[Vignette] My Idiot… Boy?

my-idiot-boy

Story by Natinkris | Title My Idiot… Boy?

Cast Kim Hanbin, Hayi| Genre Romance, Comedy

Rating G | Length Vignette

Kim Hanbin adalah pacarku. Kim Hanbin adalah…

Pacarku?

Itu lah yang pertama kali terlintas di kepala Hayi setiap kali orang-orang bertanya siapa laki-laki yang ada di sebelahnya. Entah sejak kapan definisi Hanbin bisa begitu intim baginya.

Pacar?

Ia bahkan hanya pernah memiliki dua mantan pacar selama hidupnya dan mereka sangat… Keren. Apa itu artinya Kim Hanbin tidak keren? Entahlah, Hayi juga tidak tahu, yang pasti kalau di bandingkan dengan dua mantan kerennya, mungkin Kim Hanbin akan jadi sedikit-tidak-keren.

Pertama, mari kita bandingkan Hanbin dengan cowok super keren yang merupakan kapten basket dan idola semua murid SMA. Tidak ada satu orang pun yang tidak suka dengan cowok bernama Kim Jiwon bahkan Kim Hanbin pun menyukainya. Hanbin bahkan sempat ikut mengumpat ketika Hayi memutuskan hubungannya dengan cowok ini (Hanbin adalah fans nomor satu Jiwon).

“Dia terlalu popular untuk ku.”

Jadi… Hanbin?

Hampir semua orang yang mendengar jawaban Hayi mulai menganggapnya gila, tidak terkecuali Kim Hanbin, pacarnya. Hanbin bahkan pernah mengusulkan pada Hayi untuk kembali pada Jiwon, sedikit berlebihan memang, tapi itulah yang terjadi.

Ini cukup aneh dimana biasanya wanita menginginkan cowok yang lebih keren, lebih tampan, dan lebih terkenal di bandingkan diri mereka sendiri. Tapi, ketika Hayi dengan santainya mengatakan pada semua orang Hanbin adalah pacarnya, nampaknya anggapan itu tampak sangat-sedikit-salah.

Yang kedua, Kim Jinhwan. Si rumus berjalan, si pemenang lomba olimpiade internasional, si presiden kelas selama bertahun-tahun, dan si-si-si keren yang lain. Tapi semua si-si-si keren itu tiba-tiba terasa hambar, ketika Hayi dengan santai mengatakan…

“Orang pintar bukanlah tipe ku.”

Errr.. Jadi… Hanbin?

Sekali lagi ku katakan, Hayi adalah orang gila.

Karena Hayi gila, maka ia bebas menyukai Kim Hanbin yang tidak popular. Karena Hayi gila, ia Bisa mencintai Kim Hanbin yang tidak pintar dan karena Hayi gila ia…

“Aku akan menunggu sampai jarum panjang di arloji mu menunjuk angka dua belas.”

Mata bulatnya terus memandang ke arah yang sama sejak satu setengah jam dan sebelas detik yang lalu, tapi karena Hayi gila, ia harus rela menunggu Kim Hanbin sendirian di taman saat hari jadi mereka yang ke 600.

Oke, Hayi kesal dan marah. Tapi karena dia gila…

“Cepat-ke-sini-sekarang-atau-aku-akan-ke-rumah-mu-dan-membakar-semua-boxer-micky –mouse-mu!”

Well, itu ancaman yang biasanya sangat ampuh.

Hayi menghempaskan tubuhnya di bangku taman, ketika satu jam tiga puluh menit dan seribu delapan ratus detik waktu berlalu tapi Hanbin belum juga muncul dengan hidung besarnya. Butir-butir air mata pun sudah mulai turun dari pipi nya yang memerah. Tapi karena Hayi gila, ia harus kembali duduk dan menunggu.

Hayi benci menunggu, andai p-a-c-a-r-t-e-r-s-a-y-a-n-g-n-y-a tahu fakta yang satu itu.

Ia benci harus duduk di taman sendiriaan dengan membawa kado besar berwarna merah jambu dan air mata berguguran.

Ia benci dengan nyamuk yang menggigitnya tanpa henti.

Ia benci dengan sinar matahari yang bersinar terlalu terik dan menyilaukan.

Ia benci dengan pasangan yang tertangkap berciuman di hadapannya (Hanbin tidak pernah menciumnya).

Ia benci dengan perasaan bencinya.

Ia benci… Kim Hanbin.

Jadi intinya, Lee Hayi sangat membenci Kim Hanbin. Tapi kalau di suruh memilih apa yang paling ia benci dari Kim Hanbin, jawabannya adalah…

Ia benci Kim Hanbin yang tidak romantis.

Saat itu cuaca sangat tidak bersahabat, ia baru satu minggu putus dari Jinhwan dan hujan deras terus mengguyur tanpa henti, teman-temannya mengatakan bahwa cuaca buruk itu sangat menggambarkan perasaanya.

Hell no!

Tidak, Hayi tidak sedih ketika putus dengan Jinhwan si rumus berjalan, ia hanya sedih karena tidak ada lagi pintu mobil yang di buka ketika pulang sekolah untuk melindungi dirinya dari hujan.

Dan di situlah si tolol Kim Hanbin datang, membawa payung.

Hanbin berdiri di sebelah Hayi dengan payung yang masih tertutup, lelaki itu menatap awan hitam (yang mengeluarkan curah hujan yang begitu deras) dengan bibir tersenyum.

Dia pasti sangat suka hujan? Pikir Hayi.

Akan jadi sangat romantis jika di momen itu Hanbin memberikan payungnya untuk Hayi-seorang-gadis-yang-berdiri-sendirian-di-teras-sekolah-dan-di-tengah-hujan.

“Kau tidak pulang? Ah, pasti karena hujannya.”

“Kalau begitu kau pakailah ini.”

Tepat di tanggal tiga puluh satu bulan November, di hari jadi mereka yang ke 100, Hayi bertanya pada Hanbin yang sedang tersedak pai apelnya…

“Kenapa kau malah memberikan jaketmu, bukan payung?”

Hanbin meminum jus jeruknya, dan batuk beberapa kali “Itu karena aku tidak suka basah. Lagi pula jaket itu sudah sangat tua, dan aku berencana membuangnya setelah pulang.” Lalu melanjutkan melahap pai apel nya, lelaki ini bahkan mulai memakan pai milik Hayi yang berhenti ia sentuh karena kehilangan nafsu makan tiba-tiba.

Ia pikir Hanbin akan mengatakan hal seperti “Karena aku tidak ingin kau kedinginan, jadi aku meminjamkannya.” Atau “Aku rasa jaket bisa menghangatkanmu.” Atau beberapa kalimat romantis lainnya. Tapi ayolah, ini adalah Kim Hanbin, seseorang yang bahkan tidak pernah mengatakan I love you kepadamu.

Aku harus membuang jaketnya setelah ini, gumannya kesal.

Ia benci Kim Hanbin yang tidak peka.

Hari itu tanggal dua puluh tiga di bulan September. Semua orang tahu hari apa tepatnya itu, bahkan Jiwon dan Jinhwan memberinya ucapan selamat tepat pukul dua belas tengah malam. Beberapa teman bahkan orang tak di kenal pun memberinya ucapan baik di pesan teks atau media sosialnya, tapi Hanbin…

“Kau tidak merasa melupakan sesuatu?”

Hayi melupakan rasa marahnya di tengah malam tanggal dua puluh tiga bulan september, ketika di siang hari tanggal dua puluh empat ia duduk di kantin sekolah berhadapan dengan Hanbin yang mulutnya penuh dengan nasi dan kedua tangannya masing-masing memegang irisan daging babi asam manis dengan sumpit dan menyendok sup rumput laut dengan tangan yang lain.

Hanbin mengangkat wajah bulat penuh nasinya.

“Apa aku melupakan sesuatu?” Tanyanya tidak jelas dan tanpa sadar mengeluarkan satu butir nasi dari mulutnya yang penuh.

Itu cukup menjijikkan, oke?

Dan Hayi berusaha menganggap dirinya tidak melihat.

“Kau tidak ingat?”

Tentu saja Hanbin tidak ingat itu hari ulang tahun Hayi, siapa juga yang mau mengingat tanggal lahir orang lain di saat ia kadang lupa tanggal lahirnya sendiri.

“Apa?”

Tapi orang lain itu… Hayi… pacarnya.

“Tanggal dua puluh tiga, kau tidak ingat?”

“…”

Dan Hayi menyerah.

Sampai sekarang, Hayi tidak pernah mengatakannya pada Hanbin. Dan ia juga baru tahu baru-baru ini, kalau lelaki itu benar-benar tidak tahu tanggal lahirnya. Pftt.

Ia benci Kim Hanbin yang jorok.

Jauh di bulan Februari tanggal lima belas, matahari seolah mendapatkan kembali kekuatannya setelah dua bulan yang lalu harus tertutup kabut. Sinar matahari begitu terik di pagi hari minggu itu, walau udaranya sangat dingin.

Aroma waffle menyeruak di seluruh ruangan sebuah restoran kecil di pinggiran kota, di situlah Hayi duduk dengan merapatkan mantel biru muda favoritnya dan segelas teh hijau di hadapannya yang hanya ia gunakan untuk menghangatkan tangannya yang mulai beku.

Hayi benci musim dingin, seandainya p-a-c-a-r-t-e-r-s-a-y-a-n-g-n-y-a tahu.

Setelah sepuluh menit yang terasa sepuluh tahun bagi Hayi, lelaki yang di tunggunya datang. Saat itu Hanbin terlihat berkeringat, hanya memakai kaos oblong dan celana training dan… sandal jepit dan…

“Maaf, aku terlambat. Aku tidur terlalu malam dan bangun kesiangan, jadi aku berlari kesini tapi—” Dengan menghembuskan napasnya yang naik turun, Hanbin mengambil tempat di hadapan Hayi yang sangat rapi dan sangat cantik dan sangat rapi dan sangat cantik dan sangat rapi dan… Hanbin yang…

Dari ujung kepala sampai ujung kaki, Hayi menelitinya dengan seksama, ia bahkan melihat ada kotoran di mata sebelah kiri Hanbin (oh God!).

“Kau tidak mencuci muka?” Potong Hayi yang bahkan tidak mendengar perkataan Hanbin sebelumnya.

Banyak hal yang ingin Hayi tanyakan, tapi semua pertanyaan seolah melebur ketika pemandangan Hanbin yang begitu abstrak muncul di hadapannya.

“Aku—tidak, hey bagaimana kau tahu?” Tanya Hanbin berbinar, seolah Hayi memiliki satu kekuatan magis yang bisa melihat seseorang sudah mencuci muka atau belum (ini kekuatan yang sungguh tidak penting).

Sekali lihat pun orang bisa menebak rutuk Hayi dalam hati, ia bahkan tidak yakin Hanbin menggosok giginya. Euhhh itu sangat jorok.

“Ada kotoran di matamu.” Hayi terpaksa mengatakannya, ia tahu itu sangat tidak sopan ketika mengatakan ada kotoran di mata orang lain, tapi pemandangan itu sangat.tidak.nyaman.untuk.di.lihat.

“Benarkah?” Hanbin tersenyum, mengarahkan jari telunjuknya ke ujung matanya.

“Bukan di situ, di mata satunya.”

Hayi benci Hanbin yang tolol, Hanbin yang tidak menggosok giginya, Hanbin yang akan memakan Kimbab tiga potong sekaligus lalu tersedak, Hanbin yang memakai pakaian biasa saat kencan, Hanbin yang mencontek peernya, Hanbin yang mendapat minuman gratis dan tidak mau berbagi dengannya, Hanbin yang tidak pernah membayarkan Bus nya, dan Hanbin yang selalu lupa hari-hari terpenting mereka, seperti hari ini, hari ke 600 mereka jadian. Di sebuah taman yang panas.

“Hanya sepuluh menit, sepuluh menit sebelum aku pergi dari tempat ini.”

Make up Hayi sudah luntur karena air mata, bando cantik merah muda yang ia pakai pun sudah ia lempar jauh-jauh, bubble tea yang rencananya akan ia minum berdua dengan Hanbin pun sudah habis tak tersisa, yang tertinggal hanya kotak kado besar dan wajah sembabnya.

“Lima menit lagi Kim Hanbin, cepat datang atau—“ Hayi tidak dapat memikirkan apa yang akan ia lakukan setelah lima menitnya habis. Ia tidak dapat memikirkan putus, ketika orang lain memutuskan bahwa itu adalah ide yang sangat cemerlang.

Sampai waktu lima menitnya Habis (bahkan Hayi memberikan tambahan tiga menit), tapi Hanbin tidak juga datang. Hatinya sakit, ia marah juga kesal. Ia merasa di khianati, ia merasa menjadi orang paling bodoh karena percaya dengan lelaki tolol yang bahkan melewatkan tiga kali ucapan ulang tahun untuknya.

Dengan menanggung sakit hati yang begitu besar, ia pun mengambil tas dan kotak hadiahnya lalu berjalan dengan gontai, wajah sembabnya ia biarkan terbuka sehingga orang lain bisa melihat betapa menyedihkannya dia. Benar, dia yang dulu mendapatkan predikat ‘si primadona’ saat SMA—ckck.

Saat ia sampai di rumah, hari sudah gelap (well… sepertinya bukan ide yang terlalu brilliant memutuskan berjalan dari taman ke rumah, yang jaraknya dua kilo meter). Ia bahkan tidak menyapa seorang tetangga yang kebetulan berpapasan dengannya, tidak melepas sepatu saat masuk ke rumahnya, dan tidak menyalakan lampu karena dia pikir gelap bisa menyembunyikan air matanya yang mulai turun lagi.

Ia hanya ingin tidur dan menangis di kasurnya yang empuk.

Ia hanya ingin tidur dan menyumpahi mantan kekasihnya, ah ia sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan si tolol Kim Hanbin beberapa menit yang lalu.

Hayi membuka pintu kamarnya, dengan malas menyalakan lampunya dan…

.

.

.

“SURPRISE!!!”

Hal pertama yang ia lihat adalah Kim Hanbin yang sedang membawa kue dan memakai topi kerucut bergambar micky mouse. Lelaki itu tersenyum penuh kegembiraan, mengabaikan Hayi yang terkejut dan menjatuhkan kotak hadiah besar berwarna merah mudanya.

“Selamat hari jadi yang ke 600!”

Hal kedua yang ia lihat adalah Kim Hanbin yang meletakkan kue, memasangkan topi kerucut bergambar teddy bear ke kepalanya dan memeluknya.

Erat dan… hangat.

“Apa yang—”

“Aku mencintaimu.”

Lalu chu…

***

Baru pada bulan agustus lima tahun setelahnya, Hanbin menceritakan semua kejadian di hari jadi mereka yang ke 600. Bahwa ia sebenarnya sudah merencanakannya jauh-jauh hari untuk mengerjai Hayi.

“Dan saat di taman, percayalah aku melihatmu menangis dan melemparkan bando mu hahaha.”

“Kau ke taman?”

“Tentu saja, dan ku pikir, tidak akan selama itu sampai kau memutuskan untuk pulang.”

“Itu karena aku—“ Wajah Hayi merona memikirkan betapa tololnya dia.

“Kau tahu, aku bahkan sampai tertidur di semak-semak. Dan soal boxer, wahh aku hampir melompat dari persembunyian. Oh God, bagaimana mungkin kau mengancam ku seperti itu?”

Walau Hanbin tolol, jorok dan sangat tidak romantis, tapi tetap saja ia mencintai Hanbin, karena Hanbin adalah Hanbin. Karena Hanbin tidak mencoba menjadi orang lain. Karena Hanbin hanya mencoba menjadi Kim Hanbin yang selalu membuat Hayi kesal, yang selalu membuat Hayi marah dan membuat Hayi menjadi gila… gila karena terlalu mencintai suaminya Kim Hanbin.

“Hanbin, kau dengar?”

“Dengar apa?”

“Suara bayi.”

“Ya. Lalu?”

“Itu anak kita, cepat lihat.”

“kita punya—?”

“(…)”

Well… Sepertinya Hayi benar-benar sudah gila, karena mau mengikat sumpah dengan seorang Kim Hanbin.

END

Fiuhhh akhirnya selesai juga ff dari HanYi couple yeyyyy. Baru kesampaian bikin cerita Hanbin-Hayi ini, padahal mupeng banget dari dulu pengen bikin. Well, walaupun ceritanya gaje, tapi mohon tuliskan pemikiran kalian di kolom komentar yaa, supaya aku tahu kurang(ajar)nya di mana ff ini :).

Iklan

23 pemikiran pada “[Vignette] My Idiot… Boy?

  1. Aku speechless. Ga nyangka uri charisma hanbin karakternya bisa salto jungkir balik 360° di ff ini (biasanya di kebanyakan ff kan dia perfecto) *tobatlah nak*. Tapi biar gitu aku tetep suka. Menurutku ide ceritanya juga anti menstream. Like it 👍👍👍
    Author jjang!!!

    Disukai oleh 1 orang

  2. oh! ceritanya bikin aku kesel apalagi liat tingkahnya hambi ke hayi ! ya ampun bikin hati tambah kesel aja.
    yang ada dalam pikiran aku tuh, kok bisa hayi betah? tapi namanya juga cinta itu butuh yang jelek dibilang ganteng. hayi…hayi gila gara_gara hanbin 🙂
    ditunggu fic selanjutnya 😀

    Disukai oleh 1 orang

  3. What? Punya anak??
    Apa mereka udah nikah atau gimana? Hehehe
    aigo hanbin kasian dia jadi namja yang super duper aneeeeh kkkkk
    dan hayi dengan sabarnya masih mendampingi hanbin hahahaha
    Suka nih sama ff ini lucu kkk

    Suka

  4. Ini FF Hanbin Hayi kedua yg karakternya lucu banget, dari authornim yg sama ternyata hihihi suka banget tau authornim, ngakak ga berhenti berhenti gitu kalo baca Hanbin Hayi begitu 😂😂😂 lagi dong lagiiii

    Suka

  5. Ya ampuuuunnn ini couple ucul beud >< aduh gue ampe kehabisan kata2 buat ngungkapin betapa sukanya gue ama ff ini, ama karakter BIHI di sini, pokoknya keren beud lah

    Suka

  6. Ping balik: [SERIES] BIHI: I’m Not Jealous | iKON Fanfiction Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s