[Vignette] Acting

ACTING

Siskarikapra © 2017

|iKON’s Goo Junhoe & OC’s Eylsa Kim | AU! Drama, Romance, Fluff!  |

| Vignette | PG-13 |

“Bodoh, bodoh, kalau sampai ibu melihatnya, mati kau, June.”

Hari itu seperti hari biasanya. Setelah memesan americano dan memberikan tatapan nakal pada si pelayan cafe, Junhoe menjatuhkan bokongnya di salah satu kursi. Spot favoritnya adalah di samping dinding yang hanya sebatas pinggangnya, lalu sambungan dari dinding itu adalah kaca bening yang menampakkan jalan.

Setelah beberapa kali menyesap minumannya, Junhoe—seperti biasanya juga—melempar pandang pada salah satu pelayan cafe yang saat itu tengah berada di balik meja kasir. Tanpa sadar, ia mengulas senyum.

Benaknya selalu berpikir kenapa gadis yang hanya berbalut seragam pelayan cafe itu terlihat sangat seksi. Ya, silahkan pukul kepalanya atau hujat dia semau kalian atas pikiran kotornya. Tetapi, tolong hargai kemauannya untuk menunggu gadis itu selama berjam-jam sampai selesai shift dan mengantarnya pulang.

Ya, Junhoe berada di sana karena ia menunggu gadis itu. Kekasihnya, Eylsa Kim.

Hal yang sekarang tengah Junhoe lakukan mungkin bisa disebut sebagai rutinitas. Pasalnya setiap Eylsa kedapatan shift sore, pasti Junhoe akan datang ke cafe tempat Eylsa bekerja jauh berjam-jam sebelum shift-nya selesai. Dan ia akan melakukan hal-hal tidak penting selama menunggu. Misalnya saja tidur. Ya, dia tidur di meja cafe sampai Eylsa menyelesaikan shift kerjanya.

Eylsa yang merasa kelakuan Junhoe sangatlah tidak penting itu, bukan sekali-dua kali juga melayangkan ocehan dan memberitahukan pada Junhoe untuk tidak melakukannya terlalu sering. Gadis itu hanya tidak ingin membebani Junhoe. Maksudnya, bisa saja, kan’ pemuda itu menjemputnya tepat saat jam kerjanya selesai. Tapi Junhoe? dia memang spesies langka.

Setelah berjam-jam, akhirnya Eylsa selesai. Ia mengganti seragam pelayannya dengan setelan kasual yang memang biasanya ia kenakan. Setelah keluar dari ruangan staff, ia langsung saja menuju meja Junhoe dan mendudukkan diri sana.

Junhoe yang sadar saat Eylsa menuju kursinya, langsung saja melempar pandang ke arah gadis itu yang kelihatan sangat lelah. Setelah gadisnya telah duduk tepat di hadapannya, Junhoe mengulas senyum.

“Sudah kubilang kau tidak perlu melakukan ini, Jun.”

Dengan raut wajah yang kebingungan, Junhoe bertanya,”Apa?”

Bukannya menanggapi, Eylsa malah mendengus kasar.

“Kau tahu kan, aku selesai pukul sepuluh?”

Junhoe mengangguk.

“Lalu kau datang pukul berapa hari ini?”

“Lima.”

Hening. Eylsa melempar pandang sejauh yang  ia bisa. Ia malas sekali berdebat. Ia tahu Junhoe memiliki jadwal super padat di tahun pertamanya menyandang status sebagai mahasiswa. dan sudah selesai dengan segala mata kuliah serta organisasi lainnya pukul lima sore itu merupakan hal yang sangat jarang, mungkin bisa disebut mitos bagi mahasiswa baru seperti Junhoe.

Eylsa berpikiran jauh lebih baik waktu yang dimiliki oleh Junhoe itu digunakan untuk istirahat, bukannya dibuang sia-sia hanya demi menunggunya.

Terlepas dari pemikiran Eylsa, Junhoe tengah kebingungan harus berbuat apa. Ia ingin sekali adu mulut seperti biasa, tetapi ia paham sekali gadis di hadapannya itu tengah kelelahan. Jadi ia memilih untuk meraih tangan mungil Eylsa yang letaknya tak jauh dari telapak tangannya sendiri.

“Aku rindu padamu, Eyl.”

Selepas kalimat itu menembus gendang telinga Eylsa, gadis itu merasakan kehangatan luar biasa yang menjalar di sekujur tubuhhnya. Tangannya yang berada di genggaman Junhoe bukannya membantu, justru memperkeruh perasaan bergemuruh di dalam rongga dadanya.

“Tapi bohong,”

Eylsa yang tadinya sudah mengurungkan niat untuk memaki Junhoe, kini pemikiran itu kembali mencuat diiringi dengan darahnya yang begitu cepat naik ke kepala. Tidak tahan, ia melayangkan satu pukulan tepat di kepala Junhoe.

“Sialan,” umpat Eylsa

Setelah itu, tanpa permisi ia menyambar sling bag yang sebelumnya ia taruh di atas meja lantas berlalu begitu saja. Di balik punggungnya, Junhoe justru menahan tawa. Ia berhasil membangkitkan suasana awal yang menyebalkan dan ia yakin ia bisa mengeksekusi keadaan dengan baik hingga menghasilkan akhir yang menyenangkan seperti biasa.

Tidak lama setelah Eylsa beranjak pergi, Junhoe mengikutinya. Tidak dengan langkah beriringan, tentu saja. Junhoe hanya berjalan beberapa langkah di belakang Eylsa. Keadaan itu bertahan sampai keduanya turun dari bus.

Sejujurnya Eylsa sangsi kalau harus berjalan sendirian—meski Junhoe mengikutinya dari belakang. Pasalnya tungkai gadis itu terus saja melangkah dan di ujung sana sudah terlihat lorong gelap yang harus ia lalui jika ingin sampai di rumah.

Sesaat sebelum Eylsa benar-benar masuk ke lorong yang pencahayaannya amat sangat kurang itu, ia berhenti sejenak. Di belakang sana Junhoe juga menghentikan langkah. Dengan catatan disertai raut wajah merdeka dan smirk sialannya itu.

Sumpah mati, Eylsa tengah dilanda kebingungan saat itu. Ia ingin berjalan terus, tetapi ia takut. Tapi kalau harus minta Junhoe berjalan beriringan dengannya itu jauh lebih mengerikan. Mau ditaruh mana harga dirinya? Gengsi tingginya? Oh tidak, tidak akan. Posisi mereka di sini sedang tidak baik. Eylsa ingin mempertahankan ‘akting marah’-nya sampai selesai.

Setelah menghela napasnya dengan mantap, Eylsa kembali merajut langkah. Ia bahkan tidak menghiraukan detak jantungnya yang berdentum begitu keras.

Satu langkah.

Dua langkah.

Miauw

“AAAAAAAKKKKKKKKKKKK!”

Sehabis memekik, Eylsa refleks menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bulu halus di sekujur tubuhnya naik berdiri lantaran ia merasakan suatu kehadiran makhluk yang sekarang berdiri persis di sampingnya.

Dengan sisa-sisa keberanian yang ia punya, jari-jari tangan yang ia gunakan untuk menutupi wajah, sengaja ia longgarkan untuk membuat celah dan berniat untuk mengintip dari sana. Tapi tiba-tiba—

“Ini aku, bodoh.”

—dengan suara beratnya Junhoe berujar. Eylsa yang tadinya ketakutan setengah mati merasa separuh lega dan separuh kesal. Lega karena ternyata yang menghampirinya bukanlah makhluk astral. Tetapi juga kesal karena kehadiran Junhoe membuat jantungnya hampir saja copot.

“Cuma suara kucing saja ketakutan setengah mati.”

Junhoe mencibir. Ia menatap Eylsa yang balas menatapnya sinis.

“Kalau takut itu bilang.” Kata Junhoe lalu menggandeng tangan Eylsa dan hendak lanjut jalan.

Tetapi langkahnya tertahan lantaran tangan yang ia tarik tubuhnya tidak ikut bergerak. Eylsa masih tergeming di tempatnya. Ia kemudian menarik tangannya dari genggaman Junhoe baru kemudian melangkah. Tetapi tetap saja ia takut. Jadi langkahnya terlihat ragu-ragu dan tersendat-sendat.

Junhoe ingin sekali memukul kepala Eylsa yang bertingkah demikian, sungguh. Tapi ia menahan diri kemudian mengambil langkah lebar-lebar dan menghadang gadis itu. Jadi dia sekarang tengah berhadapan dengan Eylsa.

Mereka beradu pandang sebentar. Lalu Junhoe berujar,”Jangan keras kepala.”

Pemuda itu mendorong kepala Eylsa dengan jari telunjuknya.

“Ayo jalan.”

Junhoe kemudian menyelipkan jemari tangannya pada milik Eylsa dan menariknya untuk segera melanjutkan perjalanan. Kali ini ia tidak mendapat penolakan. Eylsa menggenggam tangannya erat sekali bahkan gadis itu sedikit merapat ke tubuhnya dan berjalan sambil menunduk.

Keduanya bertahan pada posisi itu sampai di depan pagar rumah Eylsa. Yang mana ibu dari gadis itu sedang menunggunya persis di sana.

Junhoe melepaskan tautan jemari mereka lalu memberi salam pada nyonya Kim. Lain lagi dengan Eylsa yang langsung masuk ke dalam meninggalkan Junhoe dengan ibunya.

“Kalian bertengkar?” tanya ibu Eylsa

“Tidak, bu. Dia kan’ memang seperti itu.”

Sambil tersenyum wanita itu mengangguk setuju.

“Masuk dulu, Jun.”

Setelah dipersilahkan, Junhoe mengikuti langkah nyonya Kim memasuki kediamannya. Ia kemudian duduk di teras sambil menikmati teh hangat yang dibawakan oleh nyonya Kim.

Sembari menunggu Eylsa keluar, Junhoe meneliti sekitar. Ia sangat nyaman dengan suasana yang sedang ia rasakan. Ia bahkan tidak menyangka hubungannya dengan Eylsa dapat langsung disetujui begitu saja oleh kedua orangtua gadis itu.

Tiupan angin malam yang tak henti-hentinya berembus, entah kenapa membawa ingatan Junhoe ke masa lalu. Saat ia pertama kali mengunjungi rumah sederhana ini. Semenjak usaha ayah Eylsa mengalami kebangkrutan sekitar tiga tahun lalu ketika mereka masih di tingkat dua sekolah menengah atas.

Ia ingat saat Eylsa tidak mau mengajaknya ke rumah ini dengan alasan rumahnya jelek. Karena memang faktanya rumah kecil ini seratus delapan puluh derajat berbeda dengan kediaman Eylsa yang dulu.

Jujur saja, Junhoe bukan orang yang memandang status sosial seseorang dengan segala embel-embelnya. Junhoe mengategorikan dirinya sebagai orang yang simpel. Apa yang ia suka dan ia inginkan, harus ia dapat. Hanya itu.

Jadi dengan keadaan Eylsa yang sebagaimana pun, ia akan tetap menerimanya dengan senang hati. Kalau diizinkan berkata yang berlebihan, Junhoe ingin. Ia ingin mengatakan bahwa ia telah jatuh hati terlalu jauh kepada seorang Eylsa Kim.

Sementara Junhoe larut dalam benaknya, di dalam rumah Eylsa tengah bersitegang dengan ibunya. Gadis Kim itu menolak menemui Junhoe dengan alasan dia kelelahan sehabis bekerja. Tetapi ibunya tidak menyerah begitu saja dan tetap memaksa anak semata wayangnya itu untuk menemui Junhoe.

“Suruh saja dia pulang, bu. Ku mohon.”

“Sejak kapan ibu mengajarimu tidak tahu berterimakasih seperti ini, Eylsa Kim?”

Eylsa menegang. Ia takut sekali kalau ibunya sudah bicara formal sembari menyebutnya dengan nama lengkap.

“Tapi aku benar-benar lelah, bu. Tolong.”

“Setidaknya temui dia sebentar. Dia juga sama lelahnya denganmu. Tetapi masih menyempatkan diri mengantarmu pulang. padahal kalau dia mau dia bisa saja tidak melakukan ini semua. Apa kau pernah benar-benar memikirkan itu dan peduli padanya?”

Benar juga.

Eylsa benci sekali karena kenyataannya semua kata di setiap kalimat yang ibunya ucapkan adalah benar. Ia juga benci karena tidak bisa mengungkapkan rasa khawatirnya untuk Junhoe dengan cara yang benar. Ia hanya terlalu mementingkan harga dirinya tanpa memikirkan keadaan Junhoe. dan dengan itu Eylsa baru sadar betapa egois dirinya selama ini.

“Dengar, nak. Ibu tidak bermaksud membentakmu dan membelanya. Tidak begitu. Tapi bisakah kau menyingkirkan sifat keras kepalamu sedikit saja. dan pergi temui dia, lalu berterimakasih.”

“Dia pemuda yang baik, Eylsa. Ibu tahu itu dan ibu sudah menganggapnya sebagai anak ibu sendiri.”

Setelah berakhirnya kalimat ocehan dan nasihat dari ibunya, Eylsa lantas berlari. Ia keluar dari rumah dan mendapati Junhoe tengah membuka pagar rumahnya untuk melangkah pergi. Sekuat yang ia bisa, langkahnya menyusul. Saat ia sampai, tanpa keraguan Eylsa memeluk Junhoe dari belakang.

Di sisi lain, sebenarnya Junhoe sudah memprediksi semua ini akan terjadi. Jadi ia tersenyum puas saat merasakan Eylsa yang sekarang tengah mendekapnya erat sekali.

Sebenarnya sedikit banyak Junhoe dengar pembicaraan Eylsa dengan ibunya. Jadilah jiwa kriminal dalam dirinya bangkit dan ia memutuskan untuk berperan menjadi pihak yang tersakiti.

“Kukira tadi kau meminta ibumu untuk menyuruhku pulang?”

Tidak ada Jawaban. Junhoe malah merasa sedikit sesak karena kedua lengan Eylsa melingkar begitu ketat di bagian perutnya.

“Maaf kalau nyatanya aku mengganggumu. Masuklah dan istirahat. Aku pulang.”

Setelah menyelesaikan kalimatnya. Junhoe justru tertegun karena mendengar di balik punggungnya Eylsa terisak. Ya, gadis itu menangis.

Tadinya Junhoe hanya ingin mengerjai gadis itu tetapi ia merasa sedikit berlebihan jika sampai membuat gadis itu menangis. Jadi ia melepaskan tautan kedua lengan Eylsa lalu berbalik dan memeluk gadis itu.

“Maaf,”

Samar-samar Junhoe mendengar Eylsa berbicara. Hatinya berdesir hangat sekali, entah kenapa. Ia mengeratkan dekapannya. Pun hal yang sama dilakukan oleh Eylsa.

“Dasar aneh. Harusnya kau bangga punya pacar tampan dan setia sepertiku yang mau menunggu jam kerjamu selesai dan mengantarmu pulang.”

“Maaf,”

“Kalau gadis normal sih pasti sudah meleleh karena perbuatanku yang manis ini. Karena kau tidak normal maka aku memakluminya kalau kau malah marah-marah.”

Bugh

Eylsa meninju perut Junhoe pelan. Pemuda itu kemudian tersenyum sekilas lalu mengecup pucuk kepala Eylsa.

Ia menghela napas singkat lalu berujar,”Yeokshi, calon ibu mertuaku memang terbaik.”

Eylsa melotot. Ia kemudian menarik diri dan menatap Junhoe nanar.

“Jangan bilang kau sekongkol dengan ibu?!”

Menanggapi itu, Junhoe hanya mengedikkan kedua bahu sambil memiringkan kepalanya ke satu sisi.

Karena pertanyaannya tidak disahuti dengan benar, Eylsa hendak memukul Junhoe—lagi—namun ia kalah cepat dengan Junhoe yang kemudian mencekal tangannya. Seenak jidat pemuda itu malah menarik tangannya dan memeluknya erat sekali.

“Sudahi saja akting marahmu itu dan dengarkan kata ibumu.”

“Aku tidak akting. Aku benar-benar marah padamu tadi.”

Halah, kau itu mana bisa marah padaku, Eyl.”

Dalam dekapan Junhoe Eylsa tersenyum. Ia memang tidak benar-benar sepenuhnya marah.

“Ibumu benar, tahu. Aku juga lelah. Tapi aku datang ke tempat kerjamu dan mengantarmu pulang itu salah satu cara menebus rasa rinduku, kalau kau mau tahu.”

“Gombal.”

“Terserah. Aku sudah bicara sesuai dengan kenyataan.”

Eylsa menarik diri. Ia menatap Junhoe sebentar lalu berkata,”Yasudah sana pulang. Katanya kau lelah. Ini sudah mulai larut. Terimakasih sudah mau repot-repot menunggu dan mengantarku pulang.”

Dahi Junhoe mengerut. Alisnya juga kelihatan menyatu.

“Itu saja?”

Eylsa mengangguk.

“Tidak ada cium atau apa, gitu? Tanda terimakasih yang umumnya diberikan gadis untuk kekasihnya?

Eylsa menggeleng.

Junhoe memutar kedua bola matanya jengah,”Fine.”

Ia lalu berebalik untuk merajut langkah. Kemudain membatin, Sial, ternyata tidak ada akhir yang menyenangkan seperti yang aku pikirkan tadi.

Namun baru sekitar tiga langkah kakinya melaju, Eylsa berlari dan mengulangi aksinya untuk memeluk Junhoe dari belakang. Tidak lama sampai akhirnya gadis itu berucap.

Gomapta, June-ya.”

Eo. Na gan-da.

Kali ini Junhoe yang akting. Ia benar-benar berpura-pura merajuk. Dibarengi dengan kalimat terakhirnya, ia melepaskan tangan Eylsa yang masih melingkari tubuhnya.

Mengetahui itu, Eylsa sedikit kecewa. Padahal ia berharap Junhoe bertingkah konyol dengan berbalik arah dan memberinya kecupan singkat atau apalah itu. Tetapi kenyataan berkata lain.

Sementara Junhoe terus saja melangkah hingga punggungnya menjauh, Eylsa akhirnya berbalik dan hendak masuk ke rumah. Tapi secepat sambaran petir, Junhoe tahu-tahu sudah menarik pergelangan tangannya hingga tubuhnya berbalik. Secepat kilat juga pemuda itu memberi kecupan singkat di bibir Eylsa.

Kejadian itu tidak berlangsung lebih dari lima detik. Junhoe langsung berlari kencang setelah ia mengecup bibir Eylsa. Sedangkan Eylsa masih membatu di tempatnya memijak sambil memegangi bibirnya yang baru saja menempel dengan milik Junhoe.

Ia bahkan tidak sadar kalau ibunya berdiri di depan pagar dan menyaksikan itu semua.

Ekhem,”

Sampai ibunya berdeham, Eylsa baru kembali ke dunia nyata. Ia kemudian memberikan cengiran pada si ibu dan berlalu begitu saja.

“Bodoh, bodoh, kalau sampai ibu melihatnya mati kau, June.”

—fin—

Rika/n ANNNYYOONGGGHHHH ampun udah berapa lama ga mangkir disini maapin rika sibuk jadi pengangguran/? XD

Well yeah YANG KANGEN JUNEYLS COBA ANGKAT KAKI! Srsly rika sendiri kangen banget kapel nyeleneh ini yaampun rindunya sampe ke ubun-ubun. Dan ya seperti biasa aja mereka emang drama mulu bedua aku tuh sampe pusing nulisnya sambil dugeun-dugeun gajelas gitu ih sebel 😦 semoga feelnya dapet ya, komennya ditunggu mwah :*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s