[Oneshot] Twinkle Stars

Processed with Rookie

Twinkle Stars

by Dilly (@happyinkeul)

Main Cast: Kim Hanbin (B.I), Lee Hi, Jennie Kim

Genre: Romance, School Life, Fluff

Rating: General

Summary: Lee Hayi, seorang Virgo dan zodiak freak tidak percaya kalau cintanya akan berjalan normal dengan seseorang seperti Kim Hanbin yang berzodiak Libra.

Disclaimer : I do not own neither Kim Hanbin nor Lee Hayi and other characters based on real people. I do own original characters and the story line. I’ve been published it on my AFF’s account (@happyinkeul). Do not copy nor translated/posted elsewhere my permission.

 

Prolog

 

Lee Hayi, zodiak freak, dia selalu menilai orang berdasarkan zodiak, seakan dia tahu akan segalanya atas diriku. Hah? Memangnya apa yang kau tau dariku? Kau tak tahu apapun, bahkan perasaanku. Kau, iya kau hanya pembunuh berdarah dingin. Meluluh lantakkan seluruh isi hatiku.

Tapi,

Aku hanyalah seorang yang bodoh, bahkan saat kau menyakitiku, menolak cintaku karena zodiak kita yang tidak cocok, entahlah mungkin alasan ini terdengar konyol tapi itulah faktanya. Kau, menolakku hanya karena aku seorang Libra dan kau, seorang Virgo — aku masih disini, untuknya bahkan saat dia memintaku untuk menjauh darinya dan menolakku mentah-mentah.

 

* * *

 

Hayi mendengus kesal saat melihat seluruh buku yang ada di tangannya jatuh berserakan ke lantai. Seseorang tidak sengaja menabraknya saat dia membawa tumpukan buku-buku yang akan dibawa ke ruang guru. Dengan emosi yang berusaha ditahannya sekuat tenaga, Hayi merunduk untuk memungut buku-buku yang berserakan di lantai.

“Apakah dia tidak punya mata?! Dia pasti Aries, selalu bersikap seenaknya. Minta maaf pun, tidak! Ya ampun!” Hayi terus mengumpat kesal kepada orang yang menabraknya.

Hanbin yang baru saja dari kantin dan tidak sengaja melewati lorong kelas dimana Hayi sedang sibuk memungut buku-buku yang ada di lantai otomatis langsung berlari menghampirinya, mengabaikan sahabat-sahabatnya yang sedang asyik berbicara hal konyol, seperti yang selalu dilakukannya setiap hari. Tidak ada yang lebih penting selain Hayi bagi Kim Hanbin.

“Dia kenapa sih?” tanya Jinhwan yang keheranan saat melihat Hanbin berlari meninggalkannya.

“Hayi, siapa lagi.” Kata Bobby menimpali dengan senyum gigi kelincinya.

“Dia gila, ya? Hayi noona sudah menolaknya berkali-kali. Kalau aku sih sudah tidak akan punya muka lagi saat bertemu dengannya.” Junhoe, yang terkenal dengan sifat tak acuhnya ikut menimpali.

“Love is blind, don’t you know it?” Bobby berkata sambil merangkul pundak Junhoe. Junhoe melirik hyungnya dengan pandangan tidak percaya.

Hanbin menatap Hayi dari kejauhan, ragu untuk menolongnya atau tidak. Dia tahu begitu dia menampakkan wajahnya, Hayi akan mengacuhkannya. Tapi, mengacuhkan itu terlihat lebih baik daripada dia mengusirnya untuk menjauhinya sejauh mungkin.

Selangkah demi selangkah Hanbin berjalan mendekati Hayi. Matanya hanya bisa berdecak kagum saat melihat Hayi dengan wajah kesalnya mendengus kesal berkali-kali dan sesekali mengumpat kepada seseorang yang menabraknya itu.

            Bagaimana kau bisa terlihat begitu cute saat marah begitu, Lee Hayi. Hanbin berkata di dalam hatinya.

Keraguan yang ada dihatinya kini telah sirna, dia tidak peduli lagi. Tidak peduli, Hayi akan mengacuhkannya atau bahkan mengatainya cowok gila. Ya, Hanbin memang gila. Hati dan pikirannya hanya menyerukan satu nama, Lee Hayi.

Dengan senyum manisnya, atau lebih terlihat seperti dibuat-buat agar terlihat manis, Hanbin memberanikan diri untuk memberikan sedikit pertolongan untuk cewek pujaan hatinya itu. Hayi mengadah untuk melihat siapa orang yang telah membantunya, namun rasa penasarannya sirna ketika melihat tangan tersebut, dengan cincin hitam di jari manisnya, dia tahu betul siapa pemilik tangan itu, pria yang tidak ingin di lihatnya, Kim Hanbin. Pria yang terus saja datang kepadanya ketika dia mengusirnya berkali-kali.

Hanbin tersenyum manis menatap Hayi, tangannya menjulurkan beberapa buku yang telah dipungutnya. Dengan setengah kesal, Hayi mengambil buku-buku tersebut dari tangannya dan mengabaikannya. Semua buku telah kembali menjadi tumpukan yang rapi dan Hayi siap untuk mengantarkannya ke ruang guru. Hayi melirik kearah Hanbin dengan sinis yang masih memegang beberapa tumpukan buku.

“Bukunya.” Hayi berkata dengan dingin dan ketus.

“Aku antar. Ke ruang guru, kan?” Hanbin berkata sambil menunjukkan senyum manisnya.

“Aku bisa sendiri. Kau kembali saja.”

“Tidak bisakah kau menerima pertolongan orang dengan baik?” Hanbin memotong perkataan Hayi sebelum dia berkata lebih jauh. Hayi terlihat kesal, tetapi dia mencoba untuk bersabar menghadapi Hanbin. Beberapa kali Hayi menghela nafas.

“Terserah saja deh!” teriak Hayi, kali ini dia mulai kesal.

Hanbin tersenyum atas kemenangannya, dia merunduk dan mendekati Hayi untuk menyamakan pandangannya. Hayi terkesiap atas perlakuan Hanbin, dengan sigap dia menghindarinya mengambil beberapa langkah kebelakang, tetapi karena terburu-buru keseimbangannya menjadi tidak stabil seakan-akan mau jatuh. Hanbin dengan sigap menahan pinggangnya.

“Nanti kau jatuh, bodoh!” Kali ini Hanbin yang berteriak memarahinya.

Hayi terlihat salah tingkah dengan perlakuan Hanbin, mukanya memerah tetapi dia berusaha untuk menutupinya.

“Kau! Apaan sih, lepaskan aku!” Umpat Hayi sambil mendorong Hanbin untuk menjauhinya. Hayi berlari meninggalkan Hanbin yang terlihat kebingungan.

“Tch, setidaknya katakan terima kasih! Ya! Lee Hayi” Umpat Hanbin setengah berteriak. Hayi mendengus kesal, memberhentikan langkahnya dan memutar badannya untuk menghadap Hanbin yang berada 5 meter di belakangnya.

“Terima kasih! Kau senang?!” Teriak Hayi.

Hanbin tersenyum penuh kemenangan, dia balas berteriak, “Sangat senang!”

Hayi mengumpat dalam hati betapa menyebalkannya Hanbin, tetapi jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, hatinya mulai berkecamuk tidak karuan. Pertama kalinya Hanbin menatapnya dari dekat dan Hayi harus mengakui kalau dia sangatlah tampan, sikapnya juga tidak buruk, terlebih lagi sepertinya Hanbin adalah orang yang setia karena berapa kali Hayi mengatakan tidak menyukainya tapi Hanbin masih bisa bersikap baik kepadanya. Tetapi, Hayi dengan cepat menghapus pikirannya itu.

            Tidak! Tidak bisa! Virgo dan Libra tidak akan pernah berhasil.

 

* * *

 

Bel telah berdering menandakan istirahat makan siang telah dimulai. Hayi sibuk membuka resleting tasnya untuk mengeluarkan dua buah kotak makan siang. Soohyun, sahabat Hayi yang duduk disampingnya menatap Hayi dengan penuh tanda tanya, alisnya mengkerut seperti sedang memikirkan sesuatu, kenapa Hayi membawa dua buah kotak makan. Untuk mengenyahkan rasa penasarannya, Soohyun bertanya sekaligus untuk memastikan dugaannya.

“Kau tidak akan memberikannya pada Taehyun oppa, kan?” Tanya Soohyun penasaran.

“Tentu saja buat siapa lagi!” Kata Hayi sambil tersipu malu. Kedua pipinya memerah seperti tomat rebus. Soohyun terlihat sangat kaget, kedua matanya yang kecil terlihat dua kali lebih besar dari biasanya. Soohyun menganggap Hayi sudah gila karena Taehyun sudah jelas-jelas mempunyai pacar dan telah menolaknya.

“Ya! Lee Hayi! Kau gila ya? Taehyun oppa kan sudah punya pacar!” Pekik Soohyun. Hayi menatap sahabatnya itu dengan pandangan acuh tak acuh.

“Ya! Kau pikir aku gila?” Tanya Hayi setengah berteriak.

“Ah! Ya ampun, mian! Aku kira kau mau memberikannya kepada Taehyun oppa.” Ucap Soohyun sambil memeluk sahabatnya tersebut sebagai permintaan maaf. Hayi hanya bisa menghela nafas kesal. Nam Taehyun adalah senior Hayi di sekolah, Hayi jatuh hati kepadanya karena sosoknya yang cool, namun masih bisa terlihat cute. Taehyun adalah School President di sekolahnya, dia terpilih karena kepintarannya dan sikapnya yang jujur. Taehyun adalah idola hampir semua wanita di sekolah Hayi. Satu hal yang membuat Hayi jatuh hati padanya adalah Taehyun berbintang Taurus. Menurut karakteristik zodiak yang Hayi pernah baca, Virgo dan Taurus mempunyai kecocokan yang bagus. Mereka saling melengkapi, Taurus bisa menjadi pendengar yang baik bagi Virgo dan juga pemberi nasihat yang baik melalui kejujuran dan ketulusannya. Tapi, semua angan Hayi menjadi sirna seketika saat Taehyun mengakui atau lebih tepatnya mengumumkan ke seluruh penjuru sekolah bahwa dia telah berpacaran dengan Son Wendy, senior Hayi dan terkenal dengan kecantikannya yang bisa membuat semua hati pria meleleh. Jelas saja jika dibandingkan dengan Hayi yang biasa-biasa saja, Taehyun lebih memilih Wendy. Hayi kembali menghela nafas, kesal.

“Lalu, kenapa kau bawa dua kotak makan?” Tanya Soohyun penasaran. Pertanyaan Soohyun akhirnya membuat Hayi kembali pada kesadarannya.

“Ini untuk oppaku.” Ucap Hayi santai.

“Seunghoon oppa?!” Seketika Soohyun menjadi sangat ribut ketika Hayi menyebut nama kakaknya, Lee Seunghoon. Hayi menatap sahabatnya dengan heran, dan menjawab, “Iya untuk Seunghoon oppa. Kau kenapa sih?”

“Serahkan padaku! Aku akan mengantarkan kotak makan ini kepadanya. Oke?” Ucap Soohyun penuh semangat. Dengan cepat ia mengambil salah satu kotak makan yang diletakkan di meja Hayi dan pergi berlari keluar ruangan kelas. Hayi hanya bisa memandang sahabatnya dengan bingung.

“Ya! Lee Soohyun! Tunggu aku! Kau gila ya?!”

“Aku gila karena oppamu, Hayi-ah! I really really like him!” Ujar Soohyun sambil memeluk kotak makan Hayi dengan erat.

“Gila, kau benar-benar gila.” Hayi hanya bisa menatap sahabatnya tersebut dengan perasaan setengah tidak percaya tetapi, dia senang jika suatu saat nanti kakaknya bisa berpacaran dengan sahabatnya, Soohyun karena Hayi tau Soohyun adalah perempuan yang sangat baik dan cute.

 

Hayi membuka pintu kelas Seunghoon dengan santai tapi dilain sisi, Soohyun terlihat sangat tegang saat akan memasuki kelas Seunghoon. Hayi hampir ingin menertawainya dengan keras melihat tingkah sahabatnya yang berubah 180 derajat saat Soohyun dengan semangat bersedia untuk mengantarkan kotak makan Seunghoon.

“Hahaha tenanglah sedikit, Soohyun-ah!” Ujar Hayi terkikik.

“Oh my god! Ottoke!”

“Tarik nafas! Dan masuk!” Ucap Hayi dan mendorong Soohyun masuk ke dalam kelas oppanya. Dengan tawa liciknya Hayi mengintip sahabatnya yang sedang grogi tersebut dari celah pintu.

 

Seunghoon terlihat sedang asyik berbicara dengan temannya, Mino dan Jinwoo. Awalnya, Soohyun terlihat ragu untuk memanggil Seunghoon tetapi untunglah Seunghoon akhirnya menyadari kehadiran Soohyun lebih dulu. Awalnya Seunghoon terlihat kaget ketika melihat Soohyun mengenggam kotak makannya, tetapi kemudian dia melemparkan senyum manisnya pada Soohyun. Hati Soohyun terang saja langsung berdetak dengan sangat cepat dan tidak karuan begitu pula dengan pikirannya, kakinya pun terasa tidak seperti menginjak tanah.

“Kau pasti di suruh Hayi mengantarkannya untukku, ya?” Tanya Seunghoon lembut sambil tersenyum, membuat Soohyun otomatis menjadi sulit untuk berkata.

Soohyun mengambil nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Seunghoon, “Tidak oppa, aku yang menawarkan diri.” Ucap Soohyun sambil tersipu malu dan menyerahkan kotak makan tersebut pada Seunghoon. Seunghoon mengambilnya dengan senyuman manisnya.

“Benarkah? Kalau begitu terima kasih, Soohyun-ah.” Ucap Seunghoon sambil tersenyum dan membelai lembut kepala Soohyun. Saat itu juga Soohyun tidak bisa menyembunyikan wajah merahnya lagi terlebih ketika Mino dan Jinwoo yang ribut meneriaki mereka.

Hayi yang melihat adegan itu dari luar kelas Seunghoon meringis geli, menurutnya kakaknya itu kelewat gombal. Tetapi sebenarnya dia iri, karena Seunghoon tidak pernah memperlakukan Hayi dengan manis. “Dasar muka dua! Cih!” umpat Hayi.

Semenit kemudian perhatian Hayi terpecah ketika ia mendengar suara beberapa orang murid yang ribut karena ada seseorang yang lagi menyatakan cinta. Hayi mengernyitkan dahinya, penasaran siapa yang sedang melakukan pengakuan cinta. Dengan penuh penasaran Hayi pergi mengikuti kerumunan orang yang berkumpul yang membentuk lingkaran di tengah-tengah koridor sekolah.       Dengan bersusah payah Hayi akhirnya bisa masuk ke tengah-tengah kerumunan orang banyak. Namun, matanya langsung terbelalak ketika ia melihat sosok yang dikenalnya tersebut lah yang menjadi akibat keributan ini, Hanbin berdiri ditengah-tengah kerumunan orang didepannya terlihat cewek cantik berambut panjang tertunduk lesu sambil mengenggam kedua tangannya. Hayi tau cewek itu bernama Jennie Kim, masih satu angkatan dengannya. Seketika hati Hayi menjadi tidak tenang dan terus bertanya-tanya apakah Hanbin yang menyatakan perasaannya pada wanita ini. Hayi menginggit bibir bawahnya, untuk menghilangkan rasa cemasnya tetapi secara tidak sengaja pandangannya bertemu dengan pandangan Hanbin. Hanbin menyeringai.

“A.. Aku menyukaimu, Kim Hanbin! Mau kah k-kau jadi pacarku?” Ucap Jennie sambil menutup kedua matanya karena cemas. Hayi terlihat sangat kaget, tidak percaya karena ternyata yang melakukan pernyataan cinta itu bukan Hanbin melainkan Jennie.

Hanbin melirik kearah Hayi sebelum menjawab, senyumnya menyiratkan sesuatu yang mencurigakan bagi Hayi. Tentu saja seketika Hayi menjadi panik dan paranoid. Pikirannya mulai membayangkan jika Hanbin menerima Jennie, ini aneh tetapi Hayi tidak bisa menerimanya. Hayi berusaha untuk menenangkan hatinya bahwa Hanbin menyukainya tetapi hatinya tetap saja kalut.

            Bagaimana jika perasaannya telah berubah?! Ujar Hayi dalam hatinya.

Hanbin tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Jennie, ia memutar bola matanya, menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

“Bagaimana ya, mungkin lebih baik aku memikirkannya terlebih dahulu.” Ucap Hanbin santai.

Hayi melotot mendengar jawaban Hanbin, kesal karena dia memberikan jawaban mengambang bukan menolaknya. Hayi melempar pandangannya kepada Jennie yang terlihat sedikit kecewa dengan mengangguk pelan. Tetapi suasana disekitar Hanbin dan Jennie menjadi ribut, mereka meneriaki Hanbin untuk menerima Jennie. Hayi menatap dengan sebal kepada semua orang disekitarnya,      “Kenapa juga dia harus berpacaran dengannya!” Ucap Hayi tetapi tidak ada orang yang mendengarnya. Dengan langkah kesal Hayi kembali keruangan kelasnya.

 

* * *

 

Sekolah telah usai hari ini, semua murid berhamburan keluar sekolah dengan riang. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain pulang kerumah setelah seharian menghabiskan waktu belajar di sekolah, tetapi itu tidak berlaku bagi Hayi. Ia merasa sangat kesal mengingat kejadian Hanbin tadi, kenapa Hanbin memberikan jawaban tidak pasti dan membuatnya menjadi lebih penasaran akankah dia menerima atau menolak Jennie. Hayi merasa keanehan dalam dirinya ini seperti hal yang tidak wajar, seharusnya dia merasa senang jika Hanbin bisa berpacaran dengan cewek lain, maka dia akan segera enyah dari hadapannya. Tapi, hatinya tidak berkata demikian, hatinya cemas jika Hanbin berpacaran dengan cewek lain nantinya.

Maka dari itu, Hayi dengan segenap keberaniannya, ia menunggu Hanbin didepan gerbang sekolah. Dengan hati yang berdebar-debar dia terus mencoba mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Namun, baru saja Hayi melihat sosok Hanbin berjalan ke arahnya hatinya langsung menjadi tidak karuan. Semuanya berkecamuk sangat kacau.

Hanbin tersenyum kepada Hayi setelah membungkuk untuk memberikan salam kepadanya.           Hayi membalas salam Hanbin, dia mengira bahwa Hanbin akan menyapanya atau sekedar bertanya padanya tapi tidak demikian. Hanbin berjalan meninggalkannya tanpa mengajaknya berbicara. Hati hayi terasa nyeri. Tidak percaya dan tidak terima dengan perlakuan Hanbin, dengan kesal Hayi berteriak memanggil namanya, “Kim Hanbin! Ya!!”

Hanbin berhenti ketika mendengar Hayi memanggil namanya dengan kesal, ia tersenyum sebelum membalik badan untuk menatapnya.

“Waeyo?” Hanbin berkata sambil berjalan menghampiri Hayi.

Hayi menjadi salah tingkah ketika Hanbin berjalan mendekatinya. Dia berjalan mundur kebelakang untuk menghindari Hanbin tetapi dia tidak bisa kemana-mana lagi karena punggungnya menyentuh tembok.

“K.. Kau! Apakah kau akan menerima Jennie?” Tanya Hayi tergagap, matanya menghindari tatapan tajam dari Hanbin.

“Molla, aku masih berpikir. Menurutmu bagaimana, dia cantik kan?” Hanbin bertanya sambil terus menatap Hayi yang sangat grogi. Sekilas senyum tercetak di wajah Hanbin. Hatinya tidak bisa memungkiri bahwa Hayi begitu lucu ketika dia grogi.

“Kenapa kau bertanya padaku sih!” ucap Hayi ketus.

Hanbin mengangkat kedua bahunya dan mulai berjalan mundur menjauhi Hayi, “Baiklah, sepertinya akan kuterima saja.” Ujar Hanbin dengan enteng. Tetapi itu semua sukses membuat Hayi terbakar api cemburu. Dia tidak bisa melihat Hanbin berpacaran dengan orang lain, menjadi milik orang lain.

“Tidak bisa! Tidak boleh!” Teriak Hayi tanpa sadar. Ingin rasanya Hayi menutup mulutnya rapat-rapat tapi nasi telah menjadi bubur, Hayi sudah tercebur basah jadi lebih baik dia jujur pada perasaannya.

“Kau kenapa sih?” Tanya Hanbin heran melihat Hayi yang seketika menjadi emosi.

“Karena aku suka padamu, bodoh!”

Hanbin berdiri mematung setelah mendengar pernyataan Hayi. Mulutnya setengah terbuka, matanya menatap Hayi tidak percaya.

“Apa? Coba katakan sekali lagi.” Pinta Hanbin.

Hayi mendengus kesal, tanpa pikir panjang dan tanpa mempedulikan orang-orang yang ada disekitarnya Hayi berlari kearah Hanbin, menarik kerah bajunya, membuat wajahnya dan wajah Hanbin mendekat sepersekian inchi sampai akhirnya bibir mereka bertemu. Hayi mencium Hanbin.

Hanbin membelalakan matanya tidak percaya dengan apa yang dilakukan Hayi, hatinya seakan loncat keluar dari tempatnya. Hatinya berdegup kencang tidak beraturan saat ia merasakan bibir lembut Hayi membelai bibirnya.

Hayi menyudahi ciumannya dengan menatap Hanbin malu-malu, tetapi dia tetap memberanikan dirinya didepan Hanbin, “Kau milikku! Selamanya milikku, aku nggak akan peduli pada zodiakmu yang Libra itu.” Ucap Hayi.

Hanbin tersenyum lebar bahagia, ia menarik Hayi mendekat padanya dan memeluknya sebelum menciumnya sekali lagi. Hayi membalas ciumannya dengan lembut, cukup bagi Hanbin untuk merasakan bahwa Hayi memang benar merasakan hal yang sama padanya. Kali ini, cintanya tidak bertepuk sebelah tangan lagi.

“Abaikan penelitian zodiakmu itu, aku bisa membuat semuanya bekerja dengan baik. Aku pasti akan membuatmu bahagia, Lee Hayi. Kau kira aku bodoh akan membuatmu menderita?” ucap Hanbin sambil mendekap Hayi dalam pelukannya.

Hayi memeluk Hanbin dengan erat, “maafkan aku, aku memang bodoh. Maaf telah membuatmu menunggu lama.”

“Tidak apa. Aku tau kau pasti akan jadi  milikku.”

“I love you, Kim Hanbin.” Ucap Hayi lirih. Hanbin tersenyum mendengar Hayi akhirnya mengatakan kata-kata yang sangat dinantikannya sejak dahulu.

“Coba katakan sekali lagi.”

“Kau tuli ya?” umpat Hayi kesal.

“Kalau tidak katakan sekali lagi aku cium 100 kali.”

“Kim Hanbin, nomu saranghae!” ucap Hayi dari dalam dekapan Hanbin. Hanbin tersenyum dan mendekapnya erat dan lebih erat lagi.

 

THE END

 

 

Iklan

9 pemikiran pada “[Oneshot] Twinkle Stars

  1. Yeheee konsepnya bagus yaa bawa2 Zodiak, penasaran ada ga ya cewek zodiak freakie di dunia ini hohohoho seperti biasa Hanbin Hayi selalu manis jurusan diabetes aww aku ga kuat, ini lucu banget hiiiiiii >…<
    Dan masih cengar cengir pas mention nama Wendy, masih ada juga yg kena Strong Babies Syndrome 💓💓💓💓
    Aku suka aku sukaaa ditunggu karya lainnyaaa

    Suka

    • Hahahaha! aku nulis ini berdasarkan pengalaman aku sendiri, aku zodiak freak dan aku virgo :))
      ini sebenernya fanfic udah lamaaaaa bgt, setaun yg lalu kayanya di publish di AFF aku, cm iseng aja ngirim ke IFI hehe thank you for reading 😉

      Suka

  2. Hiiih, mbak Hayi sama mas Hanbin ituuu yaaa kalo disandingin hemmm, suka gemes gemes gurih gitulah /apa ini -_____-/

    Ya pokoknya saya selalu suka cerita HanHi lah, author-nim. Semangat nulisnya, dan makasih ceritanya. Saranghamnida :* muah 😄

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s