[IFI Freelance] Alphabet: Part H (Series)

Help

Alphabet Series [H part]

Main cast: Hanbin  X Hayi

Fluff | Ficlet

*

© Prod by Mims

Baru saja kelas selesai, Hayi sudah kepanikan mencari hidung mancung Hanbin. Gadis itu dibuat linglung bukan kepalang setelah menerima pesan dari Hanbin tepat setelah bel berbunyi. Masalahnya sekarang, di mana Hanbin?

[From: Hanbin]

Tolong, aku susah bernapas di sini.

Dibacanya sekali lagi pesan itu. Kalau kali ini Hanbin hanya bercanda, lelaki itu benar-benar keterlaluan. Mengingat semalam mereka bertengkar karena Hanbin yang selalu tidak menepati janji temu mereka, lalu kali ini tiba-tiba ia menghilang.

“Apa kau tahu di mana Hanbin? Kau tahu di mana manusia itu? Hanbin! Apa kalian tidak tahu? Bagaimana denganmu? Apa kau tahu Hanbin di mana?”

Mungkin hampir setiap mahasiswa yang satu kelas dengan Hanbin menjadi sasaran Hayi. Ponsel Hanbin mati saat Hayi mencoba menghubunginya. Semarah apa pun Hayi pada lelaki itu, bagaimana ia tidak panik jika Hanbin menghilang setelah mengiriminya pesan menyeramkan?

“Dia tadi keluar kelas terlebih dulu,” kata seorang teman Hanbin. “Wajahnya pucat. Aku tidak tahu kenapa, tapi dia mengaku kalau dia tidak enak badan. Ah, satu lagi. Mungkin kau tidak mendengar ini, tapi Hanbin sempat bertengkar dengan Bobby beberapa hari yang lalu.”

Sialan. Kenapa Hanbin berurusan dengan Bobby? Sudah tahu badan kecil begitu, kalau nantinya adu fisik, Hanbin jelas akan kalah. Sungguh sial memang kenapa Hayi tidak bisa menghubungi Hanbin sama sekali. Lalu di mana Hayi akan mencarinya? Dikiranya kampus ini sepetak sawah saja, huh?

Mungkin setelah sekitar satu jam Hayi mengelilingi kampusnya, ia mulai menyerah. Ia yakin –––seyakin kambing tidak akan makan daging apa pun––– bahwa Hanbin masih di kampus. Karena Hanbin selalu memposting status di sosial media ketika ia pulang ke rumah.

Atau mungkin Hanbin lupa melakukan kegiatan rutinnya itu?

“Hanbin, kau dimana?” gumam Hayi masih mengelilingi kampusnya tanpa tahu arah.

“Hey, kau Lee Hayi, kan?”

Gadis pemilik wajah bulat itu menoleh ke belakang. Matanya menatap lelaki jakung berjaket kulit hitam dan menenteng tasnya dengan gaya sok keren. Baiklah. Lupakan itu. Sekarang ada apa seorang Bobby mencarinya di tengah ia memiliki kesibukan lain.

“Ada…”

“Maaf lupa menyampaikan ini, tapi Hanbin sedang mencarimu,” ujar Bobby dengan senyuman tanpa dosanya yang membuat matanya hanya terlihat segaris saja.

“Di mana lelaki idiot itu sekarang?”

“Di gudang, tapi…”

“Terima kasih, Sunbae.”

Kaki Hayi berlari dengan susah payah. Tak peduli berapa pasang mata yang melihatnya, ia juga tak peduli lagi sudah tidak dianggap sebagai gadis feminine karena berlarian tak jelas. Hal yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan Hanbin.

Setelah beberapa kali ia tersesat di dua gedung, akhirnya ia menemukan gudang kampus. Kakinya segera berlari mendekat ke pintu dan membuka kenopnya perlahan. Gudang itu terlihat senyap, dan sangat, sangat, sangat berdebu. Benarkah Hanbin di gudang?

“Hanbin? Apa kau di dalam?”

Tidak ada suara apa pun. Hayi semakin mendekat. Ia sengaja tidak menutup pintunya. Mungkin saja jika Bobby menipunya, ia bisa melarikan diri. Atau bagaimana jika Bobby menjebaknya dan menjadikannya tawanan agar Hanbin muncul dan menyelamatkannya? Gawat!

“Uhuk, uhuk!”

Telinga Hayi mendengar suara. Ia kenal betul kalau pemilik suara itu pastilah Hanbin. Tapi di mana? Gudang ini selain penuh dengan kardus dan juga buku bekas, pasti ada hewan-hewan kecil yang tidak ingin ditemuinya. Astaga, ia hanya ingin bertemu Hanbin sekarang.

“Hanbin!”

Hayi memekik saat menemukan Hanbin yang tidak berhenti batuk. Ia seperti seseorang yang sekarat dengan mulut pucat. Hayi pun berjongkok, memandang Hanbin dengan perasaan iba. Dilihatnya mata lelaki itu yang terlihat sayu.

“Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau seperti ini? lihatlah, kau kotor sekali, Idiot!” Hayi memukul kecil bagian tubuh Hanbin yang terkena debu.

Tak pernah Hanbin kira jika Hayi juga menangis. Hayi hanya memukul-mukulnya tanpa mengatakan apa pun. Hayi juga sesenggukan sesekali. Dibanding bahagia karena Hayi datang untuknya, Hanbin lebih merasa bersalah karena membuat gadis manis itu khawatir.

“Jangan menangis,” Hanbin mengusap pipi Hayi pelan. “Maafkan aku. Kejadian semalam adalah pertengkaran kita yang terakhir. Maafkan aku.”

“Aku tidak peduli dengan pertengkaran kemarin.”

“Lalu?”

“Tentu saja aku peduli denganmu, Hanbin. Bagaimana…”

Hanbin langsung memeluk Hayi. Ia membiarkan Hayi menangis di dalam pelukannya. Selama ini semua orang berkata jika perempuan itu hanya butuh pelukan ketika ia sedih. Kali ini Hanbin menyadari jika ia perempuan tidak butuh pertanyaan dan lebih menerima tindakan.

“Tolong aku sekali lagi,” kata Hanbin kemudian. “Tolong jangan pernah berpaling dariku.”

“Kau juga,” Hayi turut bicara. “Kalau ada masalah apa-apa, kau bisa cerita. Apalagi kalau kau punya masalah dengan Bobby. Apa kalian bertengkar? Siapa yang kalah? Pasti kau, kan?”

“Yah!” Hanbin tersenyum kecil. “Bagaimana seorang Hanbin kalah? Aku memenangkan permainan telak dan Bobby sama sekali tidak berdaya. Aku mencentak banyak poin dan…”

“Tunggu! Permainan? Poin? Maksudnya?”

“Kami bermain basket dan bertengkar saat bertanding. Lalu apa?”

“Astaga. Lalu kenapa aku menangisimu? Ah, sudahlah.”

-FIN

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s