[Chapter 5] Warm Cold

92412162-8ca8-448e-b453-28f00d084ff8

Kim Hanbin (iKon) , Han Soomi (OC), Goo Junhoe (iKon)

 Romance, School-life, Drama, Comedy

Warm Cold Series

Sophie Kim (astronautkim)

Tapi jika aku menang… kau harus berlutut dan meminta maaf padaku.

Lorong penuh oleh siswa. Soomi sedang mengambil salah satu novelnya di loker ketika lagi-lagi kerumunan siswa tersibak. Tak ada waktu baginya untuk kembali ke kelas karena sosok yang membuat seisi sekolah tunduk kini tengah melenggang dengan angkuh. Ia menolehkan kepala dan seolah tertarik magnet, mata hazel Soomi serta iris hitam gelap milik Junhoe saling terpaut. Lelaki itu menghentikan langkahnya.

Udara berhembus pelan. Tengkuk Soomi meremang. Junhoe menatapnya sekilas lalu mendengus. Ini saatnya untuk melaksanakan perjanjian dari pertandingan kemarin?

Sial, pertandingan kemarin…

            Junhoe harus menarik kembali pikiran bodohnya sebelum permainan dimulai tadi. Soomi tidaklah semudah yang dibayangkannya. Ia berbeda dengan pemain basket wanita kebanyakan. Mau tak mau, ia mengakui dalam hati jika lawannya ini cukup lihai. Keringat bercucuran deras dari sekujur tubuh gadis itu, tapi sorot matanya masih terlihat tenang dan tak menyiratkan lelah. Tapi tetap saja, kendali diri Junhoe lebih baik dari Soomi. Pertama, karena dia laki-laki. Kedua, karena ini permainan pertamanya hari ini, Soomi sudah melahap selusin pemain laki-laki sebelum Junhoe datang. Matanya memang masih menyiratkan semangat. Tapi fisiknya sudah mulai payah.

            Dunia seperti terputar balik. Soomi yang tadinya tak terkalahkan kini hampir tiba di ambang kehancuran masa-masa SMA-nya karena kalah bertanding dengan seorang lelaki sombong.

            Soomi sempat tertinggal 9 angka dan selama lima menit pertandingan semakin panas karena perolehan skor berhenti pada angka 22-13. Para penonton berulang kali menelan ludah, dengan fisik Junhoe yang lebih unggul, akan susah bagi Soomi untuk mampu mengejar ketertinggalannya. Sorakan-sorakan yang tadinya mayoritas diberi untuk gadis itu perlahan mulai teredam oleh gemuruh sorak yang mengagung-agungkan Junhoe. Penonton berkhianat, decih Soomi miris.

Saat permainan masuk pada menit ke sembilan, gadis itu mulai kesusahan menghirup nafas. Junhoe dapat melihat kemenangan yang berkilau sedang menyongsongnya. Ia melanjutkan permainan sembari dibayangi imaji akan kehancuran gadis tak tahu malu yang berani menamparnya. Membayangkan bagaimana Han Soomi akan menghabiskan masa SMA dengan menjadi budaknya.

Yang terjadi malah bencana. Soomi sempat sengaja mengendurkan permainannya untuk mengumpulkan napas namun tetap menjaga agar skor lawan tidak mencapai angka 26, karena sesuai perjanjian di awal, permainan akan berhenti jika salah satu dari mereka mencapai skor 26. Penonton mendesis ngeri saat melirik papan skor, 25-13. Apalagi yang bisa diharapkan? Tapi gadis itu sengaja membuat lawannya terlena dengan angka-angka itu hingga tak sadar jika energinya sudah kembali. Nyatanya belum ada yang mencapai angka 26, bukankah ia masih punya harapan?

Kegesitan Soomi kini mencapai puncak. Gerakannya begitu cepat hingga Junhoe tak mampu membaca taktik yang digunakannya. Lelaki itu seakan ditampar dengan es batu di hari terdingin di musim salju, matanya terbelalak lebar sadar jika ia sempat lengah. Ia berusaha menahan gerakan lawan tetapi kewaspadaannya hilang ditelan rasa terkejut. Sebelum ia mampu kembali berpikir jernih, skor mereka telah seri. 25-25.

Soomi menjadi lebih tenang. Seperti sengaja membuat permainan menjadi seri. Agar klimaks lebih terasa?

            Dan sepertinya memang begitu.

            Soomi baru saja berhasil merebut bola dari kendali Junhoe. Untung saja mereka belum memasuki garis three point sehingga gadis itu bisa langsung drive menuju ring untuk melakukan lay-up pamungkas. Tapi Junhoe tak semudah itu melepaskan musuh. Ia segera berlari dan menghadang Soomi. Body contact yang tak terkira terjadi dengan sangat kuat. Gadis itu jatuh terjerembab terhantam badan Junhoe yang jangkung. Bolanya direbut. Seluruh penonton meringis. Ini adalah pertama kalinya Soomi terjatuh setelah bermain hampir satu jam non-stop.

            Tak berniat membuang kesempatan, Junhoe langsung mendribble bola menuju luar garis three point. Sorak-sorai semakin bergemuruh menandakan bahwa kemenangan Junhoe sudah di depan mata.

            “Goo Junhoe! Goo Junhoe! Goo Junhoe!” nama Junhoe memang sudah malang melintang dalam dunia basket tingkat SMA. Entah sudah berapa permainan ia menangkan dan entah berapa gelar MVP ia rebut. Sehingga mayoritas pendukung yang memenuhi pinggir lapangan basket, sedikitpun tak ragu akan kemampuannya. Track record-nya sempurna.

Tapi bukan Soomi namanya jika ia dengan mudah mengalah. Segera ia bangun dan berlari menuju Junhoe. Benar saja dugaannya, lelaki dengan alis tebal itu melakukan three point shoot. Permainan akan benar-benar berakhir jika bola itu berhasil masuk. Soomi akan benar-benak menjadi budak hingga habis masa mudanya.

            Tapi dewi fortuna masih memberinya sedikit harapan. Soomi tiba tepat saat bola baru dilepas. Dengan lompatan tinggi andalan, Soomi melakukan blocking kepada lelaki yang lebih jangkung 15 cm darinya. Bola memantul kembali ke lapangan membuat lelaki itu terkejut. Secepat mungkin Soomi mendarat lantas mengejar bola. Tanpa memberi kesempatan kepada Junhoe untuk kembali menghadang, gadis itu telah berlari dan melompat menuju ring. Melakukan jump shoot yang mematikan.

            Wasit lantas meniup peluit, tanda permainan berakhir.

            Suasana sempat hening selama beberapa sekon. Goo Junhoe dikalahkan seorang gadis? Itu benar-benar keajaiban! Dan lalu riuh tepuk tangan membahana bercampur dengan jeritan-jeritan takjub. Napas Goo Junhoe tersengal-sengal tak karuan, bercampur antara tak percaya dan lelah. Tubuh Soomi kini benar-benar bermandikan peluh, sesekali ia mengerjapkan matanya karena ada keringat yang tak sengaja masuk dan membuat matanya perih.

Dengan senyum lebar, ia melangkah menuju lawannya. Menjulurkan tangan yang lalu disambut Junhoe dengan malas. Menjaga sportivitas antar pemain. Walau terpampang jelas ekspresi muak di wajah lelaki itu.

“Pelatihku selalu berkata bahwa di lapangan basket, semua orang adalah laki-laki. Gender mereka sama ketika permainan dimulai. Itulah mengapa aku tak sedikitpun takut untuk melakukan body contact, walau aku tahu kau sedikit ragu diawal karena aku perempuan,” Soomi tersenyum kecil ketika bersalaman lalu memberi sebuah botol minum yang tadi disodorkan oleh seorang penonton.

Namun, senyum polos itu berganti menjadi sedikit mengejek saat kemudian ia berkata, “Tapi aku tak menyangka akan bertemu seorang wanita di lapangan basket hari ini.”

Lalu gadis itu melangkah pergi meninggalkan Junhoe yang tercengang, mengumpat raut datar yang diberikan padanya sekejap sebelum gadis itu berlalu. Segera ia melempar botol minum yang diberikan Soomi hingga menghantam punggungnya. Membuat kaos yang tadinya basah karena keringat kini ikut basah terkena air. Tak puas. Ia lalu meraih bola basket yang menggelinding lantas membanting ke lapangan sekuat tenaga bermaksud untuk sekedar meluapkan emosi tapi malah membuatnya terpantul tinggi ke langit dan mendarat tepat di kepala Soomi. Seluruh penonton menjerit histeris.

Gadis itu jatuh tersungkur ke lapangan.

“Han Soomi!!”

Seseorang menjerit diantara derap larinya. Saat itu juga pandangan Soomi memburam.

Seluruh siswa yang tadinya tenang kini sibuk berkasak-kusuk, membicarakan mengapa Goo Junhoe tiba-tiba berhenti melangkah. Beberapa mencoba mencari arah tatapan lelaki itu. Seolah ingin menjawab seluruh rasa tanya, Soomi langsung melangkah keluar dari kerumunanan yang kembali senyap. Terdengar puluhan helaan nafas. Semua mata membeku, menanti pertunjukkan lain yang akan terjadi.

Annyeong, Junhoe,” Soomi tersenyum ringan sembari melambaikan tangannya sedikit ceria. Sedikit.

Lelaki itu tak menggubris. Matanya menatap nyalang dan deru napasnya sedikit lebih cepat. Yang ditatap malah melipat kedua tangannya.

“Wah… wah… Sombongnya kau tidak mau membalas sapaanku.”

Junhoe mendecih sebal. “Ah, aku lupa kita bukanlah teman lagi, bukan begitu?” Lanjutnya. Beberapa siswa mengerutkan dahi, menemukan kejanggalan dalam kalimat Soomi. Lagi?

Kelopak gadis itu sedikit menyipit, menyorotkan aura intimidasi. Tanpa takut-takut ia sedikit mencondongkan kepalanya mendekat. Menantang sang singa yang balas menatapnya waspada.

Ujung bibirnya terangkat sebelah, “Apa yang kau tunggu?”

Junhoe mengutuk dalam hati. Mengutuk Soomi, mengutuk seluruh siswa yang memenuhi koridor, mengutuk dirinya sendiri. Sejenak dipejamkan matanya. Nafasnya tertahan. Lalu tanpa diduga-duga ia berlutut. Tak pelak, rentetan pekikan terdengar di sepanjang koridor.

Omo?! Apa yang dia lakukan? Ada apa dengan Goo Junhoe? Apa yang sedang terjadi?!

Berbagai bisikan tak tentu arah diucapkan membuat siswa sibuk berkasak-kusuk. Sekejap kemudian, seluruh siswa sibuk mengabadikan momen langka saat-saat Goo Junhoe ‘dijinakkan’. Hal ini akan menjadi trending topic selama sebulan penuh.

“Maafkan aku Han Soomi.”

            Pekikan dari para siswa semakin membahana. Kilatan flash berpadu dengan bunyi shutter kamera ponsel. Lelaki itu masih memejamkan matanya. Dan gadis itu masih melipat tangannya.

            “Lebih keras,” sahutnya tenang.

            “Maafkan aku, Han Soomi,” ulangnya setengah hati.

            Soomi merubah posisi kakinya, memancing Junhoe untuk mendongakkan kepala, mengira ini telah berakhir. “LEBIH KERAS!” teriaknya tanpa diduga-duga membuat seluruh desas-desus menguap begitu saja. Teriakan yang berselimut emosi dan sakit hati. Teriakan yang merupakan pelampiasan dari luka mendalam yang telah tersimpan bertahun-tahun. Tak terasa, air matanya menggenang tipis.

            Tubuh Junhoe bergetar karena perasaan aneh tiba-tiba menghujam ulu hatinya. Ada yang tak beres. Ketika dirinya dihujat ribuan kata makian oleh sang nurani dikala otaknya mengucapkan jutaan sumpah serapah kepada gadis yang ada di hadapannya. Ada yang salah. Hingga ia tak sadar suaranya menjadi lebih lantang sekaligus bergetar ketika mengucapkan, “Aku bersalah… Maafkan aku.”

            Matanya bergetar, ia mendadak kehilangan keberanian untuk kembali mendongak. Kelopaknya tak henti mengerjap. Lalu dilihatnya gadis tadi berjongkok dihadapannya. Mensejajarkan wajah mereka. Setitik tangis tergantung di ujung matanya. Namun ekspresinya datar.

            “Sayang sekali…” ia menjeda, “Aku hanya akan memberi maaf ketika kau ingat seluruh kesalahanmu,” pungkasnya setengah berbisik dengan dingin dan menusuk.

            Lalu segalanya berakhir. Gadis itu melangkah pergi. Lagi-lagi Junhoe ditinggalkan bersama dengan perasaan aneh yang menderanya.

            “Jika aku menang, maka kau harus berlutut dan meminta maaf padaku.”

            Hanbin masih ingat dengan jelas tantangan yang diajukan oleh Soomi saat permainan hendak dimulai, kemarin. Itulah mengapa ia ikut pergi ke koridor, menyusup diantara kerumunan siswa di sisi yang berseberangan dengan gadis itu.Ia melihat semuanya. Bahkan ketika gadis itu melangkah pergi, iapun mengikuti.

            Selepas berbelok di persimpangan, gadis itu segera berlari di koridor yang lengang karena ditinggal seluruh siswa yang tengah sibuk mengabadikan momen-momen Goo Junhoe. Soomi berlari secepat yang dibisanya, membuat Hanbin agak kewalahan karena gadis itu begitu gesit saat berbelok di persimpangan lain. Hampir saja ia kehilangan Soomi.

            Isak tangis tak lagi tertahan ketika tujuannya tercapai. Ia duduk di salah satu anak tangga yang terletak di ujung gedung. Tempat ini hampir jarang terjamah siswa karena letaknya yang cukup jauh dari pusat sekolah. Lelaki itu memutuskan untuk bersembunyi dibalik sebuah tembok. Jeritan tertahan yang bercampur dengan tangis itu terdengar sangat parau dan begitu pilu. Sarat akan rasa sakit. Tangis sesenggukannya terus menjadi-jadi sekalipun sudah ditahan sekuat tenaga. Mungkin saja telapaknya akan berdarah karena jemarinya mencengkeram terlalu erat.

            Di balik tembok, Hanbin menghela napas dengan berat. Dadanya terasa sesak mendengar erang tangis Soomi. Selama lebih dari lima belas menit ia berusaha menahan diri. Kakinya sedari tadi berusaha memberontak ingin menghampiri. Dan tangannya terasa gatal. Sedang dadanya terasa panas. Hingga akhirnya ia benar-benar tidak bisa mengontrol rasa di hatinya.

            Berat langkah ia ambil untuk lalu duduk di samping Soomi yang masih sesenggukan namun sudah lebih tenang dari sebelumnya. Disentuhnya bahu yang masih berguncang itu pelan. Lalu tangannya beralih menuju pucuk kepala Soomi. Dielusnya perlahan, mengirimkan sinyal-sinyal ketenangan yang membuat guncangan itu perlahan mereda.

            “Ke-kenapa kau disini?!” Soomi bertanya dengan susah payah.

            Lelaki itu tersenyum kecil. Tangan besarnya terus mengelus rambut Soomi dengan lembut. “Kau sangat berani rupanya,” jawabnya, sedikitpun tidak menanggapi pertanyaan orang disampingnya.

            Gadis itu terdiam. Hilang sudah tangisnya. Napasnya juga lebih tenang. Hanbin menarik tangannya, menyimpannya kedalam saku celana. Lengang sejenak. Ia sengaja membiarkan Soomi menarik napas panjang sepuasnya lantas mengusap tangis dari wajahnya. Dalam diam, Hanbin menyodorkan selembar tisu yang tanpa ragu langsung diraih.

            Bel pelajaran pertama baru akan berdering tiga puluh menit lagi. Ia tidak ingin terburu-buru kembali ke kelas. Nantinya akan membuat seluruh teman-temannya bingung jika mereka mendapati jejak tangis di wajahnya. Gosip lain akan beredar. Permintaan maaf Junhoe pagi ini bisa saja tak berguna. Para siswa akan menyimpulkan bahwa ia menangis karena Junhoe mendatanginya dan tidak terima. Ah, dasar gossip. Bahkan hal paling tak masuk akal pun dianggap benar.

            “Minum?” lelaki itu, yang keberadaannya hampir dilupakan Soomi, menyodorkan sekaleng soda. Ujung bibir Soomi terangkat kecil.

            Ditenggaknya minuman berkarbonasi yang langsung membakar kerongkongannya. Desisan soda didalam kaleng meninggalkan percikan-percikan kecil. Aromanya menguar, “Minum soda di pagi hari bukanlah hal yang bagus. Tapi akan kuhitung sebagai pengecualian hari ini.”

            “Bagaimana kau bisa tahu aku disini?”

            Hanbin menoleh kearah Soomi dengan ekspresi sebal, “Suara tangismu memenuhi lorong.”

            Mata hazel itu membulat sempurna bersama dengan bibir tipis yang menganga lebar. Tangan kiri Soomi menutup mulutnya tak percaya. Ia sedikit merundukkan kepala ketika ia berbisik, “Apa aku menangis terlalu keras?” Matanya menjelalati sekitar. Tak akan mudah baginya jika ada rumor tak benar yang tersebar tentang kejadian hari ini.Han Soomi tak selamat setelah menekuk lutut Goo Junhoe! Han Soomi terkena batunya! Gosip-gosip murahan akan menyebar dengan cepat.

            Tapi Hanbin malah terkekeh. Ia membuang wajah, tak tahan menatap wajah terkejut Soomi. Berusaha menahan getaran diperutnya, “Kau begitu mudah ditipu rupanya.”

            Raut waswas berubah menjadi geram. Soomi meletakkan kaleng soda di salah satu anak tangga. Lantas ia memukuli lengan Hanbin, membuat lelaki itu tertawa semakin menjadi-jadi. “Yaaa… Kau Kim Hanbin! Kau bercanda di saat yang tidak tepat!”

            Lelaki itu nampak pasrah mendapat pukulan dari Soomi yang baru berhenti ketika gadis itu merasa bosan tak menerima penolakan dari Hanbin. Gadis itu langsung merengut kesal. Memanyunkan bibirnya dengan pipi menggembung. Tangannya terlipat sempurna di depan dada. Matanya menatap nyalang. Tanpa sempat disadarinya, jemari Hanbin sudah menarik ikatan rambut Soomi, membuat rambutnya tersibak. Mengaturnya dengan tergesa, memanfaatkan detik-detik saat Soomi kehilangan kesadarannya.

            “Kau terlihat imut jika seperti ini.”

            Oh Tuhan…. Tak pelak pipi Soomi semerah traffic light. Aliran darahnya terpusat pada wajah. Dan lelaki itu semakin terbahak melihat reaksi dari gadis dihadapannya. Mungkin jika ini adalah anime atau komik-komik, dari telinga Soomi sudah keluar kepulan asap.

            “Kau menjadi seperti anak kecil yang permennya diambil.”

            Tanpa permisi, lelaki itu mencubit kedua pipi Soomi lantas menyentil ujung hidung gadis dihadapannya dengan usil. Tapi ia sedang tidak ingin diperlakukan seperti itu. Dan kata-kata Hanbin sedikit menyulut emosinya. Anak kecil?

            “Dasar kurang ajar Kim Hanbin!” teriaknya menggelegar.

            Tanpa di duga siapapun –bahkan aku sebagai penulis cerita ini juga tak menduga- Soomi melemparkan sebuah tinju tepat di pipi Hanbin. Bukan tamparan. Tapi tinju. Hanbin yang tidak memasang pertahanan apapun langsung terguling dan hampir terpeleset di ujung anak tangga. Soomi langsung berdiri dengan bersungut-sungut.

            “Harusnya kau tahu situasi untuk bercanda! Sa-ma-se-ka-li-ti-dak-lu-cu!”

            Dengan langkah berat yang berdentam-dentam ia meninggalkan Hanbin. Lelaki itu tersenyum lebar seraya berteriak keras-keras, “Tapi kau tidak menangis lagi, bukan?” membuat gadis itu berbalik menunjukkan wajah memerah penuh emosi. Hanya sedetik, karena lalu ia berbalik dan melanjutkan langkahnya.

            Hanbin merasa geli, ia mengusap darah yang merembes di ujung bibirnya, “Kau gadis yang kuat rupanya.”

            Fisika. Pelajaran yang paling di benci Soomi maupun seluruh siswa di kelas ini. Pelajaran paling logis yang sekaligus paling tidak masuk akal, karena bahkan Kyungsoo, si ketua kelas, tidak pernah mendapat nilai 90 di mata pelajaran ini. Padahal dia adalah murid terpintar di sekolah. Parahnya, fisika adalah pelajaran paling membosankan. Entah karena gurunya sama sekali tidak menarik saat menjelaskan atau memang karena materinya terlalu rumit.

            Separuh siswa tak bisa menahan diri untuk tidak menguap. Bahkan Soomi yang tergolong siswa rajin dan selalu berperilaku baik jika di dalam kelas, saat ini tengah berjuang melawan kantuk. Hingga segumpal kertas memantul di atas tumpukanworksheet-nya yang baru setengah terisi. Ia heran. Diliriknya Han-saem, memastikan bahwa guru muda itu masih asyik menuliskan sesuatu di papan. Lalu ia memutar tubuhnya, meneliti setiap wajah siswa di kelas ini. Tapi selain wajah mengantuk, yang ada hanyalah wajah-wajah menahan kantuk.

            Dengan acuh, gadis itu semakin meremas-remas kertas itu dan hendak melemparnya keluar jendela. Hingga sebuah suara terdengar.

            “Ssssst…. Sssssst….. Han Soomi!” desis seseorang sangat pelan. Gadis itu tersenyum miring. Umpannya ditangkap.

            Iapun memutar tubuhnya untuk mendapati Hanbin tengah melayangkan lirikan tajam. Soomi tahu bahwa harusnya sejak awal ia membuka bola kertas itu, ia hanya ingin memastikan siapa yang melemparnya di tengah pelajaran. Malas-malas ia membuka gumpalan itu. Buka handphone-mu.

            Sekali lagi Soomi memastikan Han-saem benar-benar tidak memperhatikan siswanya, ia lalu merogoh saku jas seragam bagian dalam. Mengambil ponsel dan langsung sembunyi-sembunyi mengetuk layarnya pelan dibalik loker mejanya. Blacklight-nya segera menyala, menunjukkan beberapa notifikasi masuk dari SNS, handphone-nya sengaja di-settingsilent sehingga tidak ada bunyi maupun getaran saat notifikasinya masuk. Sejak kapan Kim Hanbin tahu akun SNS-nya?

            Dengan beberapa usapan, ia lantas membaca isi pesan yang dikirimkan lelaki itu.

BeIKim            : Hey, Han Soomi. Temui aku di lapangan parkir sepulang sekolah

            Dahinya mengerut kecil.

MySoomi        : Untuk apa?

BeIKim            : Bersenang-senang

MySoomi        : Bermimpilah saja

BeIKim            : Apa kau ingin melanjutkan ‘acara menangis’mu itu?

MySoomi        : Apa pedulimu?

BeIKim            : Hmmm… menurutmu?

            Soomi mendecakkan lidah dengan kesal. Ia melirik ke belakang. Hanbin menatap kearahnya. Lalu ia sedikit menggerakkan dagu kedepan, menyuruhnya untuk melanjutkan chat.

MySoomi        : Jika kau berhasil mendapat nilai seratus di kuis fisika hari ini, aku akan mempertimbangkannya

BeIKim            : Apa tak ada tantangan lain?

MySoomi        : Kau mau menyerah sebelum berperang? Dasar lelaki pengecut

BeIKim            : Oh, siapa bilang aku akan menyerah? Aku hanya memastikan apa tidak ada tantangan yang lebih sulit lagi?

MySoomi        : Sudahlah, bisa mendapat nilai lebih dari 20 di kuis fisika Han-saem saja,kau tidak pernah

BeIKim            : Baik. Kau harus menepati janjimu!

MySoomi        : yes, sir

MySoomi        : Omong-omong, dari mana kau tahu akun SNS-ku?

BeIKim            : Jika kau ingin tahu, maka temui aku di lapangan parkir saat pulang sekolah 🙂

MySoomi        : Lupakan.

            Tepat setelah Soomi mengakhiri chat mereka. Han-saem berbalik lalu mengumumkan bahwa kuis fisika hari ini akan segera dimulai.

            Bel sekolah-pun berbunyi.

“Kau benar-benar harus menceritakan banyak hal padaku, Soomi-ah.”

            Gadis itu berusaha sedikit acuh lalu membuka pintu lokernya sehingga menutupi wajah lelaki itu. Tapi ia masih gigih lalu berpindah ke sisi lain dan menyandarkan bahu kanan sambil melipat tangan dan menatap menyelidik. Gadis itu menjadi gerah sendiri. Sehingga dia menjawab, “Memang apa yang ingin kau dengar, Jung-ssi?” sembari ikut melipat tangan.

            Chanwoo merapatkan pupilnya, “Apa yang terjadi antara kau dan Junhoe setelah tragedi jaket itu?”

            Soomi memutar bola matanya. Mencoba mencari jawaban yang tepat. Tanpa harus membahas kejadian 8 tahun yang lalu. Atau jauh sebelum delapan tahun yang lalu. “Junhoe berusaha memangsaku beberapa minggu terakhir. Dan aku hanya berusaha menghindarinya. Sudah, tak ada hal lain.”

            Tapi mata bulat itu jelas nampak tidak puas dengan jawaban sahabatnya. Kerutan di dahinya semakin dalam. Tubuh jangkung itu sedikit maju mendekat membuat Soomi terpaksa kembali melanjutkan, “Oh oke, kemarin aku dan Junhoe bermain basket sambil bertaruh. Lalu dia kalah, dan dia harus melaksanakan tantangan yang kuajukan. Sudahlah, Chanwoo-ya, ini bukanlah hal yang penting.”

            “Kau terlihat menyembunyikan banyak hal dariku.”

            Kerucut di bibir Chanwoo semakin meruncing. Seruncing rasa penasarannya. Penjelasan dari Soomi sama sekali tidak mengobati keingintahuannya. Ada hal yang ditutupinya, tapi ia sendiri tak tahu apa. Ribuan kata protes hendak terlontar namun harus tertahan saat seorang gadis berkulit eksotis dengan rambut sebahu yang digerai menghampiri mereka. Seorang sunbae yang menjadi idola Soomi.

            “Hai, Soomi,” ia menyapa dan dibalas dengan anggukan kecil. “Aku Park Minhye kelas 3. Lebih jelasnya aku kapten tim basket Seoul Heroine. Klub basket wanita di Seoul, khusus pelajar dan mahasiswa. Aku melihat pertandinganmu kemarin, sejak awal hingga kau mengalahkan Goo Junhoe. Benar-benar permainan yang menyenangkan dan menegangkan. Aku disini untuk menawarimu bergabung dengan Seoul Heroine. Musim depan ada kompetisi nasional, dan kuharap kau bisa menjadi bagian dari kami. Melihat kemampuanmu yang menakjubkan, kurasa peluangmu sangat besar untuk mampu menjadi pemain starter.”

            Soomi membuka matanya lebar-lebar lantas menatap Chanwoo sejenak. Sahabatnya itu bereaksi yang sama. Siapa yang tidak kenal dengan Seoul Heroine? Apalagi Soomi? Ia adalah penggemar berat Seoul Heroine. Bahkan tanpa perlu sunbae-nya ini mengenalkan diri, ia sudah tahu. Bisa dibilang, Minhye adalah salah satu shooter favoritnya.

            Minhye tertawa kecil melihat respon Soomi. “Oh iya, bagaimana keadaanmu setelah pingsan kemarin?”

            “Pingsan?!” Chanwoo memotong cepat. Kelopaknya terbelalak lebar-lebar.

            Gadis itu mengacuhkan pertanyaan retoris dari sahabatnya dan menjawab idolanya dengan senyuman, “Sekarang aku sudah baik-baik saja.”

            Minhye mengangguk-angguk, masih dengan lengkung di bibirnya. Berbeda dengan Chanwoo yang wajahnya semakin dipenuhi kerutan rasa penasaran karena ia melewatkan banyak hal tentang Soomi belakangan ini. “Siapa lelaki yang menggendongmu pulang kemarin? Dia orang pertama yang berlari menghampirimu sambil meneriakkan namamu keras-keras. Apa dia pacarmu?”

            Kini Soomi ikut mengerutkan kening layaknya Chanwoo. Dengan cepat ia memungkas, “Menggendong? Aku tidak tahu soal itu.”

            “Benarkah?”

            Soomi mengangguk kecil.

            “Yang jelas, lelaki itu langsung kebingungan saat tubuhmu oleng. Ia bahkan menggendongmu sambil berlari. Melihatmu hari ini baik-baik saja, kurasa lelaki kemarin adalah orang yang baik.”

            Dan begitulah akhir percakapan mereka. Minhye meminta Soomi untuk memikirkan dengan matang-matang tawarannya. Jika ia sudah yakin untuk memutuskan pilihan, Minhye akan siap mendengar jawaban apapun yang hendak dikatakannya. Selepas itu, Soomi ditinggalkan berdua kembali dengan Chanwoo yang kini menatapnya nyalang. Menuntut seluruh isi cerita dari mulutnya sendiri.

            Gadis itu menatap datar.

            “Teman dekat? Lelaki? Apa yang dimaksud… aku? Tapi aku bahkan tidak tahu jika kau kemarin bermain basket.Hingga pingsan. Dan digendong?” ujar Chanwoo dengan mata memicing tajam.

            “Jangan bertanya padaku, karena aku sendiri tidak tahu.”

            Tapi lelaki itu masih tidak percaya.

            “Katakan saja kalau kau punya pacar. Katakan saja kalau kau bosan terus bersama Jung Chanwoo yang kekanak-kanakkan. Jangan perlahan-lahan pergi, seolah melupakan bahwa aku adalah sahabatmu,” desis Chanwoo pedas dengan maksud bercanda seperti biasa.

            Tapi hal itu malah memantik emosi Soomi. “LALU KAU APA?!” teriaknya kencang-kencang, mengundang semua mata melihat ke arahnya. Bisikan-bisikan lirih terdengar. Ada apalagi dengan Han Soomi? Apa kini Jung Chanwoo yang malang membuat gara-gara dengannya?

            Lelaki itu malah menjadi bergidik ngeri ketika diteriaki Soomi. Ia berhasil memancing emosinya dan itu bukanlah hal yang baik. “Kau selalu menghabiskan waktu bersama Donghyuk, Yunhyeong-sunbae, Jiwon-sunbae, dan Jinhwan-sunbae. Bahkan Donghyuk kini tidak pernah mampir ke rumahku lagi. Kau juga sering menghilang! Aku lebih sering menghabiskan waktu dengan Yoojung dan Sophie, si murid pindahan. Aku yakin, kau bahkan tidak sadar, bukan? Apakah aku harus lapor padamu jika aku aku punya pacar atau tidak?! Kau bahkan tidak pernah mengatakan kejelasan hubunganmu dengan Ahn Hani, si adik kelas itu. Tiap hari kau makin dekat dengannya hingga kau tak punya waktu untuk dihabiskan denganku!” Soomi mencerocos secepat shinkansen, kereta kilat asal negeri seberang.

            Lelaki itu menelan air liurnya. Matanya membulat sempurna. “Apa aku belum mengatakan kepadamu bahwa aku dan Hani sudah berpacaran sejak sebulan yang lalu?”

            Bodohnya Chanwoo, ia malah semakin memancing emosi Soomi. Tak pelak berbagai pukulan baik mulai dari yang sekedar bercanda hingga yang seratus persen beringas menghujam Chanwoo. Membuat mereka berlarian di sepanjang lorong. Tak menyadari keberadaan siswa-siswi yang sibuk menyingkir. Hingga akhirnya mereka hampir saja menabrak seseorang. Goo Junhoe.

            Mereka bertiga segera mematung. Junhoe menatap dengan sinis yang dibalas acuh oleh Soomi. Udara menggantung dengan berat, rasa canggung menguar. Seluruh siswa yang berada di lorong itu pasti dapat merasakan angin dingin menusuk kulit. Karena itu Chanwoo memutuskan untuk menarik tangan Soomi. Mengajaknya menuju lobi yang lebih ramai dan hangat. Junhoe sendiri memutuskan untuk tidak peduli. Mereka melanjutkan langkahnya.

            “Ayo pulang bersama.”

            Soomi menggeleng pelan dan mengangkat bahu, “Kim Hanbin menyuruhku menemuinya di parkiran saat pulang sekolah.”

            Lagi, dahi Chanwoo mengernyit, “Kim Hanbin? Apa kau membuat masalah dengannya? Atau kau belum mengganti jaketnya yang sobek?” sekilatan memori melintas. Ya, gadis itu lupa perihal jaket yang sobek karenanya –walau lebih tepatnya karena Junhoe- setelah berbagai kejadian yang terjadi beberapa minggu ini.

            “Siapa kira jika anak pemalas seperti dia mampu mendapat nilai sempurna pada kuis fisika tadi? Bahkan Kyungsoo tidak pernah, sekalipun.”

            “Lantas?”

            “Aku terjebak janji dengannya.”

            Belum sempat Chanwoo menanyakan lebih lanjut maksudnya, tapi Soomi telah memilih berbelok menuju parkiran. Membuat lelaki itu tercengang lantas berhenti. Retinanya menangkap keberadaan Hanbin di kejauhan sedang duduk diatas motor sport berwarna biru metalik yang sangat keren. Ia hanya duduk sambil bersiul. Terlihat seperti… menunggu? Dan benar saja, ketika gadis itu mendatanginya, ia segera berdiri dengan tegak lantas membenahi tatanan rambutnya dalam sekejap. Demi membunuh rasa tidak percaya yang memenuhi akalnya, ia mencermati pergerakan lain yang dibuat sahabatnya itu.

            “Oppa!” sebuah suara imut memanggil lalu lengan Chanwoo digaet. Ia menoleh pada gadis di sampingnya yang hanya setinggi bahunya. Lelaki itu tersenyum kecil.

            “Bukankah kau ada kerja kelompok dengan Sera?” Chanwoo menyahut.

            Gadis itu, Ahn Hani, menggeleng cepat. Pipi tembamnya membuat Chanwoo gemas lantas mencubitnya kecil. “Sera membatal—“

            Tiba-tiba tubuh Chanwoo terhuyung ke arah Hani membuat gadis itu kebingungan menahan badan jangkung itu agar tidak ambruk menimpanya. Ia hendak berteriak marah kepada siapapun yang tadi menabraknya. Tidak bisakah orang itu melihat keberadaan tubuh menjulangnya?

            Tapi tidak ada siapapun.

            “Huwaaaa!!” seseorang memekik.

            Tubuh Hani menghentak, “Soomi-sunbae!” jemarinya teracung kearah gadis yang juga ditabrak oleh orang yang sama. Gadis itu hampir saja terhempas ke bumi jika saja Hanbin tidak menahan sikunya.

            Soomi menatap nyalang kearah pelaku penabraknya. Dan, oh Tuhan, dia adalah Goo Junhoe! Apa dia masih mau melanjutkan pertengkaran diantara mereka? Jangan katakan bahwa ini hanya karena ia dan Chanwoo hampir menabraknya di koridor!

            “Ya—“ baru saja ia hendak berteriak, namun segera Hanbin menahan lengannya. Seolah mengatakan ‘jangan katakan apa yang hendak kau katakan dan jangan lakukan apa yang hendak kau lakukan’.

            Soomi menatap Hanbin dengan marah. Baru saja ia akan menghentakkan tangannya ketika lelaki itu sendiri yang terlebih dahulu melepaskan cengkeramannya. Ia lalu melangkah menuju Junhoe yang sedang mengenakan jaket kulitnya dengan tergesa-gesa. Sebelum helm di atas jok motor menutupi wajahnya, Hanbin segera menepuk bahu lebar itu.

            “Apa yang tengah terjadi?” tanyanya tenang walau sebenarnya ia sedikit khawatir.

            Lima tahun sudah ia mengenal Junhoe untuk mengetahui bahwa lelaki itu tidak akan melakukan tindakan gegabah yang membahayakan orang lain untuk sekedar usil. Ada hal lain. Hal yang tak main-main.

            Lalu Junhoe menoleh. Dari tempatnya berada, Soomi dapat melihat wajah itu. Air mukanya nampak gelisah. Seperti ibu yang kehilangan anak. Seperti kucing yang ditinggal majikannya. Alis tebal itu jatuh melengkung. Sorot matanya lemah dan penuh kebingungan. Dan bibir itu berujar dengan sedikit gemetar.

            “Yoon Nara…” ucapnya setipis desauan angin.

-fin-

Iklan

3 pemikiran pada “[Chapter 5] Warm Cold

  1. Huwalaaaa lama banget gak baca ff di ifi, kangeeen gilak. Ini salah satu ff fav aku, dan hampir setahun nih ff ditelurkan dan ditelurkan kembali. Ah aku suka hubungan soomixhanbin, ya kayak ada manis2nya gitu deh. Wkwkwk. Tp aku juga penasaran sama isi hatinya june.

    Heyya sophie lama tak bersaparia. Apa kabarmu? Kangeen sama tulisanmu. Sungguh😭😭😭😭
    Kutunggu karyamu berikutnya. Semangat😘😚😚😚😚💪❤💋

    Suka

  2. Huwalaaaa lama banget gak baca ff di ifi, kangeeen gilak. Ini salah satu ff fav aku, dan hampir setahun nih ff ditelurkan dan ditelurkan kembali. Ah aku suka hubungan soomixhanbin, ya kayak ada manis2nya gitu deh. Wkwkwk. Tp aku juga penasaran sama isi hatinya june.

    Heyya sophie lama tak bersaparia. Apa kabarmu? Kangeen sama tulisanmu. Sungguh😭😭😭😭
    Kutunggu karyamu berikutnya. Semangat😘😚😚😚😚💪

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s