[IFI Freelance] I Was So Fool (Ficlet)

I WAS SO FOOL

Author : Gurma

Length : Ficlet, Songfic (Winner-Fool)

Genre : hurt, sad

Rating : G

Cast :

Kim Hanbin (iKON)

Shin Hye Bin (OC)

Disclaimer :

Hahaha ide cerita ini muncul gegara baper sama lagu Winner tapi yang jelas semuanya murni dari pikiran Author yang serba kekurangan ini. Kebetulan ini songfic pertama yang dibuat oleh Author mohon dukungannya. So, No Plagiarism and Happy Reading! Please RnR!

Summary :

“Suatu ikatan harus mempunyai komitmen ibarat dinding pembatas yang akan membuat hubungan itu berjalan sesuai tujuan.” – Hye Bin-

“Kemanhae! Shikero!” -Hanbin-

Hanbin POV

Seperti orang bodoh aku membuatmu meninggalkanku dengan segala penyesalan yang masih kuat kurasakan. Akhirnya dinding pembatas yang berulang kali kuhancurkan dan acap kali kau bangun tanpa henti bahkan sebelum dinding itu kokoh aku menghacurkannya kembali kini, kurasa  benar-benar hancur sebelum retak. Bunga kesabaran yang kau tanam tuk menghiasi dinding bahkan tak memiliki kesempatan untuk merekah tapi ia tak menyerah. Ia akan tetap bisa merekah. Tapi apa yang kulakukan? Bunga itupun kutarik hingga pangkal akarnya tak berbentuk pun tak berupa. Tanpa ragu juga tanpa melihatmu aku keluar dari batasanku hanya demi kesenangan sesaat.

Aku egois, selalu

Aku hanya memikirkan diriku sendiri

Sepertinya aku gila

Akulah orang yang menyingkirkanmu

Oh aku bodoh

Oh sayang aku bodoh

Demi sesuatu yang lebih menarik aku pergi meninggalkanmu tanpa memperdulikan sakit yang kau rasakan. Bahkan setiap kata yang keluar dari mulutku seribu kali lebih hina dari yang kulakukan. Kau pun turut keluar dari dinding pembatas dengan maksud mencari dan mengejarku. Bahkan saat kau kebingungan mecariku dengan manik penuh kekhawatiran hingga aku menemukanmu lebih dulu sebelum kau menyadari keberadaanku aku tetap diam membisu, membuatmu tetap getir mencariku. Tapi apa yang kulakukan? Aku justru berlari lebih jauh hingga akhirnya kau menyadari bahwa aku berada di dekatmu kaupun mengejarku dari belakang, dua kali lebih cepat dari sebelumnya, namun perlahan kau tak lagi lari, kau mulai berjalan, merangkak, tertawtih, dan akhirnya terbang. Kurasa kau mulai lemah kau ingin kembali pulang kedalam dinding pembatas itu tapi kau tersesat lantaran terus mengejarku.

Semuanya menghilang di depan mataku

Semua kata-kata kejam dan kasar

Aku yang seenaknya

Tak peduli siapa yang melihatkku, mereka akan mengatakan

Aku bodoh

Kau benar-benar jauh. Sungguh jauh hingga aku tak tahu bagaimana cara untuk bisa menggapaimu kembali. Aku telah mengalahkan penat lelahku untuk mencarimu tapi belum juga kutemukan jiwa ragamu. Entah berapa banyak masa yang telah kulewati untuk mencarimu, anehnya aku masih bisa mengingatmu dengan jelas, setiap lekuk dan garis wajahmu, bibirmu yang ranum, matamu yang tampak seperti bulan terbelah, senyumanmu yang sehangat matahari pagi, jari mungilmu yang lembut, kulit putihmu yang bahkan mengalahkan kapas. Semuanya, entah sekedar kenangan atau sejatinya rasa penyesalan yang teramat menyakitkan. Masih ada, masih tersimpan dengan baik dalam memoriku. Kucari kau ke ujung bumi tak kunjung kudapat, kucari kau ke bulan belum juga kutemui, bahkan Pluto yang telah hilang kutemui tapi kau masih tak terlihat.

Kau menghilang dan pergi sangat jauh

Aku coba tuk merasakan kenangan itu

Aku merindukanmu setiap hari

Ya aku tahu aku terlambat

Kembalilah padaku seolah tak ada yang terjadi sayang

ataukah kau mulai muak dan murka dengan perlakuanku? Jikalau benar, setidaknya berkunjunglah ke alam mimpiku. Aku mencarimu hanya untuk berkata bahwa, meskipun aku pergi menjauh darimu untuk berlabuh ke tempat yang lebih menarik, kurasa tempat itu hanya sekedar menarik  tapi tak bisa membuatku nyaman sepertimu. Sungguh terlambat, aku menyesal karena hingga kau mencapai titik terakhir dari hidupmu aku masih belum mengatakan kata itu.

Seandainya aku bisa melihatmu sekali lagi

Melihatmu meskipun hanya sekilas

Jika dulu aku membenci semua yang keluar dari mulutmu karena terdengar menjelkan tapi anehnya kini aku merindukan hal menjelkan itu. Aku ingin mendengar suaramu walau sekali, walau mungkin umpatan yang nantinya keluar dari mulutmu, aku akan tetap menganggap itu sebuah kata berharga,  kurasa itu bisa sedikit meredakan sesalku.

Kau boleh mengutukku, meskipun itu hanya akan membuang-buang waktu

Setidaknya aku ingin mendengar suaramu

Bajingan bodoh, bajingan bodoh

Kini aku sadar bahwa itu semua salahku

Sayang aku bodoh

Aku bodoh

Kurasa aku mulai gila lataran tak sanggup menanggung beban kerinduan dan penyesalan yang telah lama kutahan setelah kepergianmu. Jika pencarianku tak kunjung berhasil haruskah aku menempuh jalan yang kau lalui sebelum kau terbang agar aku bisa menggapaimu kembali dan meggantikan perkataan kasar yang sudah-sudah dengan kalimat “Dinding yang kuhancurkan sebelum kokoh itu kini telah kokoh berdiri, kuharap kau memaafkanku.”

Takkan ada yang berubah

Meskipun kini aku menyesal

Aku tahu

Fin-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s