[Chapter 6] Warm Cold

92412162-8ca8-448e-b453-28f00d084ff8

Kim Hanbin (iKon) , Han Soomi (OC), Goo Junhoe (iKon)

 Romance, School-life, Drama, Comedy

Warm Cold Series

astronautkim

Semua siswa langsung menyingkir ketika mendengar deruman khas motor Junhoe. Jika sedang dalam mood baik ia akan berkendara dengan normal seperti orang kebanyakan. Tapi menghitung dari korban tabraknya saat ia berlari sepanjang lorong hingga tempat parkir, seluruh siswa menyimpulkan bahwa untuk hari ini Junhoe dan motornya bisa menjadi perpaduan yang mematikan. Terlepas dari fakta bahwa semua orang segan dengannya.

            Mentari merangkak perlahan di kaki langit menyisakan semburat mega di wajah Seoul tanpa membiarkan setitik awan mengisi. Sesekali orang-orang yang berjalan di tepian mendongak dan menikmati pemandangan indah ini. Bahkan mungkin para pengendara juga menikmati sore yang damai ini sehingga mereka ikut merangkak bersama jingga. Tapi tak ada waktu bagi Junhoe. Keindahan langit sore ini bisa saja menjadi ironi paling menyakitkan untuknya. Suara deruman motornya mengisi udara. Entah angka berapa yang ditunjuk oleh spedometernya. Melejit diantara keramaian, Junhoe berpacu dengan waktu, mengelak di detik-detik terakhir lampu hijau.

            Sedikit lagi!

            Persimpangan masih 50 meter lagi di depan, jalanan cukup lengang disini, tetapi lampu hijau bersisa 4 detik. Tanpa harus dipotong oleh lampu merah yang tak tahu belas kasih, waktunya sudah sangat terbatas. Tak perlu berpikir dua kali, Junhoe akan melakukan segala hal hanya demi tiba tepat waktu, termasuk membabi buta di jalan raya.

            40 meter tersisa. Junhoe mendahului dua buah mobil.

            25 meter tersisa. Sebuah motor berputar balik.

            10 meter tersisa. Ia hampir menabrak motor sport lain yang juga terburu sepertinya.

            5 meter.

            1 meter.

            Tepat ketika roda motor Junhoe menginjak area zebra cross, lampu berganti hijau. Pengemudi lain di kanan dan kiri jalan mengerem secara mendadak karena kemunculan Junhoe yang kebut-kebutan. Ia tak peduli dan tetap melaju.

            Disepersekian detik itu, di zebra cross di depannya, seorang anak kecil berlari menyeberangi jalan secara tak terduga. Junhoe menarik maksimal rem dan mengubah haluan motornya, membuatnya kehilangan kendali. Motor terlepas menyerempet aspal dan ia sendiri berguling-guling beberapa meter. Hilang suara klakson dan derum mesin. Beberapa orang keluar dari mobilnya untuk menghampiri lokasi kecelakaan. Tak ada darah tapi Junhoe tak berkutik.

            Anak kecil yang tadi berlari, kini menjerit ketakutan. Ibunya dengan gemetar segera memeluk dan menenangkannya. Dengan cepat orang-orang menyemuti ruas jalan. Beberapa segera tanggap menelepon 119. Namun yang lain hanya mampu membungkam mulut sambil berbisik-bisik.

            Lima detik yang mencekam.

Tapi langit berkata lain. Junhoe membuka matanya, detak jam menggema di alam pikirnya. Ia bangkit tak kurang satupun. Berjalan cepat menuju motornya, menariknya dari pelukan aspal lantas menyalakan kembali mesin. Sekejap kemudian ia sudah kembali melaju di jalan yang lengang. Kerumunan yang tadi menatapnya prihatin menjadi terheran-heran.

            Junhoe tak lagi peduli dengan apapun, demi tujuannya.

            Yoon Nara.

 

            Para sekuriti berteriak marah karena sebuah motor sport berwarna merah metalik yang lecet parah di sisi kiri dengan satu spion hilang entah kemana diparkirkan secara sembarangan. Beberapa sumpah serapah tak sengaja terlontar saat mereka mengejar bocah sekolah yang tadi seenaknya saja menyerahkan helmnya kepada salah satu sekuriti yang hendak menegurnya. Betapa tidak tahu diri anak itu.

            Junhoe berlari menerabas kerumunan, berusaha berkelit agar tidak menabrak orang lain. Suara seorang wanita menggema di ruangan berlangit-langit tinggi itu menyebutkan beberapa pengumuman. Junhoe berhenti diantara orang yang lalu lalang. Ia memutar badan, matanya menyipit membaca isi flight board.

            Berlin… Berlin… Berlin… Oh sh*t! Mana Berlin?!

            Dua detik matanya melotot keras, akhirnya ia menemukan gerbang keberangkatannya. Ia harus mengikuti petunjuk jalan, ke kiri. Namun dari arah kiri ada sekuriti yang sedari tadi mencarinya. Tak mungkin ia kembali ke sana. Dengan cekatan, ia lalu menyelinap diantara kerumunan orang yang menuju arah kanan, ia akan mencari kesempatan untuk berkelit dari para sekuriti.

            “Kau siapa?” Tanya seseorang di samping Junhoe. Ia menoleh, mendapati seorang gadis dengan tinggi rata-rata dan potongan rambut pendek, menatapnya dengan heran. Junhoe baru menyadari jika ia menempel terlalu dekat dengan gadis itu.

            Junhoe hendak menyingkir, tapi sesuatu terlintas di pikirannya. “Ah, maafkan aku, tapi aku butuh bantuanmu sekarang.”

            Segera ia melepas jas sekolahnya lalu disampirkan di atas koper kelabu milik gadis itu, merebutnya lalu menyeret koper itu dengan tangan kiri lantas sebelah tangannya merangkul bahu gadis itu, mempercepat langkah agar tidak tertinggal dengan rombongan yang lain.

            “Hey, hey! Apa yang kau lakukan?!” gadis itu melotot sambil mendongak.

            “Anggap saja kau sedang menyelamatkan hidupku.”

            “Apa?!’

            “Permisi… permisi…” gerombolan orang yang tengah berjalan santai sembari bergurau dihadapan Junhoe sedikit tersibak, memberi celah kepada seseorang untuk lewat. Seorang gadis dengan rambut dikucir kuda dengan poni sehidung muncul. Sepertinya ia adalah teman gadis yang tengah di rangkul Junhoe karena ketika pandangan mereka bertemu, ia tersenyum. Menyadari ada yang ganjil, gadis itu menoleh melihat seseorang yang merangkul temannya.

            Junhoe sudah berdiri kaku ketika melihat kehadirannya dan ketika gadis itu menatapnya, lemas sudah sekujur tubuh Goo Junhoe. Rangkulan tangannya lepas, koper kelabu di sebelah tangannya jatuh bebas, membuat si pemilik menjerit marah. Mission one completed, menemukan Yoon Nara.

            Nara hanya mampu ternganga melihat lelaki jangkung yang berdiri tegak lima meter di depannya. Entah angin apa yang tengah bertiup di Seoul sehingga bisa membawa Goo Junhoe berada di hadapannya. Ia bahkan sudah lupa bahwa ia sudah jauh tertinggal oleh rombongan. Keduanya hanya berdiri dalam diam hingga detik kelima terlompati. Dikedipkan mata beberapa kali sesaat setelah menyadari kebodohannya. Segera Nara menunduk dan mengambil satu langkah mundur lalu balik badan.

            “YA!!” teriak Junhoe kasar yang berhasil membekukan langkah Nara sekaligus menarik atensi sekitar.

            “YAA YOON NARA!!”

            Nara memejamkan mata erat-erat mendengar teriakan kedua, perlahan ia melirik keadaan sekitar dengan sedikit celah di matanya. Tepat seperti yang ia bayangkan, langkah-langkah lain melambat dan orang-orang saling berbisik dengan tatapan tertuju padanya. Junhoe memang selalu mampu menarik atensi orang-orang. Dalam hati ia mulai menghitung, memilih antara balik badan atau melanjutan langkah. Namun dalam kejauhan ia melihat temannya tengah melambaikan tangan menyuruhnya untuk melangkah lebih cepat.

            Satu langkah maju.

            “AKU MENYUKAIMU NARA-AH!” Junhoe kembali berteriak menambahkan skala atensi dan frekuensi bisikan di dalam lobby bandara yang ramai itu.

            Deg. Satu langkah lagi membeku.

            “Aku menyukaimu, Nara-ah,” kali ini Junhoe tak berteriak, intonasinya melembut. Gadis itu kini benar-benar tak tahu harus bagaimana. Kakinya terpancang erat di tempatnya berpijak.

            “Jangan pergi, Nara-ah… Tak bisakah kau tetap tinggal?” pinta Junhoe. “Berada di kota yang sama tetapi tak bisa berbicara denganmu selama dua tahun ini saja perlahan membuatku gila. Lalu bagaimana jika kau pergi?”

            Ada sebuah jeda berisi helaan napas berat Junhoe.

            Dengan parau, Junhoe kembali berkata, “Aku tak peduli kemanapun itu. Berlin, Paris, Amsterdam, London, Tokyo, New York, atau kemanapun kau berniat untuk pergi dan menetap disana. Tak bisakah kau membatalkannya?”

            Perlahan Nara berbalik badan.

            “Tak bisakah kau tetap tinggal?” tanya Junhoe dengan wajah memohon.

            Dengan lugas, Nara memangkas jarak diantara keduanya, menyisakan dua langkah. Gadis itu mendongak, membalas tatapan memohon Junhoe dengan tatapan tajamnya. “Kau telah melanggar satu prinsipmu.”

            Junhoe mengernyit bingung, “Ap–“

            Belum habis kata darinya, Nara sudah memotong. “Kau pernah berjanji untuk tidak mempercayai Goo Junsu karena kau tahu dia adalah penipu ulung? Ataukah seiring bertambah usiamu, kau mulai pikun?”

            Kerutan di dahi Junhoe semakin dalam, ia tak bisa berpikir dengan jernih. Dari belakang terdengar sebuah teriakan, “YA! HAKSAENG!”

            Apa yang terjadi setelah itu, Junhoe tak tahu, karena dunia menjadi gelap dan ia limbung jatuh menghadap dinginnya lantai beriring suara jeritan Yoon Nara yang kaget.

            “Mengapa kau tertawa?”

            Hanbin menoleh, baru menyadari bahwa sedari tadi Soomi mengamatinya dari samping. Lelaki itu menggeleng kecil lalu menarik napas panjang untuk meredakan gelitikan di perutnya. Akan tetapi Soomi masih memaksa, ekspresinya benar-benar menunjukkan bahwa ia ingin penjelasan. Gadis itu tak suka jika orang lain tertawa dan hanya dia yang tak mengerti penyebabnya.

            “Baiklah, aku akan menjelaskannya,” ujar Hanbin dipotong tawa. “Kau lihat wajah Junhoe ketika lewat tadi? Dia terlihat begitu serius dan ketakutan, kurasa Junsu berhasil menjalankan rencananya.”

            Soomi tak puas dengan jawaban yang diberikan Hanbin. “Memang apa yang Junsu lakukan?”

            Ketika tawa Hanbin sudah benar-benar reda, akhirnya ia menjawab dengan jelas. “Kemarin malam Junsu mengatakan padaku sebuah rencana dimana ia akan berkata pada Junhoe bahwa Yoon Nara, gadis yang disukai Junhoe akan berangkat menuju Berlin sekarang untuk melanjutkan sekolah di sana. Padahal sebenarnya Nara sekarang baru kembali dari Eropa. Aku yakin sekarang Junhoe akan mengejar Nara ke Inchoen lalu mengatakan ‘jangan pergi’ atau ‘tak bisakah kau tetap tinggal’ seperti dalam melodrama. Aku tak percaya jika Junhoe benar-benar percaya pada Junsu,” dan Hanbin melanjutkan tawanya.

            Soomi yang entah mengapa tak tertarik untuk ikut tertawa lalu menusukkan sikunya ke perut Hanbin. Lelaki itu tersedak dan berhenti tertawa. “Hey! Itu sakit!”

            “Kau menghabiskan waktu terlalu banyak untuk tertawa. Nanti kotak tertawamu habis,” canda Soomi sambil terkekeh kecil mengingat secuplikan kartun populer di masa kecil.

            Hanbin mengelus-elus perutnya, “Ah ya, aku sampai lupa kalau aku mengajakmu pergi, bukan?”

            “Babo,” cibir Soomi.

            “Ya!” Hanbin menjitak dahi Soomi cepat membuat gadis itu tak sempat berkelit. Langsung saja dahi Soomi berkerut sebal dengan bibir sedikit maju. Hanbin terkekeh melihatnya, ia lalu memasangkan helm di kepala Soomi. “Ayo pergi, aku membutuhkan bantuanmu.”

            Motor sport biru Hanbin berhenti di depan sebuah toko aksesoris yang didominasi warna pink. Motor diparkir dan ia turun lantas melepaskan helm, begitu pula dengan Soomi. Gadis itu mengernyit melihat toko di hadapannya. GlasShoes. Ini adalah toko aksesoris yang sering ia kunjungi bersama Yoojung dan Sophie. Sedetik ia melirik Hanbin yang tengah membuka resleting jaketnya. Apakah Hanbin tengah berusaha meniru Goo Junpyo? Oh, tidak! Ini seperti dalam drama, nanti Hanbin akan mengajakku melihat-lihat lalu ia akan membelikannya.

            “Bantuan apa yang mau kau minta hingga membawaku ke sini?” tanya Soomi sambil berdeham.

            Hanbin menoleh, “Beberapa hari lagi gadis yang kusukai akan berulang tahun. Aku ingin membelikannya hadiah, tetapi aku tak tahu apa yang disukai perempuan.”

            Soomi tercekat. Ulang tahun gadis yang dia sukai? Ulang tahunku masih lima bulan lagi…

            “Wae?” tanya Hanbin saat melihat perubahan ekspresi Soomi. “Jangan bilang kau mengira aku… mengajakmu berkencan kan?”

            “BERKENCAN?!” mata Soomi membulat sempurna salah tingkah. “A-apa maksudmu? Tentu saja tidak!”

            Merasa wajahnya sudah semerah kepiting, Soomi langsung cepat-cepat melangkah memasuki GlasShoes. Pintunya langsung otomatis terbuka. Gadis itu segera menuju bagian kaca mata dengan tergesa dan berpura-pura memilih. Dari luar toko Hanbin meringis melihatnya. Ia pun ikut melangkah masuk.

            Sekitar lima menit berlalu Hanbin membiarkan Soomi berkeliling toko. Gadis itu berusaha mati-matian membuang rona merah di pipinya yang berlebihan. Jantungnya berdegup dengan kencang. Bahkan orang buta akan tahu bahwa sekarang ia tengah salah tingkah karena pertanyaan Hanbin tadi. Babo-ya Han Soomi! Apa yang kau pikirkan? Apa kau ingin Hanbin menyukaimu? Sadarlah!

Setelah salah tingkahnya padam Soomi akhirnya berbalik badan dan melangkah menghampiri Hanbin dengan gerakan mantap. Lelaki itu yang sedari tadi terus mengamati Soomi langsung balik badan dan membungkuk, berpura-pura sedang melihat-lihat gelang.

“Ehem!” Soomi berdeham dengan keras, ia masih gugup. Hanbin berbalik badan.  “Gadis yang kau sukai itu… Kira-kira apa yang ia suka?”

            “Yang dia suka?” mata lelaki itu melirik ke kanan atas, lalu sebelah tangannya mengelus-elus dagunya. “Tentu saja yang dia suka adalah aku,” jawabnya tanpa dosa.

            Secepat kilat Soomi menjitak kepala Hanbin sekuat tenaga. “YA! Aku sedang serius!”

            Riuh kesibukan mesin kasir terhenti sejenak. Beberapa mata melirik mereka dengan penasaran. Mungkin mereka menganggap tengah melihat pertengkaran pasangan remaja. Pegawai yang tengah membersihkan rak meringis kecil melihatnya. Tapi Soomi tak peduli, emosinya sedang labil hari ini dan ia tidak sedang ingin bercanda. Hey, siapa pula yang suka jika diajak pergi mencari hadiah untuk diberikan kepada orang yang disukai oleh orang yang kau sukai? Apa?! Siapa bilang aku menyukai Hanbin?!

            “Wae?! Kenapa kau membentakku terus?”

            Soomi melotot tajam, “Kau harus bersyukur detik ini aku tidak membunuhmu. Sejak tadi aku terus menahan diri. Sudahlah! Cepat katakan apa yang disukai oleh gadis itu agar aku bisa cepat memilihkan barang lalu aku bisa segera pulang!”

            “Dia suka menulis diari.”

Deg.

Diary?

            Soomi diam sejenak, “Ikuti aku,” perintahnya dengan dingin lalu ia mulai berjalan menyusuri rak-rak, emosinya mulai melunak. Hey, aku suka menulis diary! Secercah harapan timbul. Hanbin mengikuti dengan langkah lebar, matanya tetap fokus pada Han Soomi. Ujung-ujung bibirnya terangkat sedikit melihat gadis di hadapannya melangkah dengan cepat. Hingga akhirnya mereka sampai pada sebuah rak dengan tumpukan berbagai jenis notebook. Tanpa berpikir dua kali ataupun sekedar melirik cover-cover notebook yang lain, Soomi tanpa ragu mencomot sebuah notebook dengan sampul polos warna hitam. Hanbin mengernyit melihatnya.

            Tapi langkah Soomi belum berhenti rupanya, mereka masih menyusuri beberapa rak-rak lain hingga akhirnya tiba pada sebuah rak berisi alat tulis dengan berbagai desain dan motif yang benar-benar sangat girly. Setelah melakukan pemindaian sekilas pada seluruh alat tulis yang ada, Soomi langsung menjumput beberapa barang dengan lincah. Selesai dengan apa yang ia ambil, gadis itu langsung berbalik badan menghadap Hanbin.

            Ditunjukkannya barang yang ia ambil, “Jangan menatapku heran karena aku mengambil notebook dengan sampul berwarna hitam tanpa sedikitpun motif diantara berbagai notebook lain yang motifnya beragam dan menarik. Kau lihat ini? Ini adalah tinta timbul. Aku akan menjelaskan dengan singkat. Jadi, aku akan menggambar untuk sampulnya dengan tinta timbul ini. Katakan padaku apa yang sebaiknya kugambar disini. Kau mau doodle? Motif bunga? Polkadot? Garis?”

            Hanbin mengerutkan dahi, tamak sedang berpikir.

            “Namanya.”

            Lagi, Soomi termenung mendengarnya. Api kecil harapannya seolah hidup segan mati tak mau, seember air es akan jatuh membunuh mati api itu jika ternyata bukan namanya yang disebut Hanbin. Apa yang kau pikirkan Han Soomi?!. Sedetik akal sehatnya menghilang, namun segera setelahnya ia bergerak kembali, mencari sebuah tempat yang bisa digunakan sebagai alas. Akhirnya ia berhenti pada setumpukan notebook yang sengaja di tumpuk rendah. Gadis itupun berjongkok, “Dimana aku harus menulisnya? Ukuran tulisannya seberapa besar? Warna apa yang baiknya kugunakan? Shocking pink? Gold? Silver? Turquoise? Viridian? Tosca?”

            “Di tengah, sisanya terserahmu,” jawab Hanbin.

            Soomi merogoh tasnya mencari gunting lalu mengambil warna shocking pink dan viridian. Diguntingnya ujung dari tempat tinta warna shocking pink itu dengan hati-hati, sedikit saja salah perhitungan bisa jadi membuat tulisannya terlalu tebal. Setelah meletakkan guntingnya, Soomi meregangkan jari-jarinya. Jantungnya berdetak lebih cepat ketika bertanya, “Siapa namanya?”

            Hanbin diam sejenak. Senyumnya melebar. “Han…”

            Frekuensi degupan jantung Soomi semakin meningkat. Dengan  hati-hati ia menggoreskan tinta berwarna shocking pink dengan tulisan Han dengan sedikit bergaya.

            “Lalu?”

            Soomi? Soomi? Soomi! Soomi! Soomi! Soo! Mi!

            “Byul.”

            Pyassss… sebuah ember penuh air es tumpah tepat mengenai api kecil harapan Soomi. Gadis itu menggigit bibir sembari menulis nama gadis yang disukai Hanbin. Nama yang bagus, Hanbyul.

            “TUNGGU!”

            Alis Hanbin naik, “Apa? Apa kau salah menuliskannya?”

            “Sebentar,” Soomi segera berdiri. Tangannya memijit keningnya pelan, “Tadi, gadis yang kau sukai. Gadis itu, gadis yang kau maksud, adalah Hanbyul? Maksudku, ya, itu Hanbyul yang itu? Kim Hanbyul? Adikmu sendiri?”

            Lelaki itu mengangkat bahu, “Kau kan tahu bahwa Hanbyul memang adikku. Memang mau siapa lagi?”

            “YA!!!”

-fin-

Iklan

5 pemikiran pada “[Chapter 6] Warm Cold

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s