[Chapter 4] Just Another Girl

Main Cover just another girl

Title : Just Another Girl

Chapter 3: Kim Sohyun x Kim Han Bin

Author : Lee Ice

Cast: Kim So Hyun as Lee Soyeon/Kim Sohyun, Bobby iKon as Bobby, B.I iKon as Kim Hanbin

Suporting cast: others member iKon and others.

Length : Chapters

Genre : Drama, School, Life, Romance, Friendship

Rating : 16+

Summary:

 Lee Soyeon x Kim Ji Won (Bobby)

Lee Soyeon si gadis bahan bullyan dan Setannya Jeju Senior High School. Bahan bullyian yang tak takut melawan siapapun, bertemu dengan ketua gank sekolah yang merupakan anak seorang gangster nomor 3 di Korea. Akan kah cinta melunakkan hati keduanya?

Kim Sohyun x Kim Han Bin (B.I)

Malaikait dan Pangeran Seoul International Senior High School. Keduanya ramah dan tak membeda-bedakan dalam berteman. Apakah kisah cinta mereka akan semanis kehidupan yang dijalaninya?

Lee Soyeon x Kim Sohyun

Saudara kembar yang terpisah. Kim Sohyun hidup sebagai putri pewaris tunggal Rose Grup. Dan Lee Soyeon hidup menderita dan tersiksa dengan keluarga yang menculiknya sejak bayi. Bagaimana jika keduanya bertemu, apakah Lee Soyeon akan membenci keluarga kandungnya yang tak mencarinya?

Author Note: Dan akhirnya… tiba waktunya kisah Kim Sohyun dan Kim Han Bin dimulai, hihiii… Jangan lupa like and coment ya 😉

Previous Chapter : 1 | 2 | 3

***

          ‘Terkadang aku tak tahu bedanya dibenci dan disukai. Ada orang yang mengatakan, jika kau dibenci berati orang itu hanyalah iri padamu, dan pada kenyataannya mereka justru selalu memperhatikanmu. Tapi beberapa orang yang ku temui. Dia berkata padaku- dia menyukaiku dan senang bersamaku. Tapi suatu ketika, ku dengar mereka mengutukku diam-diam.
Terkadang apa yang kalian lihat mengalir tenang seperti air, justru dia menyayat semakin dalam…’, Kim Sohyun.

          ‘Selain cinta kepada keluarga dan sahabat, aku belum tertarik dengan cinta yang lainnya? Hyungku berkata aku harus segera memiliki kekasih. Memang apa pentingnya sih?
Aku rasa hidup seperti ini sudah lebih dari cukup’, Kim Han Bin.

***

          Apa yang menjadikan hidup di dunia itu indah? Apakah cinta? Harta? Atau keluarga? Ani… Yang menjadikan semua terasa indah adalah BERSYUKUR. Apa pun yang kau miliki dan kau dapatkan, semuanya tak akan berarti jika kau tak menyukurinya. Kau akan merasa selalu kekurangan dan menginginkan lebih. Sebaliknya, apapun penderitaan dan rasa sakit yang kau peroleh, rasanya akan lebih sakit 1000x jika kau tak mau bersabar…

 

Just Another Girl Part 5
(Kim Sohyun x Kim Han Bin)
Happy Reading
————————————-

Seoul International High School

Merupakan salah satu sekolah internasional di Korea- yang dikhususkan untuk anak-anak orang kaya. Dari anak para penjabat tinggi, pengusaha kaya, hingga pegawai dengan gaji yang tinggi.

Bukannya sekolah ini bermaksud untuk menciptakan kasta maupun mendiskriminasikan orang-orang dari kalangan bawah. Hanya saja, sekolah ini menyediakan fasilitas yang memadai untuk menciptakan generasi penerus yang unggul. Yang diharapkan, nanti mereka bisa meneruskan perjuangan orang tua masing-masing. Jika itu sekolah umum- mereka belum bisa memberikan treatment khusus bagi mereka yang diberi kemampuan lebih, karena fokus mereka tidak hanya pada anak-anak itu, tapi juga anak-anak yang kemampuannya lebih rendah.

          Di kelas seni.

Hari ini waktunya untuk kegiatan tambahan (ekstrakulikuler). Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00. Seorang gadis terus saja melirik ke arah jam yang melingkari tangannya. Dia mendesah beberapa kali. Dan dia pun melanjutkan apa yang menjadi pekerjaanya.

Tangannya begitu lues ketika menorehkan cat air diatas kanvas. Seolah-olah kuas yang dipegangnya itu menari.

          “Kim Sohyun-ssi?”, suara berat seorang namja sejenak mengintrupsinya.

          “Ne. Saem…”, jawab gadis yang bernama Kim Sohyun itu reflek. Gadis berambut coklat, kulit putih, dan bibir merah itu nampak terkejut ketika guru seninya itu sedang memperhatikan lukisannya. Sohyun pun mengikuti ke arah gurunya itu memandang.

“Em… aku tidak bisa menafsirkan apa yang sedang kau gambar. Apa kau berkenan menjelaskannya kepadaku?”, kata guru muda itu. Wajahnya tampan- bahkan dia terlihat lebih cocok menjadi seorang idol dari pada seorang guru. Mata guru itu masih menatap lukisan di depannya. Sebuah lingkaran emas, yang bagian dalam lingkaran berwarna merah dan hitam yang tak beraturan. Sedangkan bagian luar lingkaran- berwarna biru muda yang sangat enak di pandang.

“Eoh… itu… itu…”, Sohyun bingung dengan jawaban apa yang harus diberikannya. Jujur, dia juga tidak tahu apa maksud yang digambarnya. Hanya saja selama menggambar, Sohyun teringat dengan salah satu ucapan teman sekelasnya.

Flashback

Sohyun melihat Lee Hi, teman satu kelasnya sedang bersedih. Dia baru saja dikerjai teman sekelas lainnya, sehingga kedua sepatunya basah. Ada gosip bahwa bisnis keluarganya akan segera bangkrut. Dan dia menjadi bahan bullyian di kelas selama beberapa hari ini.
Meskipun keduanya tak dekat. Sohyun merasa kasihan pada gadis itu.

“Kau bisa memakai sepatuku…”, Sohyun menyodorkan sepasang sepatu putih miliknya. Sohyun memang selalu membawa sepatu, seragam, mapun tas lebih- untuk disimpan di lokernya. Hanya untuk berjaga-jaga jika dia membutuhkan.

Sohyun tersenyum manis pada Lee Hi. Namun gadis itu justru menatap sebaliknya. Senyuman Sohyun menghilang, dia jadi merasa kikuk. Lee Hi pun bediri dan hendak berlalu.

“Chakkaman…”, cegah Sohyun. Dan Lee Hi langsung berbalik.

“Apa kau mau memamerkan kekayaanmu? Keure, keluargaku memang sedang diambang kebangkrutan. Tapi keluarga kaya seperti mu, apakah kau tahu rasanya? Semua orang menatapmu rendah dan mengacuhkanmu… Aku tak yakin, gadis sepertimu bahkan pernah meneteskan sir mata…”, kemudian gadis itu benar-benar pergi. Sohyun menundukkan kepalanya. Apa ada yang salah dengan kata-katanya? Apa perkataannya terlalu menyinggung.

‘Kau berkata seolah-olah tahu hidupku… Aku hanya berniat membantumu… dan aku tulus’, Sohyun mendesah.

Flashback End.

 

Waktu menunjukkan pukul 17.00. Kelas sudah berakhir 15 menit yang lalu. Namun Sohyun masih berada di bangkunya. Matanya melihat ke luar jendela.

Dibawah sana, terlihat beberapa siswa- mengenakan seragam basket berwarna merah, sedang bermain basket. Mereka adalah anak-anak eskul basket. Mata Sohyun berbinar ketika memperhatikan sosok yang selama ini dikaguminya diam-diam. Namja yang menggunakan jersey bernomor punggung 17, dibawahnya tertulis Hanbin Kim. Ya, namja itu adalah Kim Han Bin the prince of School. Dia juga berasal dari keluarga kaya. Sifatnya yang ramah membuatnya begitu dikenal. Dan dia- Han Bin tidak pilih-pilih dalam berteman.

Senyum Sohyun semakin mengembang ketika Han Bin berhasil memasukkan bola ke dalam ring dari garis luar. Han Bin benar-benar manis ketika tersenyum.

Namun tak lama kemudian, Sohyun harus merelakan senyumannya memudar. Setelah mencetak angka, dia- Han Bin berlari ke pinggir lapangan. Di sana sudah menunggu seorang yeoja. Ketika Han Bin sudah dihadapannya- yeoja itu mengelap keringat Han Bin dengan sapu tangannya. Han Bin kembali tersenyum. Dan Han Bin mengusap rambut yeoja itu. Manis sekali… itulah penafsiran Sohyun dari apa yang dilihatnya.

♥♥♥

          “Hanbin-a!”, Han Bin merasa ada yang memanggil namanya. Saat ini dia sedang bertanding basket bersama teman-temannya. Dan baru saja dia mencetak skor kemenangan bagi timnya.

Han Bin menoleh, dilihatnya seorang yeoja tengah melambaikan tangannya. Meminta dirinya untuk mendekat. Han Bin pun segera menghampiri yeoja itu.

          “Wae?”, tanyanya pada yeoja itu, ketika dia telah berada di depannya.

          “Illowa (kemarilah)…”, kemudian yeoja itu mengeluarkan sebuah sapu tangan. Dan tanpa persetujuan darinya, yeoja itu mengelap keringat yang mengucur diwajahnya.

Aigo! Kau seperti sedang mandi keringat…”, omel gadis itu. Han Bin hanya terkekeh geli mendengarnya. Omelannya sudah seperti omelan neneknya.

“Kau lucu jika mengomel… Seperti halmoni. Kekekee…“, kata Han Bin.

“Yak! Kim Han Bin!”, amuk gadis itu. Namun tiba-tiba Han Bin mengusap rambut gadis itu lembut- dan itu mampu meredakan amarahnya.

“Bagaimanapun, gomawo…“, Han Bin tersenyum tulus. Dia bersyukur memiliki sahabat seperti Lee Hi. Ya, yeoja itu adalah Lee Hi.

          Di ruang ganti pemain basket.

Semua orang sudah selesai membersihkan diri dan pulang ke rumah masing-masing.
Tersisa Han Bin dan seorang namja. Dia adalah Kim Jinhwan, sepupunya.

Hyung… malam minggu, ayo kita hangout“, ajak Han Bin. Dia memanggil Jinhwan, hyung- karena Jinhwan lebih tua darinya setahun. Dan Jinhwan adalah cucu tertua dari keluarga besarnya. Jadi siapapun sepupunya, harus memanggil dia dengan sebutan hyung.

          “Sirheo!”, jawab Jinhwan sekilas.

          “Wae?”, Han Bin terlihat merajuk.

“Aku ada kecannn~”, Jinhwan mengatakan kata kencan dengan bersenandung.

“Ahhh! Hyung… Tak bisakah kau membatalkannya. Aku kesepian…”, Han Bin kembali merajuk. Ya, dibalik tampangnya yang keren, Han Bin ini punya kebiasaan buruk. Yaitu merajuk dan bersikap seperti anak kecil jika keinginannya tidak dituruti. Dan tak ada seorang pun yang tahu, kecuali orang-orang yang sangat sangat dekat dengannya. (Wah. Berarti auhtor sangat2 dekat dengan Han Bin dong? Heheee… Please deh, thor! -_-)

Andwe! Aku sudah berjanji dan tak bisa mengingkarinya…”, kata Jinhwan kekeh.

“Lalu aku bagaimana, Hyunggg?“, Han Bin memanyunkan bibirnya. Dia kecewa dengan Jinhwan, yang lebih memelih bersama gadisnya daripada dengan dirinya. (Iyalah Bin… Kan Jinhwan cow normal, nggak LGBT)

“Makanya cari pacar…”, kata Jinhwan.

“Ck… itu terus yang kau katakan!”, kata Han Bin. Hyung nya benar-benar seorang play boy. Dikit-dikit tertarik sama yeoja inilah- itulah. Katanya cinta pada pandangan pertama. Dasar sok, emang dia tahu cinta itu apa…

“Kau tak bisa selamanya sendiri, Han Bin-a… Apa kau sadar, satu-satunya yeoja yang sangat dekatmu hanyalah Lee Hi. Apa kau ingin mengabiskan hidupmu bersamanya? Ya, kalau kalian akan terus bersama… Bagimana jika tidak?”, Jinhwan menasehati Han Bin bak penceramah handal.

Mereka berjalan beriringan di lorong sekolah yang sudah sepi. Hari sudah gelap, jam sudah menunjukkan pukul 18.00.

“Kalau begitu, aku hanya perlu memintanya (Lee Hi) untuk berada disampingku…”, jawabnya enteng. Bahkan dia tidak sadar dengan arti perkataannya barusan.

“Ya! Ya! Apa kau bercanda? Seolma… Kau bahkan tak menganggap Lee Hi sebagai wanita. Bagaimana kau bisa hidup bersamanya…”, Jinhwan benar-benar geram dengan sepupunya yang satu ini. Dia memang payah dalam percintaan. Padahal hanya dengan bermodalkan tampang saja, dia bisa memiliki wanita manapun yang dia mau. Seringkali Jinhwan iri dengan penampilan fisik Han Bin. Tapi jika masalah mendapatkan hati wanita, Jinhwanlah ahlinya.

Mereka pun telah berada di dalam mobil dan hendak pulang. Ketika mereka hampir sampai di pintu gerbang, Jinhwan melihat seseorang yang berdiri di depan pos satpam. Eoh, dia seorang yeoja. Untuk apa seorang yeoja berada disini, padahal kan jam malam tidak diperbolehkan untuk para yeoja.

Ketika jarak mereka semakin dekat, Jinhwan bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas.

“Oh… Kim Sohyun…”, pekik Jinhwan. Han Bin kemudian mengikuti ke arah pandangan Jinhwan tertuju. Seorang yeoja berdiri di depan pos satpam. Dia lumayan cantik, juga tinggi. Mungkin tingginya hanya beberapa cm dibawahnya.

          “Nugu?”, tanya Han Bin.

“Eoh. Gadis yang berdiri itu…”, tunjuk Jinhwan pada gadis yang tadi dilihatnya. Tepat saat itu berhentilah sebuah mobil hitam di depan gerbang. Dan itu menghalangi mereka keluar. Seorang pria paruh baya keluar dari pintu kemudi, dan dia melambaikan tangannya pada Jinhwan dan Han Bin. Bermaksud meminta maaf karena menghalangi jalan mereka dan meminta mereka menunggu. Pria itu membukakan pintu pada yeoja yang bernama Sohyun. Kemudian tak lama setelahnya mereka pergi.

“Tadi itu siapa, Hyung? “, tanya Han Bin.

“Yak! Kau tidak tahu? Dia itu Kim So Hyun. Pewaris tunggal Rose Grup… Dia itu dijuluki angel nya sekolah karena baik dan suka menolong. Dan kau tidak tahu? Ck… ck..  selama ini sebenarnya kau hidup di planet mana sih?”, kata Jinhwan panjang lebar. Dan sepertinya dia tahu banyak tentang Sohyun.

          “Nan, jinja molla, hyung…”, kata Han Bin. Walaupun dia memiliki banyak teman, dan suka bergaul dengan anak-anak kelas lainnya. Dia merasa seperti belum pernah melihat Sohyun sebelumnya. Atau sudah pernah melihat, tapi dia lupa. Entahlah- apapun itu.

          ‘Kim Sohyun… Dia kan hanya seorang yeoja. Malaikat apaan?’, gumam Han Bin.

-to be continued-

Yuhu.. cukup sekian update minggu ini…

Nantikan chapter selanjutnya, ya…

 

 

Iklan

10 pemikiran pada “[Chapter 4] Just Another Girl

  1. Astagaa, uri hanbin ga tau apa” soal cinta ckckck Pasti hanbin nnti penasaran sama soohyun, terus terus terus aaaarrrrggghhh.. Penasaraaannn, tapi aku lebih penasaran sama pasangan bobbyXsooyeon wkwkwk Lanjut lanjut.. 🙂

    Suka

  2. yaaaah.. jujur untuk chapter ini kurang greget sih. serius. mungkin chapter berikutnya lebih menguras air sumur eh mata maksudnya. ihihihi~~~

    oiya ais, aku baru sadar kalo ff ini pasti terinspirasong dari drama 2015 kan? apapun lah kutunggu saja lanjutannya. mangat!!! 😂😂😂😂💪💪💋👍👌

    Suka

    • Haha.. mian klo kurang greget. Insyaallah kedepannya ada yg lebih greget. Ditunggu aj ya…
      Iya, salah satu inspirasinya adalah school 2015. Tapi sebenarnya aku nyomot2 dri berbagai sumber lain juga. Hehee 😉

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s