mengelilingi wanita itu. Wanita itu bukan seorang manusia melainkan dark angel.

Dering handphone Suhyun berbunyi kencang, mengagetkan Bobby, Suhyun dan Yoojung yang masih menatap kearah Hanbin dan Jennie. Suhyun merogoh saku blazernya, nama Unnie terpampang di phonescreen, Suhyun menarik nafasnya sebelum mengangkat teleponnya.

“Suhyunnie, kau dimana?”

“Aku? K-kau dimana, unnie?” Tanya Suhyun dengan gagap.

“Ah! Aku melihatmu, Suhyunnie! Aku sedang berjalan keluar menuju taman sekolah, kau bisa melihatku?”

Suhyun menoleh ke sisi kanan bangunan sekolahnya, dari kejauhan Suhyun dapat melihat Hayi yang melembaikan tangannya dari jendela sekolah. Melihat Hayi yang sedang berjalan di koridor sekolah untuk menghampirinya, tentu saja Suhyun akan menghentikannya lebih dulu, semua itu untuk mencegah Hayi melihat Hanbin yang sedang bergandengan tangan dengan Jennie.

“Unnie! Jangan kesini! Aku… aku akan menghampirimu!”

Namun terlambat, Hayi dapat melihat sosok Hanbin dari kejauhan. Meskipun ia tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tapi Hayi bisa melihat seorang wanita sedang menyenderkan kepalanya dibahu Hanbin dan Hanbin terlihat tidak menolaknya. Hatinya mulai berdegup kencang, dadanya terasa tercekat, ia bisa merasakan gumpalan amarah yang sudah tertahan ditenggorokannya, membakar seluruh tubuhnya, saat itu Hayi hanya ingin wanita itu pergi menjauh dari sisi Hanbin.

“Kau tahu siapa wanita disamping Hanbin?” Tanya Hayi pada Suhyun melalui telepon. Suaranya bergetar, berusaha untuk menahan amarahnya.

Suhyun mengigit bibir bawahnya, tidak mungkin untuk menutupi hal ini dari Hayi. Tentu saja, cepat atau lambat Hayi akan mengetahui kebenaran akan Hanbin yang sudah mempunyai tunangan.

“Dia… dia Jennie Kim, murid pindahan baru dan tunangan Hanbin, unnie. Kau belum tahu hal ini?”

“Tunangan?” Hayi kini menatap Hanbin dengan pandangan tak percaya, tubuhnya bergetar, gumpalan air mata kini sudah terlihat dipelupuk matanya. Desir angin bertiup, menerpa tubuh Hanbin membawa serta aroma wewangian yang tidak asing bagi Hanbin, aroma tubuh Hayi.

Lilac dan Rosemary.

Hanbin yang tadinya menundukkan kepalanya, kini mengangkat kepalanya, kedua matanya berusaha untuk mencari sosok Hayi. Tak butuh waktu lama, kini pandangan mereka bertemu. Dari kejauhan Hanbin dapat melihat dengan jelas wajah Hayi yang kini berlingan air mata. Dadanya terasa sesak. Perlahan-lahan, Hanbin melepaskan tangannya dari genggaman tangan Jennie. Hanbin dapat mendengar dengan jelas isi pikiran Hayi yang kacau, seutas senyum terlukis ketika ia mendengar isi pikiran Hayi yang tak suka melihatnya dengan wanita lain.

“Ah, jadi dia reinkarnasi kekasihmu itu?” Tanya Jennie yang terdengar sangat sinis, tentu saja ia tidak menyukai ketika Hanbin melepaskan genggaman tangannya. Namun, Hanbin mengacuhkan Jennie begitu saja.

Desir angin kembali bertiup menerpa tubuh Hanbin kembali. Samar-samar Hanbin dapat merasakan memudarnya aroma Lilac dan Rosemary berganti dengan aroma yang menusuk nafasnya— darah.

Tenggorokan Hanbin tercekat, ia melemparkan pandangannya ke sekelilingnya dan kembali memandang Hayi dengan cemas, tiba-tiba saja dirinya menjadi begitu panik.

Hayi masih menatap Hanbin dari kejauhan dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya, kini ia tak bisa merasakan kedua kakinya yang terasa begitu lemas, terdengar suara Suhyun yang memanggilnya melalui telepon, namun Hayi sudah menjatuhkan handphonenya ke lantai. Tenggorokanya terasa begitu tercekat, ia bahkan mulai kesulitan untuk bernafas.

Sebuah kabut hitam lekat tiba-tiba saja kembali menghalangi pandangannya, kejadian ini kembali membuatnya mengingat ketika ia hampir mati karena kabut hitam yang tiba-tiba saja mengelilinginya dan membuatnya kesulitan bernafas. Kini Hayi terjatuh tak bisa menahan berat tubuhnya lagi, keringat semakin mengucur deras dari dahinya, namun kabut hitam itu perlahan-lahan menjauhinya. Pandangan Hayi kini telah kembali dengan jelas, namun tiba-tiba saja sebuah bola basket melesat dengan cepat kearahnya. Matanya terbelalak, hanya dalam hitungan detik bola basket tersebut akan menerobos masuk, memecahkan kaca jendela sekolah dan menghantam kepalanya dengan kencang.

Hayi masih terpaku ditempatnya, pupil matanya semakin membesar ketika bola tersebut semakin mendekatinya. Jantungnya kini berdegup semakin kencang, Hayi menutup erat kedua matanya, posisinya kini semakin terdesak.

“MENJAUHLAH DARIKU!!!” Teriak Hayi dengan kencang.

Deru angin bergemuruh dengan kencang, tinggal sedetik lagi bola basket itu akan menghantam jendela sekolah, namun…

PRANKKKKKKKKK!

Pecahan kaca berterbangan, mementalkan jauh bola basket tersebut bahkan sebelum bola tersebut menyentuh kaca jendela. Bola basket tersebut kini bergulir perlahan ditanah.

Hayi membuka kedua matanya secara perlahan, jantungnya masih berdegup dengan kencang. Ia dapat mendengar dengan jelas suara pecahan kaca yang didengarnya tadi, seharusnya bola basket tersebut sudah menghantam kepalanya, namun Hayi yakin jika ia tidak merasakan apapun yang menghantamnya dengan kencang.

Pecahan kaca kini berserakan dilantai, namun ia tak dapat menemukan bola basket yang menghantam jendela tersebut. Dengan langkah yang gontai, Hayi memaksakan dirinya untuk melihat keluar jendela. Dilihatnya sebuah bola basket yang tergeletak di tanah, diluar jendela, diluar bangunan sekolah, bukan didalam seperti yang seharusnya jika bola tersebut memang menghantam jendela. Kedua tangan Hayi menutup mulutnya yang menganga, tidak percaya dengan hal yang dilihatnya. Hayi ingat dengan jelas, bahwa ia berteriak agar bola tersebut menjauh darinya sesaat sebelum bola basket tersebut akan menghantamnya.

“Tidak mungkin… bagaimana aku bisa?” Gumam Hayi seraya menatap lekat-lekat kearah bola basket yang tergeletak ditanah tersebut. Namun, kini ia melemparkan pandangannya kepada orang-orang yang menatapnya dengan tatapan takjub. Termasuk Suhyun yang menatap kakaknya tanpa mengedipkan kedua matanya, Suhyun juga menyaksikan bahwa bola basket tersebut tidak menyentuh dan memecahkan kaca jendela tersebut, melainkan kaca jendela tersebut pecah dengan sendirinya, seperti meledak.

“O… oppa, kau lihat? Kacanya… pecah dengan sendirinya…” Mendengar Suhyun yang berkata, membuat Bobby melemparkan pandangannya pada Hanbin, yang kini sedang menatapnya juga. Bobby ingin memastikan, apakah Hanbin yang memecahkan kaca-kaca tersebut dengan kekuatannya, namun Hanbin menggeleng, dari kejauhan Bobby dapat melihat butiran keringat yang ada di dahinya. Tenggorokannya tiba-tiba saja menjadi kering, Apakah kekuatan Hayi perlahan-lahan mulai bangkit? Tanya Bobby didalam pikirannya.

Jennie melirik Hanbin yang masih memandang kearah Hayi dan serpihan kaca yang berserekan, Hanbin terlihat seperti orang kebingungan, tubuhnya terlihat gemetaran seperti orang yang baru terbangun dari bermimpi buruk. Sebuah senyum yang terlihat seperti meremehkan terbentuk dibibir Jennie.

“Ah, jadi dia belum bisa mengendalikan kekuatannya?”

“Hentikan omong kosongmu!” Hanbin mendesis, menahan amarah dan rasa takut yang bercampur menjadi satu.

“Kau tahu dengan jelas, bukan aku atau kau yang melakukan itu, Kim Hanbin.”

Hati Hayi masih berdegup tak karuan, dirinya masih berfikir tentang kejadian tidak masuk akal yang terus saja terjadi padanya akhir-akhir ini. Kepalanya terasa berat, tiba-tiba saja pandangannya semakin memudar. Kedua kaki Hayi kembali terasa begitu lemas, tubuhnya kini terjatuh, lututnya mulai mengeluarkan darah karena ia terjatuh tepat mengenai serpihan kaca yang berserakan dilantai. Hanbin yang melihat Hayi terjatuh, tanpa pikir panjang langsung melesat pergi ke tempat Hayi. Keadaan disekitar Hanbin kini menjadi ribut sekaligus terkejut ketika melihat Hanbin yang tiba-tiba saja menghilang, tentu saja hal ini membuat semua orang bertanya-tanya. Termasuk Suhyun yang baru saja melihat Hanbin yang tadi berada tak jauh darinya.

“Tch! Si brengsek itu, benar-benar selalu bertindak sesuka hati!” Umpat Jennie, kesal dengan sikap Hanbin yang tidak memikirkan konsekuensi yang akan dia terima jika manusia mengetahui tentang identitasnya.

Rasa sakit kini mulai menjalar ke seluruh tubuh Hayi, darah yang keluar dari lututnya semakin mengalir. Hayi berusaha untuk berdiri, namun sulit baginya untuk berdiri karena kakinya yang terluka. Suara derap langkah terdengar semakin mendekat kearah Hayi berada.

“Hayi-ah! Kau tidak apa-apa?”

Hayi mendongakkan kepalanya ketika mendengar suara berat seorang laki-laki, sinar matanya meredup ketika ia melihat Sehun yang berlari untuk menghampirinya. Sehun terlihat begitu panik, melihat lutut Hayi yang terluka.

“Apa yang kau lakukan sampai berdarah begini?!” Pekik Sehun, ia merunduk untuk membopong tubuh Hayi ke ruang pengobatan. Namun, baru saja Sehun akan membopongnya, seseorang sudah merebut Hayi dari tangannya dan membopong tubuh Hayi yang lemah.

“Lepaskan tanganmu darinya.” Hayi terpaku ketika mendengar suara lelaki yang tak asing lagi ditelinganya.

Hayi tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya ketika ia melihat Hanbin kini berada tepat dihadapannya, membopong tubuhnya dan membawanya ke ruang pengobatan. Hanbin berjalan melewati Sehun tanpa memandangnaya sedikitpun, seakan ia adalah sebuah benda yang tidak terlihat. Sehun menatap Hanbin dengan tajam, kedua tangannya mengepal menahan emosi.

“Turunkan aku!” Teriak Hayi pada Hanbin.

“Tidak.”

“Kim Hanbin!”

Hanbin menahan nafasnya, kini ia menatap Hayi lekat-lekat, rasa frustrasi terlihat begitu jelas dalam raut wajahnya. Hanbin terlihat sangat kacau.

“Tak bisakah kau berhenti membuatku cemas?”

Hayi menundukkan kepalanya dengan lesu, melihat Hanbin yang terlihat begitu frustasi tentu membuat hatinya menjadi sakit, bukan maksud Hayi untuk membuat Hanbin selalu merasa cemas. Tapi, satu hal yang membuat Hayi selalu bertanya-tanya mengapa Hanbin selalu berusaha untuk menyelamatkannya?

* * *

Hanbin membuka pintu ruangan pengobatan, ruangan ini terlihat begitu sepi tidak ada satu orang pun yang berada disana maupun dokter yang berjaga. Hanbin memasuki ruang pengobatan dan meletakan Hayi secara perlahan di sebuah tempat tidur yang terletak di sudut ruangan.

Hanbin merunduk dan berlutut di hadapan Hayi, matanya mengamati luka yang ada dilutut Hayi. Diambilnya sebaskom air hangat, handuk, alkohol untuk membersihkan luka dan juga perban untuk menutupi lukanya. Hanbin kini kembali berlutut dihadapan Hayi dan meletakan kaki Hayi diatas pahanya. Melalui sudut matanya, Hayi bisa melihat Hanbin yang akan membersihkan lukanya terlebih dahulu dengan handuk hangat.

“Berikan padaku, aku akan mengobatinya sendiri. Kau lebih baik kembali.” Ucap Hayi dengan datar, ia berusaha untuk merebut handuk yang ada ditangan Hanbin, namun Hanbin menahan dengan mengenggam pergelangan tangannya.

“Duduk dan diamlah, kau mau lukamu infeksi?” Hanbin membalas ucapan Hayi dengan nada yang bicara yang ketus. Kini, Hanbin kembali mengobati luka yang ada di lutut Hayi. Ia membuang beberapa serpihan kecil dari kaca-kaca yang menancap di lututnya, Hayi meringis menahan sakit ketika Hanbin membuang serpihan kaca tersebut.

Tidak lebih dari lima menit, Hanbin telah selesai membalut luka Hayi dengan perban. Rasa nyeri yang dirasakan oleh Hayi kini perlahan menghilang. Hayi tidak pernah melepaskan tatapannya dari Hanbin, hanya ada bayangan Hanbin didalam kedua bola matanya. Hanbin yang membuatnya gila dengan semua rahasia dalam hidupnya, tatapan mereka kini bertemu.

“Sudah selesai, aku akan kembali ke kelas.” Ucap Hanbin datar, ia berdiri dan bersiap untuk melangkah keluar ruangan.

“Berhenti.” Hayi menarik lengan Hanbin untuk menghentikan langkahnya. Hanbin memutar tubuhnya, matanya menatap Hayi tepat dimatanya.

“Katakan padaku, apa kau menjauhiku?” Tanya Hayi pada Hanbin, matanya tidak pernah melepaskan pandangannya dari Hanbin.

“Tidak.”

Pembohong…

Hanbin menatap Hayi dengan tajam, tubuhnya menjadi tegang ketika ia mendengar suara pikiran Hayi dalam pikirannya. Hayi tahu dengan jelas bahwa Hanbin sedang menjauhinya dan alasan dibalik itu semua-lah yang ingin Hayi ketahui.

“Lalu, mengapa kau begitu peduli padaku?”

“Apa itu hal yang penting untukmu?” Tanya Hanbin dengan tatapan matanya yang tajam.

“Iya, hal itu penting bagiku.”

“Tapi tidak penting bagiku.” Ucap Hanbin datar, kini ia telah bersiap untuk mengambil langkah keluar. Tapi, Hayi lagi-lagi membuatnya menghentikan langkah.

“Berhentilah untuk membuatku terlihat seperti orang yang bodoh, jika aku memang tak penting bagimu berhentilah untuk menolongku, berhentilah untuk membantuku, berhentilah untuk berlari kearahku, kau membuatku merasa sulit!”

“Lee Hayi…” Hanbin memanggil nama Hayi dengan lirih, ia tidak akan pernah bisa melihat Hayi yang bersedih karena dirinya. Hanbin sangat membenci dirinya yang tidak bisa mengatakan yang sesungguhnya pada Hayi. Perlahan-lahan, Hanbin meraih kedua lengan Hayi, tubuhnya bergetar ketika jari-jemarinya bersentuhan langsung dengan Hayi. Hanbin hanya ingin mendekap Hayi didalam peluknya.

Kim Hanbin hentikan, kau membuatku begitu sulit… hentikan, karena aku mulai mencintaimu.

Hanbin terdiam sesaat setelah ia mendengar pikiran Hayi padanya, rasa sakit terasa menusuk dadanya. Matanya menatap Hayi dengan pandangan bingung, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, wanita yang selalu dicintainya, reinkarnasi wanita yang dicintainya, yang saat ini berdiri dihadapannya kini merasakan hal yang sama dengan apa yang pernah dirasakannya 150 tahun yang lalu. Rasa cintanya yang begitu besar pada Hanbin, rasa cinta yang terkadang menimbulkan rasa ketakutan dalam diri Hanbin, takut akan kehilangan orang yang dicintainya untuk kedua kali.

“Katakan apa yang kau katakan tadi!” Teriak Hanbin membuat kaca-kaca jendela yang ada diruangan tersebut bergetar hebat. Namun, tidak ada rasa takut sedikit pun yang terlihat dari sorot mata Hayi pada Hanbin.

“Aku mencintaimu.” Jawab Hayi tanpa keraguan.

Hanbin menatap Hayi lekat-lekat, pandangan mereka saling beradu.

Kau tidak akan mengucapkan hal serupa jika kau tahu siapa aku yang sebenarnya. Ucap Hanbin melalui pikirannya, kedua mata Hayi terbelalak, mendengar isi pikiran Hanbin dalam pikirannya. Sekarang, sudah tidak ada lagi keraguan dalam dirinya bahwa Hanbin-lah, orang yang selama ini pikirannya tersambung dengannya.

“Tidak, aku yakin dengan perasaanku. Aku akan tetap mencintaimu.”

Tanpa pikir panjang Hanbin menarik lengan Hayi dan langsung membopongnya untuk naik ke atas punggungnya. Hanbin membawa Hayi keluar, melesat dengan cepat menyusuri anak tangga untuk menuju ke atap gedung sekolah. Tak butuh waktu lebih dari lima detik mereka sudah sampai di atap gedung sekolah, Hayi masih menatap Hanbin dengan pandangan tak percaya ketika Hanbin seakan berlari dengan sangat cepat, ia bahkan tak bisa melihat benda-benda disekelilingnya karena gerakan Hanbin yang teramat cepat seperti sedang teleportasi. Hanbin menurunkan Hayi dari punggungnya secara perlahan-lahan, Hanbin dan Hayi berdiri berhadap-hadapan, mata mereka saling menatap tajam satu sama lain.

“Perhatikan dan lihatlah.” Ucap Hanbin tajam. Seperti apa yang diminta Hanbin, Hayi tak pernah melepaskan pandangannya dari Hanbin, setiap langkah, setiap gerakan Hanbin tidak pernah luput dari pandangannya.

Hanbin membuka satu persatu kancing seragam sekolahnya dan melemparkan seragam sekolahnya pada Hayi, kini Hanbin telah bertelanjang dada, ia membalik tubuhnya membelakangi Hayi, dari punggungnya Hayi bisa menyaksikan secara perlahan-lahan dua buah sayap hitam yang muncul di punggungnya, bagaikan sebuah kuncup bunga yang perlahan akan bermekaran. Hanbin mengepakkan kedua sayap hitamnya, membuat sebagian dari bulu-bulu hitam halusnya berterbangan diudara. Hanbin kini membalik tubuhnya untuk menatap Hayi. Jantung Hayi mulai berdetak tak beraturan, melihat Hanbin yang terlihat berbeda. Hayi dapat melihat dengan jelas aura hitam yang mengelilingi sayap hitamnya. Bola matanya yang berwarna hitam kini telah berubah warna menjadi keemasan, mata emasnya yang kini menatap Hayi dengan tajam tidak membuat Hayi merasa takut sama sekali, sebaliknya hal tersebut malah membuat Hayi berdecak kagum. Hanbin terlihat sepuluh kali lebih tampan dengan wujudnya yang seperti sekarang ini.

“Apa kau takut hingga tak bisa berkata-kata?” Tanya Hanbin sinis.

“Tidak.” Hanbin dapat mendengar dengan jelas suara Hayi yang tidak menunjukkan rasa ketakutannya sama sekali.

“Baiklah, aku akan membuatmu menyesal hingga kau tidak akan berani lagi untuk melihat wajahku.”

Tiba-tiba saja langit berubah menjadi gelap secara drastis, Hayi dapat melihat kilatan petir di atas langit, namun anehnya gumpalan awan hitam tersebut membentuk suatu lingkaran hanya pada satu titik, tepat diatas Hanbin berdiri dibawahnya. Sebuah kilat menyambar tubuh Hanbin, Hayi berteriak histeris ketika kilat tersebut menyambar tubuh Hanbin. Namun, kilat tersebut tidak membuat Hanbin terluka, melainkan seperti membuatnya semakin kuat. Kini, aura merah dan hitam mengelilingi hampir sekujur tubuh Hanbin. Hayi menahan nafasnya ketika ia melihat sebuah benda yang terlihat tajam dan berkilauan, benda tersebut tiba-tiba saja keluar dari telapak tangan Hanbin. Hanbin menatap Hayi dengan tajam, ia melangkah maju perlahan-lahan kearah Hayi seraya mengacungkan benda tajam yang terlihat seperti pedang kearah Hayi.

Hanbin melesat maju kearah Hayi, hanya sedetik kini Hanbin sudah berdiri didepan Hayi, mengacungkan pedang yang berada digenggamannya tepat dipipinya. Hayi tidak bergeming, tidak ada rasa takut sedikit pun didalam dirinya, melihat Hanbin yang mungkin terlihat begitu menakutkan bagi sebagian orang. Tapi bagi Hayi, Hanbin tetaplah Hanbin, pria yang ia cintai. Pria yang selalu melindunginya, satu hal yang membuat Hayi mengenyahkan rasa takutnya pada Hanbin. Karena, keyakinannya pada Hanbin dengan segala kemungkinan yang ia dapat rasakan, bahwa Hanbin sangat mencintainya.

“Aku akan membunuhmu.” Ucap Hanbin yang terdengar seperti pembunuh berdarah dingin. Hayi masih tak bergeming, ia tidak pernah melepaskan pandangannya dari Hanbin.

Kau tidak akan bisa membunuhku.

“Hentikan omong kosongmu atau kau akan menyesal telah meremehkanku, Lee Hayi.”

Tanpa ragu, Hayi menyentuh pedang yang diacungkan Hanbin kepadanya dengan tangan kosong, darah mulai mengalir dari tangan Hayi namun ia tidak merasakan sama sekali rasa sakit pada telapak tangannya sama sekali. Tangannya memang terluka, namun hati Hayi lebih terluka dalam, hatinya lebih terasa sakit daripada luka ditangannya.

“Berhentilah berkata omong kosong, Kim Hanbin. Lihat aku dan bunuhlah aku jika kau mampu.” Kini Hayi mengarahkan pedang Hanbin tepat di jantungnya. Tubuh Hanbin mulai bergetar, matanya kini mulai menghindari tatapan tajam Hayi padanya.

“Berhentilah untuk berlari dari kenyataan apapun alasanmu, hadapilah kenyataan itu bersama denganku. Berhentilah untuk berpura-pura seakan kau tak peduli padaku. Aku tahu kau peduli padaku dan lebih dari itu bahwa kau juga mencintaiku…”

Perlahan-lahan benda tajam yang muncul pada telapak tangan Hanbin, kembali menghilang. Pandangan mata Hanbin yang tadi menatap Hayi dengan dingin, kini telah berganti. Dengan kedua tangannya yang bergetar hebat, Hayi meraih kedua lengan Hayi. Air mata terlihat mengalir dari mata emasnya. Hayi mulai terisak, tidak ada yang lebih diinginkannya dari cinta tulus Hanbin untuknya.

“Katakan… katakan kau mencintai..”

Belum selesai Hayi menyelesaikan perkataannya, Hanbin sudah menarik Hayi mendekat kepadanya, didekapnya tubuh mungilnya. Hayi terkejut ketika tubuhnya terasa seperti tersengat listrik, namun rasa sakit itu perlahan-lahan menghilang berganti dengan rasa manis yang memenuhi seisi lambungnya dan rasa lembut seperti kapas yang menggelitik bibir merahnya. Hanbin mencium Hayi dengan lembut. Rasa sakit dan menyesakkan yang tadi ia rasakan seakan sirna secara seketika, ciuman manis Hanbin penawar rasa sakit yang dirasakan oleh Hayi dan terlebih dari apapun itu, adalah rasa cinta Hanbin yang bisa Hayi rasakan dari lembut dan manisnya ciuman Hanbin untukknya.

Kau benar, Lee Hayi. Aku terlalu mencintaimu hingga aku tak mampu untuk membunuhmu…

Iklan

11 pemikiran pada “[IFI Freelance] Broken Wings (Chapter 6)

  1. ending chap iniiiii manis bangeeeet…… hanhi bahagialaaah, tapi ada typo thor yang “Dengan kedua tangannya yang bergetar hebat, Hayi meraih kedua lengan Hayi.” ini tu hanbin atau hayi yg ngeraih tangan??? next chap next chap next chap

    Suka

  2. senyum senyum sendiri pas baca ending partnya Kkk~ hayihanbin.. feelnya asli dapet banget 🙂 hanbin.. please jangan menjauh dari hayi.. perjuangkan cinta suci kalian!!! /ehem. bahasanya dalem kkk~/ next chapter.. always aku tunggu.. semangat chingu-ya.. 🙂

    Suka

  3. Aaaaa demi apapun suka banget sama chap ini>3<
    Tapi ada typo sedikit itu thor wkwk.
    Chap 7 harus kaya gini juga ya jangan ada sedih-sedihannya/?
    Haha ga deh, terserah author aja mau gimana bikinnya._.
    Yg jelas aku suka sama chap iniiiii
    Semangat lanjutin chap 7nya thor!!💪

    Suka

  4. Sesekali teringat Daniel dan Lucy., tapi mereka malaikat dan manusia #abaikan

    Senang sekali rasanya membaca FF ini, i want next chapter! juseo., 🙂
    Tolong buat kisah yunhyeong dan kisah bobby ada lagi.. aku penasaran..
    Dan tentu saja Sehun!!!
    Daebak! Gara-gara ni ff aku jd lirik-lirik Sehun… #maafinakubangjididedekbobby

    Suka

  5. Ping balik: [Chapter 7] Broken Wings | iKON Fanfiction Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s