[IFI Freelance] Guardian Squad (Chapter 3)

guardian swuad

Title : Guardian Squad

Author : Fai Lee

Main Cast : LeeHi as Lee Hayi; iKON’s B.I. as Choi Hanbin; AKMU’s Suhyun as Lee Suhyun; iKON’s Bobby as Kim Bobby; iKON’s member; find in the story~

Genre : Friendship; Action; Romance

Rating : G T

Length: Chaptered

Summary : Misi rahasia Hanbin untuk menjaga Lee Hayi membuat ia masuk dalam Kingdom Akademi, sekolah pre debut para idol. Ia bertemu dengan banyak orang mencurigakan yang akan mengincar Hayi. Bahkan teman sekamarnya sendiri, Bobby, juga teman dekat Hayi, Suhyun, adalah dua orang yang paling patut dicurigai. Belum lagi yang lain, membuat Hanbin makin sadar bahwa misi menjaga Hayi bukanlah misi sederhana.

Disclaimer : Cast milik Tuhan, Fanfiction milik imajinasi saya

Uname Twitter : @yourkidlee

Part 3: Roommate

Suhyun melempar tas besarnya ke atas tempat tidur bersprai baby pink di kamar mungil itu. Kamar ini hanya berukuran 3×4 meter dengan ranjang tingkat dan dua lemari baju serta dua meja belajar. Suhyun mencibir. Ia tadi sempat mengintip kamar lainnya berukuran lebih luas, walau sepertinya untuk tiga atau empat orang. Tapi itu lebih baik daripada kamar ‘buangan’ ini.

Suhyun memundurkan diri, memandangi rajang dua tingkat itu. Ia melipat kedua tangan di depan dada sambil mengusap-usap dagunya. Berpikir memilih tidur dimana karena ia yang pertama masuk ke kamar ini, jadi ia bisa menentukan tempat terbaik untuknya.

KREK

Suhyun tersentak, tapi melengos dalam hati karena gagal menentukan tempat. Gadis itu mengatur wajah agar ekspresi cerianya terlihat sempurna untuk teman barunya itu.

“Bisakah kau menggeser koper ini?” suara serak yang jutek itu langsung melenturkan senyum Suhyun yang baru saja terlukis.

Gadis bepipi bulat penuh itu membalikkan tubuh menghadap penghuni baru kamarnya. Nafasnya tertahan seketika, hampir saja ia menjerit sangking kagetnya.

‘Lee Hayi…’

Hayi mendecak, menatap Suhyun tak suka apalagi dengan ekspresi melongo itu. “Apa kau tak dengar? Ko-per-mu,” ulang Hayi menegaskan nadanya membuat Suhyun segera tersadar.

Suhyun agak menipiskan bibir, lalu segera meraih koper yang tergeletak di depan pintu dan menariknya menjauh.

Hayi memutar mata tak acuh, kemudian melangkah memasuki kamar itu. Tanpa babibu lagi ia menyandarkan koper ke depan salah satu lemari dan segera memanjat naik ke ranjang atas membuat bibir Suhyun terbuka dengan wajah melongo.

“Namaku Lee Hayi, jadi jangan pernah memanggilku dengan nama lain apalagi hanya sekedar ‘Yha!’ ‘Hei!’ ataupun ‘Kau!’. Dan jika ada pertanyaan atau bantuan aku tidak menerimanya karena ini bukan bidang informasi,” ucap Hayi panjang lebar dengan datar sambil menelentangkan tubuh di atas tempat tidur. Masih lelah karena tadi berlari bersama Hanbin.

Suhyun menghela nafas keras, tak terima. Ia mendekat pada ranjang tingkat itu, kedua tangannya memegang salah satu tiang.

“HEEEIII!!!” jerit Hayi terkejut kaget ketika tempat tidurnya bergetar heboh tiba-tiba. Ia segera bangkit melihat Suhyun yang melakukan itu. “APA YANG KAU-KYAAAAAA!” Hayi memegangi ujung ranjang dengan wajah panik. “HENTIKAN! INI RANJANG KAYU, BODOH! KYAAAAA!”

Suhyun menghentikan aksinya melihat wajah jutek itu sudah pucat. Ia lalu menyipitkan matanya yang memang sudah kecil ke arah Hayi.

“Turun,” ucap Suhyun dingin namun tegas.

Hayi meneguk ludah. Entah mengapa hatinya bergetar takut melihat wajah imut itu seperti marah. Hayi menggigit bibir sejenak, lalu dengan perlahan turun ke bawah ranjang. Ia berdiri di depan Suhyun, yang lebih tinggi beberapa senti darinya.

“Siapa kau?” tanya Suhyun dingin tak bersahabat, mengikuti cara Hayi.

Hayi mengernyit, “Lee Hayi. Bukankah sudah ku katakan?” tanyanya dengan nada dingin walau mencoba menutupi rasa gentarnya.

“Namaku Lee Suhyun. Tolong lakukan dengan benar,” ucap Suhyun tegas membuat Hayi agak menipiskan bibir. “Kalau kau memberikanku setangkai mawar ku balas dengan taman bunga. Tapi kalau kau memberikanku duri ku balas kau dengan samurai. Mengerti?”

Hayi agak memajukan bibir bawah dan mengalihkan pandangan, merasa kikuk.

Suhyun menghela nafas keras. Ia memundurkan diri beberapa langkah, lalu menjulurkan tangannya ke depan Hayi.

“Mulai lagi dari awal,” kata Suhyun mengajari. “Namaku Lee Suhyun. Dan kau?” Suara tegas itu berubah menjadi ceria dengan senyum manis dalam sedetik, membuat Hayi agak mendelik kecil.

Hayi diam sejenak, lalu dengan perlahan membalas uluran itu dan menggenggam jemari Suhyun. “Lee Hayi,” jawabnya malas-malasan.

“Senang berkenalan denganmu,” kata Suhyun ceria, lalu memajukan wajah sedikit seakan menunggu Hayi membalas sambil tak melepas genggamannya.

Hayi memainkan bibir sejenak, mengerti. “Aku juga. Senang berkenalan denganmu.”

“Semoga kita jadi teman sekamar yang kompak!” kata Suhyun dengan nada mengajari, memberi tanda Hayi harus mengikutinya.

“Hn. Semoga kita jadi teman sekamar yang kompak,” ucap Hayi tak sesemangat Suhyun.

“Hm, baiklah,” Suhyun melepaskan genggaman tangannya, mulai merasa puas. “Aku tak melihatmu di aula tadi. Kau darimana?” tanya Suhyun mulai mencairkan suasana sambil mengambil tempat duduk di ranjangnya.

“Aku terlambat,” jawab Hayi masih seperti segan menjawabnya.

Suhyun menatap Hayi lama. Ia lalu menghela nafas sambil beranjak berdiri. “Istirahatlah. Aku juga tak bisa memaksa orang lain menjadi bukan dirinya sendiri,” kata Suhyun menyindir halus membuat Hayi mengangkat alis. Suhyun mendesah pelan, lalu melangkah dan keluar dari kamar.

Meninggalkan Hayi sendiri di kamar. Hayi menggigit bibir, ada yang berdesir tak nyaman di dadanya.

“Kau pasti tak pernah punya teman ya?”

Hayi tersentak sendiri. Kalimat itu tiba-tiba muncul di benaknya. Membuat tohokkan keras di dada sebelah kirinya.

Ah, kenapa ini. Padahal selama dua puluh tahun hidup, Hayi tak merasa apapun walau tak memiliki teman. Tapi kenapa hari ini ia merasa berbeda. Gadis itu merasa kesepian.

***

Bobby mengernyit, menatap Suhyun yang duduk di depannya dengan wajah bertekuk. Suhyun tadi memanggil Bobby yang baru saja mengemasi barangnya di kamar barunya. Bobby segera bergegas menuju kafetaria, berada di sudut bangunan sekolah. Kafetaria besar itu terdiri di dalam ruangan dan luar ruangan yang merupakan taman dengan pohon-pohon besar menyejukkan. Suhyun memesan segelas Latte Ice sambil mengaduk-aduknya sebal dan ekspresi keruh sedari tadi, tak bicara.

“Wajah apa itu?” Bobby akhirnya tak tahan dan bertanya.

Membuat Suhyun mengangkat wajah, lalu mendengus sebal. “Aku sekamar dengan Lee Hayi,” ucapnya pelan membuat Bobby langsung terkejut. Suhyun memajukan bibir bawah, merasa itu bukan kabar bagus. Berbeda dengan Bobby yang justru merekah mendengarnya.

“Aish,” Suhyun memukulkan sedotan ke salah satu es batu tak bersalah di dalam gelas tinggi itu. Membuat Bobby terkejut dan termundur refleks. Suhyun memandang Bobby. Wajahnya geram menahan emosi. “Aku ingin pulang!”

Bobby melotot kaget. Ia segera berdiri dari tempat duduknya dan merapat ke samping Suhyun. Berbisik pelan dengan wajah serius.

“Apa yang kau katakan? Ini langkah bagus, Suhyun!” ucap Bobby tak mempercayai ucapan gadis itu.

“Ish, Oppa! Yang benar saja. Aku akan sekamar hanya berdua dengannya! Dan dia itu benar-benar sama seperti yang kita dengar! Bahkan lebih buruk. Kau tahu sendirikan aku tak pernah suka dengan orang-orang dingin begitu,” keluh Suhyun panjang lebar sambil memajukan bibir. “Aku ingin pulang dan bertukar dengan Chanhyuk Oppa!”

“Aih bocah ini!” Bobby menjitak kening Suhyun membuat gadis itu agak mencicit kecil mengaduh. “Apa saja sih yang kau lakukan di organisasi hingga membuat nyalimu ciut begini? Apa kau dididik untuk menyerah dan takut?”

“Oppa…”

“Dengar,” potong Bobby tegas sebelum rengekkan Suhyun berlanjut. “Aku mengerti jika ini sulit. Tapi kita memang ditakdirkan begini, Suhyun. Hati dan perasaan itu adalah nomor sekian. Misi adalah prioritas kita. Mungkin kau kesal padanya. Tapi ini adalah langkah baik untuk kita. Tahanlah perasaanmu dan tetap fokus pada misi!” kata Bobby menyemangati sambil berbisik pelan, tak ingin ada yang mendengar ucapan itu. “Kau bahkan tak perlu mengeluarkan tenagamu. Apa begini saja kau mengeluh?”

Suhyun terdiam. Ia menggigit bibir sejenak, lalu mendesah dan memilih meminum Lattenya. Bobby menatap itu sambil mendecak kecil.

“Anak kecil sepertimu memang harusnya tak ikut seperti ini,” kata Bobby mengejek membuat Suhyun mendelik dan menoleh sebal. Bobby menatap Suhyun serius, “Berjuanglah. Buktikan pada kami semua kalau kau bisa melakukannya.”

Suhyun terdiam. Teringat lagi alasan kenapa ia bisa ada di sini. Luka besar itu kembali terkoyak, membuat tulangnya sedikit menggigil mengingatnya. Alasan kenapa ia masuk dalam organisasi rahasia di usia yang sangat muda. Dan ini adalah misi yang berada di tingkat atas organisasi. Membuat tangan gadis itu terkepal. Tapi lalu dengan tegas ia mengangguk dua kali pada Bobby, menyanggupi.

***

Hanbin menoleh ketika pintu kamar dibuka. Pemuda bermata kecil dengan gigi kelincinya itu masuk ke dalam sambil menghela nafas, seperti lelah.

“Darimana kau?” tanya Hanbin pada teman sekamarnya itu. Tadi ketika mereka ingin mengemasi barang pemuda itu dengan terburu keluar dari kamar setelah membaca pesan masuk di handphonenya. Tapi tadi saat keluar memberi perlengkapan mandi di toko dekat kafetaria, Hanbin melihat pemuda itu duduk di taman luar kafetaria bersama seorang gadis dengan sangat dekat.

Bukannya menjawab, pemuda itu justru melempar diri di atas ranjang di sudut ruangan.

“Apa kau bertengkar dengan pacarmu?”

Pemuda itu segera duduk tegak dengan cepat. Kemudian mendelik, seperti meminta penjelasan maksud pertanyaan Hanbin.

“Aku melihat kau di taman,” jelas Hanbin menjawab pertanyaan tak terlontar itu.

“Ahhh…” pemuda itu mendesah mengerti. “Dia teman dekatku, sudah seperti adikku sendiri. Namanya Lee Suhyun.”

“Apakah dia juga dari Amerika?” tanya Hanbin karena ketika berkenalan pemuda itu mengaku dari Virginia, Amerika Serikat.

“Ah tidak. Aku lahir di Amerika dan beberapa kali ke Korea karena keluargaku disini. Dia temanku saat kecil. Kakaknya adalah temanku. Jadi sebenarnya kau harus memanggilku Hyung.”

“Bobby Hyung?” Hanbin menaikkan sebelah alis, lalu mendengus. “Kau bahkan sama sekali tak pantas dipanggil Hyung.”

Pemuda bergigi kelinci itu mendesis kesal sambil melemparkan bantal ke arah Hanbin yang membuat pemuda itu segera menghindar. Tapi justru bantal tersebut terlempar ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka. Membuatnya mendarat mulus di wajah tampan seorang pemuda jangkung berkacamata yang baru saja datang.

Bobby dan Hanbin terkejut setengah mati. Bobby segera meloncat bangkit dan berdiri di samping Hanbin yang membuka mulut lebar melihat lemparan Bobby tepat mengenai orang yang sepertinya menjadi teman sekamar mereka mengingat masih ada satu tempat tidur yang kosong.

“Ah, maaf, maaf. Aku tak sengaja,” kata Bobby segera memohon maaf dan membungkuk berkali-kali.

Pemuda itu membenarkan letak kacamatanya yang sempat jatuh di ujung hidung bangirnya. Ia kemudian mengerjap dan menatap Bobby dengan alis berkerut. Namun kemudian meringis. “Tidak apa-apa. Aku hanya cukup terkejut,” ucapnya dengan kaku.

Bobby mengangkat alis, kemudian saling pandang dengan Hanbin. Tapi detik berikutnya Bobby tertawa meringis memperlihatkan dua gigi depannya dan mendekat.

“Namaku Kim Bobby, dari Virginia. Salam kenal,” ucap Bobby menjulurkan tangan.

Pemuda itu membalas uluran Bobby dan tersenyum kikuk. “Aku Chanwoo. Sa-salam kenal,” balasnya canggung. Ia lalu menoleh pada Hanbin yang memandanginya sedari tadi.

Hanbin tersenyum miring sedikit, “Aku Choi Hanbin,” ucapnya singkat sambil mengangkat telapak tangan sesaat.

Chanwoo terdiam. Raut wajahnya berubah. Namun tak lama ia tersenyum tipis dan mengangguk kecil. “Eung… Dimana tempat tidur kosong?” tanyanya masih kikuk.

“Bobby memilih ranjang itu, dan aku tempat tidur di bawah. Jadi kau bisa di atasku. Bagaimana?” kata Hanbin sambil menunjuk tempat tidur bertingkat yang di sampingnya juga ada tempat tidur single.

“Ah, baiklah,” ucap Chanwoo menurut. Ia membenarkan letak ransel besarnya dan melangkah mendekati tempat tidur itu.

Hanbin terus memandanginya ketika Chanwoo melewatinya. Chanwoo agak melirik, kemudian menunduk dan memanjat naik ke atas tempat tidur. Hanbin mengernyit.

Ekspresi anak itu… Aneh.

***

“Oppaaaaa!!!!”

Bobby yang baru saja menuruni tangga dari asrama pria terkejut mendengar teriakkan melengking itu. Ia menggeram sejenak sebelum menoleh. Mendapati seorang gadis berambut panjang dengan pipi bulat penuhnya melambai riang dari bawah.

Bobby mencibir dan segera menuruni tangga. Ia lalu memukul kepala gadis itu yang masih tersenyum riang membuatnya terkejut dan bersungut.

“Lee Suhyun! Tidak bisakah kau hentikan memakai nada falsetmu itu!” omel Bobby sebal juga malu.

“Falset?” Suhyun mendelik.

“Ya. Nada tinggi,” kata Bobby dengan wajah sok pintarnya.

Suhyun makin mendelik, lalu menyemburkan tawa membuat Bobby mengernyit. Suhyun mendekat dan berbisik, “Oppa, lain kali belajarlah lebih giat. Kau benar-benar terlihat bodoh dalam musik, tahu!”

Bobby agak membelalak, tapi lalu meringis, memperlihatkan dua gigi depannya yang besar. Suhyun mendesis, tapi lalu mulai melangkah diikuti Bobby di sampingnya.

“Apa kakakmu sedang senggang?” tanya Bobby tiba-tiba membuat Suhyun menoleh dengan kening berkerut, agak heran.

“Mungkin,” jawab Suhyun mengangkat kedua bahu.

“Segera hubungi dia,” kata Bobby memelankan suara di koridor ramai itu membuat Suhyun mengernyit kembali.

Bobby melingkarkan lengan di pundak Suhyun dan menarik gadis itu merapat padanya. Suhyun makin mengernyit, tapi makin ingin tahu sambil melangkah pelan menyusuri koridor. Ia juga menajamkan telinga. Nalurinya menajam.

Bobby berbisik, tepat di samping telinga Suhyun.

“Beri tahu Chanhyuk untuk menyelidiki tentang Choi Hanbin.”

-TBC

Iklan

29 pemikiran pada “[IFI Freelance] Guardian Squad (Chapter 3)

  1. Aaaaah bobby-suhyun sepertinya di pihak lawan. Chanwoo yang mencurigakan, kenapa dia lihat hanbin kayak gitu?? Makin menarik aja ceritanya. Oh iya kalo bisa interaksi hanbin-hayi diperbanyak ya hehehe. Lucu kali ya kalo hanbin dan hayi berteman secara sembunyi-sembunyi 🙂

    Suka

  2. Chanwoo dipihak lawan atau kawan .. ???
    Kyaaa ~~~
    Banyak in bagian hanya ma han bin ya thor ..
    Semangat buat ngelanjutin next chapter …
    Jangan lama lama ya thor .. ^.^

    Suka

  3. Ping balik: [Chapter 7] Guardian Squad | iKON Fanfiction Indonesia

  4. Ping balik: [Chapter 8] Guardian Squad | iKON Fanfiction Indonesia

  5. Ping balik: [Chapter 9] Guardian Squad | iKON Fanfiction Indonesia

  6. Ping balik: [Chapter 10] Guardian Squad | iKON Fanfiction Indonesia

  7. Ping balik: [Chapter 11] Guardian Squad | iKON Fanfiction Indonesia

  8. Ping balik: [Chapter 12] Guardian Squad | iKON Fanfiction Indonesia

  9. Ping balik: [Chapter 13] Guardian Squad | iKON Fanfiction Indonesia

  10. Ping balik: [Chapter 14] Guardian Squad – iKON Fanfiction Indonesia

  11. Ping balik: [Chapter 15] Guardian Squad – iKON Fanfiction Indonesia

  12. Ping balik: [Chapter 15B] Guardian Squad – iKON Fanfiction Indonesia

  13. Hayi ini emang orangnya sedikit menyebalkan yaa..

    Hayi-Suhyun kok jodoh gitu.. Mereka sekamar, bobby-Hanbin juga.. Tpi apa mereka di pihak lawan, jadi Hayi dalam bahaya dong?!

    Chanwoo juga, sedikit mencurigakan, hmm.. Seru critanya

    Suka

  14. Sepertinya bobby jadi pihak musuh dan juga suhyun , untuk chanwoo karan baru muncul jadi enggaj bisa nebak bagian musuh atau kawan, tp kalo banyak lawan masak hanbin sendiri??? Masih penasaran dg kelanjutannya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s