[MAKE IT WITH COLORS] Give Up

 

 

 

fix

 

GIVE UP

Author : Kay A.

Main Cast : Goo Junhoe (iKON), Kim Hani (OC)

Support Cast : Kim Hanbin (iKON), Jisoo (YG Trainee)

Genre : Romance, Sad | Rating : G

Summary : Sore itu langit membiru, hatiku kelabu, duniaku membeku.

Disclaimer : iKON members and YG Trainee does’nt belong to me but YG’s. Kim Hani is my own imagination character. Storyline absolutely belongs to me.

Kim Hani duduk termenung di sudut café seorang diri. Kim Hanbin, kakaknya yang tadi datang bersamanya saat ini sedang pergi ke toilet. Telinganya ia sumbat dengan sepasang earphone. Secangkir espresso yang ia tadi pun tak disentuhnya. Hanya ia biarkan begitu saja di atas meja. Pandangannya menerawang. Entah apa yang ia pikirkan. Sesekali ia menghela nafas. Terkadang ikut menggumamkan lirik lagu yang ia dengarkan.

“..and I feel you forget me like I used to feel you breathe…” senandungnya lirih. Nyaris tanpa suara.

Pandangan gadis itu beralih pada pintu cafe saat ia menyadari ada pengunjung yang datang. Nyaris tersedak saat Hani tahu siapa mereka. Seorang pemuda dengan postur tegap dan seorang gadis cantik. Goo Junhoe dan Jisoo. Hani menatap keduanya lekat. Ia meringis saat melihat tangan keduanya saling bertautan.

Hani menghela nafas tak kentara. Lagi-lagi ia merasa dadanya nyeri. Ada sesuatu yang menghantamnya keras. Sakit. Tiba-tiba matanya memanas. Ada yang berdesakan ingin membanjiri matanya.

Hani menggigit bibirnya pelan. Ia terus menatap Junhoe dan Jisoo yang tidak menyadari keberadaannya. Pandangannya tidak beralih, terus membuntuti langkah dua sejoli itu sampai mereka berhenti di salah satu meja di sudut lain ruangan. Hani dapat melihatnya. Semuanya. Seperti bagaimana dengan mudahnya Jisoo menyandarkan kepalanya pada bahu Junhoe. Bagaimana dengan ringannya Junhoe mengacak rambut Jisoo dengan gemas. Bagaimana keduanya terlihat begitu bahagia.

Hani ngilu. Bahu itu dulu miliknya. Tempatnya bersandar. Tawa itu dulu miliknya. Dulu.  Bahkan ia masih bisa merasakan bagaimana belaian lembut Junhoe. Hani tersadar, posisinya telah terganti.

Satu per satu air mata Hani berjatuhan. Sebagian menetes dan jatuh di pangkuannya dan sebagian lagi menganak sungai di pipinya. Ia tahu, seharusnya ia segera bangkit dan beranjak menjauh. Ia tahu, harusnya ia segera mengalihkan pandangannya. Tapi ia tetap bertahan. Menikmati setiap rasa sakit yang menyerangnya. Menikmati setiap duka yang memeluknya.

“Kenapa, hmm?” Hani mendengar suara lembut seseorang, Kim Hanbin.

Hani hanya menggeleng pelan lalu segera menyeka air matanya dengan jarinya. Sedetik kemudian kepalanya sudah berada dalam dekapan Hanbin.

“Ikhlaskan,” ucap Kim Hanbin lembut sembari membelai kepala Hani.

Hani kembali menangis. Ia membiarkan setiap air matanya membasahi kemeja Hanbin. Ia membiarkan isakannya memenuhi telinga Hanbin. Ia melingkarkan kedua tangannya pada punggung Hanbin. Mendekap kakaknya erat. Berharap kakaknya mengerti seperti apa duka Hani. Air matanya semakin deras. Hani tidak tahu kenapa ia selemah ini. Tapi yang ia harapkan hanyalah sesak yang ia rasakan ikut meluruh bersama air matanya.
***
Sendiri, Hani duduk diam bersandar pada dinding pembatas gedung. Kini ia berada di atap gedung sekolahnya. Tempat dimana dulu ia dan Junhoe banyak menghabiskan waktu berdua ketika laki-laki itu masih menyandang status sebagai kekasihnya. Matanya menatap pintu di hadapannya lekat. Berharap sosok yang ia tunggu segera muncul dari balik pintu itu. Jengah, ia sandarkan kepalanya pada dinding. Dipejamkannya matanya. Membiarkan angin menerpa wajahnya dengan lembut.

“Hani-ya?”

Hani mendongak. Didapatinya seorang pemuda jangkung berdiri menjulang di hadapannya. Junhoe. Hani melempar seulas senyum kecil. Ia mengisyaratkan agar pemuda itu duduk di sampingnya. Pemuda itu tanpa banyak komentar memilih untuk menurut dan duduk di samping Hani.

“Ada apa?” tanya Junhoe ringkas.

“Aku merindukanmu.” Hani berbisik lirih. Matanya menatap semburat jingga yang mulai menghiasi langit.

Junhoe menatap Hani. Ia tidak dapat menemukan ekspresi apapun di wajah bulat gadis yang duduk disampingnya ini. Setelah diam sejenak, ia akhirnya memutuskan untuk menyahut, “aku juga,”

Hani bergeming. Ia tahu rindu seperti apa yang Junhoe maksud.

“Aku lelah,” Hani berujar.

“lelah menjadi bodoh dan tolol seperti saat ini. Lelah menungguu kembali tersenyum dan menyapaku dengan hangat seperti dulu. Lelah dengan semua makianmu. Lelah menjadi beban untukmu selama ini.”

Junhoe hanya diam. Ia tahu, yang harus ia lakukan sekarang hanyalah mendengarkan setiap untaian kata gadis yang pernah menjadi miliknya ini. Memang akhir-akhir ini gadis itu kembali bersusah payah untuk mendapatkan perhatiannya, yang jujur saja membuatnya sangat risih dan terbebani. Hubugan mereka bahkan sudah berakhir setahun lalu, tapi gadis itu nampaknya masih belum bisa melepaskannya.

“Aku ingin pergi. Menjauh. Setidaknya sampai aku dapat menyembuhkan diriku sendiri. Tapi rasanya semua percuma.”

Did you know? The most painful thing is the fact that my position has been replaced by another girl.  Me? I’m nothing. Bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa untukmu.” Hani mengambil jeda sejenak. Wajahnya tetap tenang. Hanya saja ia menyadari suaranya mulai bergetar.

Time changes everything. But you’re still my friend, indeed.” Junhoe menimpali. Ia mengalihkan pandangannya yang sejak tadi tertuju pada Hani ke depan. Menatap lurus pada langit senja yang biasanya hangat dan menyenangkan, namun entah kenapa hari ini terlihat menyakitkan.

Hani berdehem. Berharap suaranya terkendali. Ucapan Junhoe tak begitu ia gubris. Ia kembali melanjutkan ucapannya, “sampai akhirnya aku menyerah. Satu-satunya pilihan yang kumiliki hanyalah merelakanmu. Dan ikut tersenyum untuk setiap kebahagiaanmu.” Hani menatap Junhoe yang juga menatapnya. Ia tersenyum simpul untuk menandakan bahwa ia tegar dan tak selemah biasanya.

“Pergilah, kejar kebahagiaanmu. Dan jika memang aku membebanimu, anggaplah aku sebagai makhluk tak kasat mata.” Hani kembali menatap langit. Junhoe tetap diam dan mendengarkan.

“Tapi kau harus tahu, kapanpun, ketika kau membutuhkanku, aku selalu ada dan tak pernah pergi.” Hani mengakhiri ucapannya. Ditatapnya Junhoe sekali lagi. Lekat. Sebuah senyuman yang tulus tersugging di bibirnya.

Hani bangkit. Menyampirkan tas di bahunya lalu melangkah pergi tanpa pamit. Ia melangkah dengan titik-titik air yang mengalir dari matanya. Meninggalkan Junhoe yang hanya diam dan menatap langkah Hani yang menjauh.

Hani tidak ingin tahu bagaimana raut wajah Junhoe. Ia hanya ingin Junhoe mengerti, bahwa ia merelakannya. Mengerti bahwa ia akan tersenyum untuk setiap kebahagiaannya.

Sore itu langit membiru, hatiku kelabu, duniaku membeku.

Iklan

11 pemikiran pada “[MAKE IT WITH COLORS] Give Up

  1. nah kan.. akunya juga ikutan galau.
    aku kira mbin itu pacar barunya hani ternyata cuma kknya saja. si juneidi nya juga apa banget dah, peluk kek apa kek gitu biar hani nya juga merasa gimana gitu. kan jadi gregetan sendiri.

    salam kenal ya dek.. aku edes 92L 🙂
    kutunggu ficmu berikutnya

    Disukai oleh 1 orang

  2. Duh akika fix baper :”)
    Junet mah apa dah, bisanya bikin anak orang mewek, tapi mau bagaimana lagi…. atulah mba Hani jangan gamon, masih banyak lelaki yg lebih indah dan lebih syahdu dari Junet(???)

    Bagus thorr

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s