[MAKE IT WITH COLORS] The Point

halloween-autumn-beautiful-boy-Favim

The Point

author Pandazy @pandaisnobody

cast Song Yunhyeong and Kim Kaerus

genre tragedy/psycho

rating G duration ficlet

no background song.

“Terima kasih sudah membantu ayahku.”  

A/N tinggalkan komentar biar tau siapa yang baca ^^

**^^**

Daun maple kemerahan mengotori rambutku yang berantakan, membuat kepalaku tampak seperti sarang burung gereja sekarang. Bukannya tidak sadar, tapi aku memang tidak peduli meskipun orang-orang menatap eksentrik.

Untuk sekian lama, aku melungguh pada bangku kayu rapuh. Wawasan pun tidak luput dari orang yang berlalu-lalang, mencari batang hidung seseorang.

Sebuah komposisi terindah, yang pernah kulihat.

Matanya cokelat dibumbui bulu yang lentik, sementara rambutnya jingga, sekilas mengingatkan pada musim gugur – itulah mengapa aku menanti di bawah pohon maple, sebab seingatku, anak itu selalu datang ke sini, dan mengeluh di bawah rimbunan daun maple yang berguguran.

Pandangannya sangat melankolis, itulah alasan mengapa aku menautkan hati.

Pandanganku melabuh pada sosok di ujung sana, seorang gadis dengan rambut merah menyala dan lensa kotak sepadu, turut menatapku dengan intens. Perlu lima belas detik untuk menyadari bahwa dia adalah anak itu,

“Kaerus?”

Kaki jenjangku tergerak, menuntun raga tangguh ini untuk menghampiri gadis itu. Meskipun sudah sepuluh tahun, tidak akan pernah ada yang membuatku melupakan pesona anak itu, sekalipun Romeo dan Juliet harus ditentang karena saling mencinta.

“Kim Kaerus, masih ingat aku?” sapaku antusias, “aku yang selalu menghiburmu kala kamu berkesah. Di bawah serpihan daun maple yang ranggas, Tuhan mempersemukakan kita. Membuat bocah eksentrik ini menautkan hatinya yang kelam pada sudut terang seorang Kaerus.”

Kaerus terkekeh, meskipun air mata yang ia simpan rapat-rapat itu meloloskan diri, turun untuk menjelajahi tekstur muka Kaerus. “Yunhyeong, badut Ancol yang selalu menghiburku tatkala aku berkeluh kesah, kan?”

“Bagaimana kabarmu? Apakah cita-citamu menjadi seorang pengacara sudah tergapai?” tanyaku, mengembangkan senyum dengan lebar.

“Aku…” kata Kaerus, “baik-baik saja.” Jeda menguak segalanya, bahkan Kaerus tidak tahu apakah ia benar baik-baik saja ketika perasaan sedih turut mendominasi hatinya, perasaan bersalah yang teramat sangat, membuatnya membenci dirinya sendiri. “Yunhyeong, kebetulan kita bersobok di sini.”

Tangan Kaerus merogoh pada tas hijau yang menggantung, mengeluarkan syal jingga hasil rajutannya sendiri. “Aku ingin kamu bersumpah akan memakai syal ini ketika musim gugur tiba. Meskipun usang sekalipun, aku ingin kamu bersumpah.”

Aku menaikkan alis sedikit, merasakan janggal pada penuturan Kaerus. Kaerus yang kukenal, tidak pernah meminta untuk hal aneh seperti ini, sekalipun aku sanggup. “Untuk apa, Kaerus? Adakah yang spesial pada syal ini?”

“Aku merajutnya sendiri,” jawab Kaerus, “yah, sebenarnya, aku akan pergi ke tempat yang sangat jauh, bahkan seorang lelaki kekar pun tidak akan sanggup berjalan untuk menemukanku, maka itu, aku ingin kamu memakainya agar selalu teringat padaku.”

“Aku akan bersumpah, tetapi bisakah kamu memberitahukan ke mana kamu akan pergi? Aku pikir jiwa ini tidak sanggup menahan beban rindunya pada Kaerus,” pintaku, membuatnya terkekeh meskipun hanya tiga detik. “Aku, Song Yunhyeong berjanji akan selalu mengalungkan syal ini – kendati musim dingin sekalipun,”

“– karena cinta sejati tidak pernah berjalan mulus.”

Di bawah langit senja gadis itu memberiku syal jingga, mengalungkannya di leherku, dan mengikatnya dengan erat layaknya janjiku padanya. “Terima kasih, telah membantu ayahku,” bisiknya, yang sayang, tidak pernah tertangkap oleh gendangku.

**^^**

“… seorang bapak-bapak bernama Kim Keres, akhir-akhir ini menjadi buronan polisi karena kasus penculikan – di mana mayoritasnya adalah kaum muda-mudi – untuk diperjualbelikan…”

Aku menaruh tatapan serius pada layar televisi yang gemilang.

“… terakhir, ia selalu membawa syal merah dan mengalungkannya di leher calon korban, agar dengan mudah mencari targetnya. Saya harap kalian berhati-hati, sekian saya sampaikan, terima kasih…”

Napasku menghembus dengan lega, aku ingat jelas tidak pernah bertemu dengan bapak-bapak yang mendekati ciri berikut. Aku juga beruntung tidak memiliki satupun syal warna merah, hanya saja…

…  satu poin yang terpenting adalah mataku buta warna, aku tidak bisa membedakan mana warna jingga dan mana warna merah.

**^^**

 

 

 

7 pemikiran pada “[MAKE IT WITH COLORS] The Point

  1. SIALAANNN…… KOK DIA INI YA ALLOH STERSS INI BACA HAHHHH!!!1 ><
    TAK KUSANGKA MAS YOYO TERNYATA :"""")

    apalah ini fic kece sekali sampee kenak jebakan ketipu kebawa arus sweet nyatanyaaa dia buta warna apalah kamu ini massss T.T
    Gak apalah mas yoyo buta warna gak mengurangi kegantengan dan cinta ku oadamu muaahh wkwkkw 😀
    bagus aku suka cara penulisanny! serius ni 😀

    SEMANGAT NULIS TERUSSS T.T XD

    Disukai oleh 1 orang

    • AKU PUN SETRES BUATNYA HWHWHWHW :”)))))))))

      buta warnanya milih-milih :(( padahal mau diperjualbelikan k̶e̶ ̶z̶y̶ enggak deng, kalopun yoyo mau dijual, zy rela kok keluar duit meskipun harus ngutang dulu ke bapaknya kaerus //loh?//

      makasih udah baca kak ❤

      Suka

  2. Jadi…… kaerus ngeboongin yoyo? Tapi yoyonya juga kebangetan ga bisa bedain warna merah sama jingga huahahahah… ga papa deh yang penting ganteng /nahloh/

    Hayoloh jadi target selanjutnya. Keep writing yaaa~~~

    Disukai oleh 1 orang

    • kaerus kan mantan copet, jadi suka ngebo’ongin gitu //eh//

      nah iya yoyo jadi target hatiku dari – //stop gombalnya zy//

      makasih udah baca kak ❤ mapkan balasan nyampahku ini

      Suka

    • yakali kak si yoyo suka sama cerberus, bisa berantakan masa depannya //kenapa//

      nah iya, untung dijualnya ke zy? bisa jadi tukang buka tutup pager sih //jangan begitu zy// //jadiin suami aja// //apa-apaan ini//

      makasih udah baca kak ❤ mapkan balasan nyampahku ini

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s