[Ficlet] Your Eyes

y o u r   e y e s

© c h o c o k o n

Kim Hanbin & Lee Hayi

Angst, Hurt-Comfort | Ficlet | Teen

Kau harus melihatku dengan dua mata. Kau harus melihatku dengan jelas. Kau harus melihatku agar aku tak tersiksa.

***

Hanbin iKON comes out with eye patch in iKONCERT NAGOYA

Hayi langsung menekan tombol lock dan membanting handphonenya sembarang. Tangannya mengepal kuat saat hatinya mulai tak karuan berguncang. Entah ini yang dinamakan amarah atau khawatir yang tak terkira, namun matanya memanas dan dadanya menyesak. Bahkan bernafas saja sulit karna dadanya yang begitu sesak. Dan dari segala reaksi fisik yang muncul saat itu, hatinya ‘lah yang paling hancur.

Kim Hanbin sialan.

***

Ya! Bukakan pintu. Aku sudah didepan rumahmu.

Hayi urung bergerak saat suara bel dari apartemennya terus berbunyi. Dering handphonenya yang tak kalah nyaring juga ikut mengganggu pendengarannya. Matanya hanya memantuk kedepan walau garis-garis merah dipermukaan matanya sudah terlihat jelas. Dalam pikirannya ia hanya ingin mengutuk orang yang sejak tadi seperti ‘setan pengganggu’ baginya.

Entah sejak kapan Hanbin dapat membuka kode rumah Hayi dengan benar. Namun ia enggan beranjak untuk menghampiri dan langsung memeluk gadisnya saat satu matanya menyorot dengan jelas, jika kini Hayi tengah meringkuk disamping kasurnya tanpa melakukan apa-apa. Baiklah, ini salahnya. Membuat gadisnya meruntuk dalam diam, menangis tanpa keluhan, dan akan meluapkannya hanya dalam satu tatapan.

Hanbin menghampirinya perlahan. Dan langkahnya berhenti saat kakinya berada tepat dihadapannya. Ia sengaja menghalangi mata Hayi yang terus menatap jendela tanpa alasan. Senyumnya mengembang lebar kala wajah Hayi kini berada 30 cm darinya. Retina mata Hayi akhirnya mengalah untuk menatap satu mata lelaki ‘sialan’ ini. Bendungan air yang sebelumnya telah surut diujung matanya kembali  memuncak karna senyuman lelaki ini mengganggunya.

Lelaki gila. Bisa-bisanya ia tersenyum saat seperti ini.

Tangannya langsung bergerak untuk memukul kepala Hanbin. Hanbin hampir tertipu oleh raut wajahnya yang bahkan berbanding jauh dengan hatinya. Hanbin lagi-lagi hanya tersenyum menyeringai padanya. Dalam hatinya ia senang walau kini bukan waktunya. Ia bahagia, melihat wajah gadisnya yang begitu ia rindukan walau hanya satu mata. Ia bahagia saat menyadari gadisnya menunggu dan mengkhawatirkannya, walau dia tak berucap namun dari pukulannya tadi ia tau jika Hayi marah. Wajah yang terlihat begitu lucu walau kini emosi dan tangisannya beradu jadi satu.

“Sialan.” Akhirnya ia mengeluarkan suara. Matanya masih menatap Hanbin dengan tekukan. Seperti ingin membunuhnya dalam satu lirikan.

“Ini hanya infeksi biasa.”

 Pukulan Hayi kembali mendarat keras dikepalanya.

“Pembohong—“

“Kau janji kau tak kan sakit sebelum aku yang sakit. Kau sudah janji.” Ujarnya lirih. Tangannya masih ingin memukul kepala Hanbin, namun rangkulan Hanbin terlebih dahulu menguncinya dalam pelukan.

Tangisannya pecah dalam pelukan. Suara isakannya tercerna jelas oleh gendang telinga Hanbin. Sangat jarang Hanbin melihat Hayi menangis dalam keadaan tertentu. Ice princess itu bahkan hanya menangis beberapa menit saat ia harus menerima 5 jahitan dikepalanya karna sebuah kecelakaan.

Sesering Hanbin keluar negeri, sepadat apapun jadwalnya sebagai idol, Hayi tidak pernah menunjukan tangisannya didepan Hanbin. Hayi bukan tipikal gadis yang terbuka soal perasaannya melalui kata. Dan Hanbin mencerna baik semua bahasa tubuh Hayi.

Saat dia rindu, Hayi hanya akan menelponnya tanpa berkata. Ia hanya ingin mendengar suara Hanbin tanpa perlu menjelaskan alasannya. Saat Hanbin mempunyai waktu luang, Hayi tak pernah mengemis untuk mengajaknya kencan dan pergi ketempat-tempat hiburan. Menikmati pemandangan indah, melakukan hal romantis seperti sepasang kekasih maklumnya. Hayi hanya menyuruh Hanbin untuk datang ke apartemennya, menonton TV bersamanya, memasak sesuatu bersama, dan tidur siang bersama. Terdengar membosankan. Namun itulah seorang Lee Hayi. Ia tau dimana ia harus memposisikan dirinya sebagai kekasih seorang idol.

Selama 5 tahun hubungannya, Hanbin tak pernah melihat Hayi menangis selarut ini. Saat trainee sekalipun jika Hanbin cidera atau sakit, Hayi hanya marah sesaat dan langsung mengobatinya ataupun merawatnya. Mungkin dalam keadaan ini ia sangat marah hingga memukulnya, karna Hanbin terlalu memaksakan diri begitu banyak.

Infeksi itu muncul karna Hanbin terlalu sering tidur larut hingga tak tidur sekalipun. Hayi sering memarahinya. Bahkan Hayi pernah tak menghubunginya sama sekali karna Hanbin mengulanginya. Hanbin bukan lelaki yang punya fisik bugar, ia akan tumbang jika dirinya terlalu kelelahan. Dan gilanya, ia hanya menginfus dirinya dalam 2 jam dan memaksa untuk tidak minum obat karna menurutnya itu akan membuatnya mengantuk.

Dan dalam keadaan itu, Hayi ‘lah obat satu-satunya untuk Hanbin. Saat lelah Hanbin hanya akan menatap mata Hayi tanpa berkata, karna ia akan merasa tenang. Tekanan batin maupun materi yang harus ia tanggung sebagai leader boygrup iKON pun sirna saat lekukan bibir Hayi tersorot matanya. Hayi adalah segalanya untuk Kim Hanbin.

“Bagaimana bisa kau melihatku hanya dengan satu mata? Kau harus melihatku dengan dua mata. Kau harus melihatku dengan jelas. Kau harus melihatku agar aku tak tersiksa.”  Suara lirihan gadis mungil itu menyayat hati Hanbin sedalam-dalamnya.

Saat seharusnya yang ia tunjukan adalah senyuman dan pelukan hangat tanpa tangisan, kini berbanding terbalik karna keegoisannya yang ia kira suatu hal biasa. Jika saja Hanbin mengalah pada permohonan Hayi yang tak membebaninya itu, kini Hanbin hanya perlu duduk disofa bersamanya dan terus memeluknya sampai tertidur pulas.

“Baiklah, mata Kim Hanbin hanya milik Lee Hayi seorang. Hanya Lee Hayi yang boleh menatap mata Kim Hanbin sampai memerah. Sekalipun jika aku tak dapat melihat nanti, mata ini hanya akan menjadi milikmu—selamanya.”

Dan dari detik itu Hanbin menyadari satu hal, ada yang lebih berarti dari kebahagiaan dan rasa cinta, yaitu menjaga perasaan orang yang kau cinta.

end

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s