[Oneshot] 괜찮아

괜찮아

Another Hanbin x Yoonri Storyline

Length in Oneshot (2K+ word count) Genre in AU! Daily life and Rated General

||slight appearance of Monsta X’s Im Changkyun||

for yall thirsty YoonBin shipper outta there. enjoy!

Tidak apa, Hanbin sungguh tidak apa-apa. Lukanya sudah sembilan puluh sembilan persen sembuh. Dan hatinya sudah hampir pulih.  

Malam itu Hanbin nekat melangkahkan kakinya menuju kediaman Yoonri. Ia terlampau khawatir pasal Yoonri yang tak kunjung mengangkat telepon maupun membalas pesan singkatnya. Padahal, di kamarnya, gadis Yoon itu kelihatan baik-baik saja dan sedang berbaring di atas ranjang.

Yah, namanya saja ‘kelihatan’. Sesungguhnya banyak sekali pikiran yang berkecamuk di setiap sudut benaknya hingga ia mengabaikan ponsel yang berdering berpuluh-puluh kali.

Kembali kepada Hanbin yang masih melawan arus angin. Ia berlari sekuat tenaga selepas turun dari bus. Persetan dengan tatapan mendelik dari orang-orang yang ia lewati. Hanbin hanya khawatir terjadi sesuatu pada gadisnya.

Tidak begitu lama sampai akhirnya Hanbin sampai di depan pagar rumah Yoonri. Ia tertunduk sebentar. Menumpukan kedua telapak tangannya di lutut dan membuat sudut sembilan puluh derajat dengan tubuhnya, napasnya terengah hebat.

Setelah ia merasa aliran oksigen yang ia hirup dan ia embuskan sudah stabil, Hanbin melirik ke atas. Ke lantai dua kediaman keluarga Yoon—kamar Yoonri. Lampu kamar itu menyala.

Yoonri tersadar dari lamunnya setelah ponsel di genggaman tangannya bergetar. Satu pesan baru.

Nao-a.

Ponselnya bergetar lagi. Satu pesan baru lagi.

Neo-ui jib ape-isseo.

Tidak satu pun pesan dari Hanbin ditanggapi oleh Yoonri. Gadis itu mengira bahwa Hanbin hanya main-main untuk menghibur hatinya. Bodoh memang. Yoonri hanya membaca semua pesan dari Hanbin.

Hampir satu jam Hanbin berdiri sambil bersandar di pagar depan rumah Yoonri. Hatinya gusar bukan main lantaran pesan yang ia kirim hanya dibaca. Tidak putus asa, Hanbin mendial nomor Yoonri lalu menempelkan ponselnya ke daun telinga.

Beep. Beep. Beep.

Terus begitu sampai suara operator telepon mengatakan bahwa telepon yang ia tuju tidak menjawab.

Getaran serta dering panggilan di ponselnya Yoonri abaikan sampai akhirnya satu pesan baru kembali muncul.

Jeonhwa-reul bad-a Ri-ya.

Lagi, Yoonri tidak memberi respon. Ia mematikan lampu kamar. Hanya lampu tidur di meja nakas yang masih menyala.

Karena pesannya tidak dibalas, Hanbin melirik sekilas ke arah jendela kamar Yoonri. Gelap.

Trrrriingg.

Kau ingin tidur? Kenapa lampu kamarmu mati?

Yoonri melotot. Bagaimana bisa Hanbin tahu kalau ia baru saja mematikan lampu kamar?

Ponsel gadis itu kembali berdering. Kali ini ia langsung menggeser tombol hijau. Suara favorit Yoonri menyambangi rungunya tidak lama setelah ia mendekatkan ponsel ke daun telinga.

Wae an bad-a?”

Hening. Yoonri tergeming tanpa menjawab pertanyaan Hanbin.

“Aku benar-benar ada di depan rumahmu.”

Penasaran, Yoonri beranjak dari ranjang. Ia menyalakan lampu kemudian membuka gorden jendela kamarnya.

Benar saja. Di bawah sana—tepatnya di luar pagar—Hanbin tengah berdiri sambil menatapnya dengan tangan yang melambai di udara.

“Aku tidak bohong, kan.”

Beep.

Sambungan telepon terputus.

Bisa Hanbin lihat Yoonri menghilang dari pandangannya. Ia menghela napas berat kemudian kembali bersandar pada pagar besi. Baru satu jam ia menunggu, belum apa-apa. Jadi ia memutuskan untuk kembali menunggu kalau-kalau gadisnya berubah pikiran dan mau menghampirinya.

Tanpa Hanbin ketahui, setelah Yoonri memutus sambungan telepon, gadis itu buru-buru menyambar dan memakai hoodie putih yang tergantung di balik pintu. Secepat kilat ia menuruni anak tangga untuk sampai di hadapan Hanbin.

Ketika sedang memainkan ujung sepatunya, Hanbin terkejut karena pagar besi tempat punggungnya menempel secara tiba-tiba bergeser terbuka. Tidak lama setelah itu Yoonri tertangkap lensa matanya. Refleks, Hanbin mengembangkan senyum.

“Kenapa datang?”

“Aku rindu.”

Ingin sekali rasanya Yoonri memukul Hanbin habis-habisan karena berkata demikian sambil tersenyum manis seperti orang idiot. Plus lesung pipi pemuda itu yang mencekung dalam. Sama sekali tidak membantu apa-apa.

“Kenapa tidak angkat telponku?”

Yoonri tergeming. Ia tidak tahu harus jawab apa karena pribadinya sendiri tidak tahu kenapa ia mengabaikan Hanbin padahal pemuda itu tidak melakukan suatu hal yang salah. Jadi Yoonri tidak punya alasan untuk marah.

“Hanbin-ah.”

Wae?”

“Bisakah kau bawa aku pergi?”

Dahi Hanbin sempat berkerut—ia tidak mengerti—tapi kemudian bertanya,”Ke mana?”

“Ke mana saja. Bawa aku pergi, jebal.”

Geurae. Kajja.”

Setelah mengiyakan permintaan Yoonri, Hanbin mendekat. Ia meraih telapak tangan Yoonri, menggenggamnya erat lalu menariknya pergi.

Keduanya berjalan tanpa diiringi konversasi seperti yang biasa mereka lakukan. Sepanjang jalan, dalam satu menit setidaknya Hanbin menoleh ke arah Yoonri sebanyak empat kali. Sementara gadis itu melempar pandangnya entah ke mana.

Langkah kaki mereka sampai pada taman kota yang lumayan ramai—karena hari itu adalah Jumat malam. Sebelum benar-benar memasuki area taman, Hanbin sempat menghentikan langkah.

“Kenapa?”

“Mau es krim?”

Yoonri menggeleng.

“Ey, jangan menolak. Tunggu sebentar, aku belikan.”

Tanpa mendapat persetujuan dari Yoonri, Hanbin berlalu. Sedikit berlari kecil ke kedai es krim di seberang jalan.

Sesampainya di sana, ia langsung saja memesan dua es krim cokelat. Untung saja tidak sedang ramai, jadi Hanbin cepat kembali menyeberang untuk sampai pada Yoonri.

Cha,” kata Hanbin sambil menyodorkan satu cone es krim ke Yoonri.

Gomawo.”

Gwaenchanha. Kajja.”

Melihat Hanbin yang melangkah duluan, lalu es krim di tangannya, Yoonri mengulas senyum. Meski suasana hatinya sedang tidak karuan, pemuda itu dalam sekejap dapat membuatnya melengkungkan bibir. Tidak dapat dipungkiri memang, kharisma seorang Kim Hanbin.

Setelah menelusuri jalan setapak di tengah-tengah rumput taman, mereka berhenti dan mendudukkan diri di sebuah kursi panjang.

Mianhaesseo, Hanbin-ah.”

Beberapa saat setelah kalimat itu meluncur dari bilah bibir Yoonri, Hanbin sempat membatu. Ia kemudian melirik ke arah Yoonri yang entah sedang menaruh pandang ke mana. Es krim di tangan yang ia tumpukan di pinggiran kursi bahkan hampir meleleh.

Gwaenchanha. Aiseu keurimeul meog-o.”

Hanbin kembali melahap es krimnya. Yoonri juga. Bedanya, gadis itu kelihatan tengah menahan air mata. Es krim yang tengah ia nikmati entah kenapa malah menambah rasa pedih di hatinya. Tidak lama setelah itu, Hanbin selesai. Ia kemudian menoleh dan mendapati Yoonri sedang berlinang air mata sambil memakan es krim.

“Ri-ya. Wae ul-eo?”

Menanggapi pertanyaan Hanbin, Yoonri hanya mampu menggelengkan kepala.

“Es krimnya tidak enak, ya?”

Yoonri tidak menjawab. Setelah itu ia menyelesaikan gigitan terakhir dan menjebloskan sisa cone ke dalam mulutnya.

“Lalu, kenapa?”

“Bisa tidak kau tidak usah tanya kenapa?”

Hanbin membatu. Kata-kata Yoonri barusan jujur saja sangat menohok hati.

Eoh. Geurae. Mian.”

Aissshhhhh.”

Setelah hampir mengumpat, Yoonri mengacak rambutnya. Hanbin tentu bingung jadi ia memutuskan untuk bertanya.

Are you on your period?”

Yoonri melotot, lalu balik bertanya,“Eotteokhae ar-a?”

Bagaimana ia tidak terkejut. Mereka baru menjalin hubungan sekitar satu bulan dan ia tidak pernah menjelaskan kapan detilnya masa ‘period’-nya datang. Apakah Hanbin itu sejenis cenayang?

Bukannya menejawab, Hanbin melempar pandang sambil mengulas senyum.

“Hei, jawab aku. Bagaimana kau bisa tahu?”

“Ibuku berkelakuan persis sepertimu saat ‘masa’-nya sedang datang.”

Heol. Aku kira kau itu semacam cenayang.”

Hanbin tergelak. Dan astaga, lesung pipinya.

“Tapi baru kali ini aku lihat ada orang makan es krim sambil menangis.” kata Hanbin dengan nada sarkastis. Yoonri memukul lengan tangannya setelah itu. Dan anehnya, gadis itu sedikit menyunggingkan senyum.

Mereka beradu tatap sebentar. Sampai akhirnya Yoonri melempar pandang entah ke mana.

“Oke. Aku tidak akan tanya kenapa. Tapi kalau kau mau bicara sesuatu, katakan saja.”

Yoonri tergeming setelah mendengar perkataan Hanbin. Serebrumnya mulai bekerja ekstra lagi. Dan hatinya perlahan-lahan serasa ditusuk-tusuk lagi.

Sesungguhnya banyak sekali yang ingin ia katakan agar hatinya sedikit terasa lega. Tetapi Yoonri masih lah bisa memilih dan menyaring hal apa saja yang boleh dan tidak boleh ia katakan. Meski di hadapan Hanbin—kekasihnya—sekali pun.

Kilasan memori tentang telepon dari Changkyun tadi siang kembali mengelilingi setiap sudut benak Yoonri.

‘Kau pasti gila kalau kau tahu, kau pasti gila, Ri.’

‘Bicara yang jelas, Changkyun. Aku tidak mengerti apa maksudmu.’

‘Aku tidak bisa menjelaskannya. Aku belum paham detilnya dan aku takut kau mati berdiri.’

‘Ijashik. Bicara apa, sih?!’

‘Susul aku ke sini semester depan.’

‘Kau gila?! Memangnya pindah sekolah ke luar negeri itu mudah?!’

‘Terserah. Yang jelas, kalau kau pindah ke sini, kau bisa bertemu dengan orang yang seumur hidupmu ini kau cari-cari.’

Hanya sampai di situ. Yoonri bahkan tidak ingat siapa yang memutus sambungan telepon terlebih dahulu. Hatinya sudah kelewat kalut mendengar hal itu dari Changkyun.

“Kau memikirkan sesuatu?” tanya Hanbin membuyarkan lamunannya

Hmm.”

“Apa?”

“Changkyun.”

Refleks keduanya beradu pandang. Dan sama-sama membelalakkan mata.

“Ah, bukan. Maksudku—“

Ar-eo. Gwaenchanha.”

Hanbin berbicara sambil terus tersenyum—yang secara teknis semakin membuat Yoonri tidak tahu harus diapakan hatinya itu.

“Tapi, Ri.”

“Kenapa?”

“Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya kau menangis di hadapanku. Seingatku kau tidak pernah menangis. Padahal banyak sekali hal yang terjadi padamu yang bisa dijadikan alasan untuk menangis.”

“Apa saja?”

“Saat awal semester, waktu Changkyun tidak sengaja melempar bola dan mengenai kepalamu. Aku dengar kau sampai pingsan?”

Yoonri mengangguk sambil tersenyum.

“Apa lagi?”

“Saat di perpustakaan, waktu Sooyeon mengambil buku di rak atas tapi bukunya jatuh semua, kepalamu juga sempat memar. Saat ibu jarimu tertusuk isi strapler sampai berdarah. Saat Jenni memakimu habis-habisan di kelas karena tidak membawa tugas bahasa Inggris. Ah banyak sekali.”

“Kau memerhatikan aku sampai sedetil itu ya, Hanbin?”

“Ah, itu—uhm bukan begitu. Tapi, bukannya perempuan itu gampang menangis, ya?”

“Tidak juga. Buktinya aku tidak.”

“Berarti hidupmu bahagia sekali, ya.”

“Tidak begitu, Hanbin.”

“Lantas?”

Jujur saja topik pembicaraan ini membuat Yoonri jadi sedikit sentimental. Beberapa bulir air bahkan sudah menggenang di matanya.

“Tidak menangis bukan berarti aku bahagia.”

Yoonri sempat memotong kalimatnya. Tapi kemudian ia melanjutkan dengan,”Aku hanya sudah terlalu sering menangis di masa lalu sampai-sampai aku lupa bagaimana caranya menangis.”

“Tapi barusan kau menangis di hadapanku.”

“Itu karena suasana hatiku sedang buruk sekali. Es krim sekali pun rasanya tambah menyayat hati.”

“Astaga, hiperbolis sekali.”

“Aku sungguhan.”

Selepas kalimat Yoonri, obsidian mereka bersirobok. Keduanya menatap dalam ke manik satu sama lain sampai akhirnya Hanbin mendorong pipi Yoonri ke arah kiri agar tautan sorot mata mereka terputus.

“Jangan tatap aku seperti itu. Rasanya aku mau mati, Ri.”

Hanbin nyengir. Sementara Yoonri tengah tersipu malu sambil terus memukuli Hanbin.

“Hey, aku serius.” Kata Hanbin sambil berusaha menahan tangan Yoonri yang ingin memukulnya.

“Matamu itu indah sekali. Aku takut mati kalau lama-lama kau memandangiku. Rasanya seperti sinar laser yang perlahan-lahan membuat tubuhku mencair.”

“Bicara apa sih?!”

Bukannya berhenti, Yoonri malah semakin keras dan gencar memukuli Hanbin. Tidak bisa berkelit, pemuda itu memilih untuk diam-diam balas dendam dengan menggelitik tubuh Yoonri. Jadilah keduanya saling serang sampai kelelahan.

Setelah selesai dengan perang mereka, Hanbin meraih telapak tangan Yoonri. Ia menautkan jemarinya pada milik Yoonri dan membawa tangan gadis itu mendarat di atas pahanya. Sambil mengelus punggung tangan Yoonri, Hanbin berujar,”Kau tahu kan, kau bisa bicarakan apa saja padaku. Jadi jangan sembunyikan apa pun.”

Lagi, kumpulan air sudah menggenang di mata Yoonri.

“Jangan menangis di depan orang lain. Panggil aku kalau kau mau menangis. Ar-a?”

Dan dengan anggukkan yang Yoonri berikan, bersama dengan itu pula sebulir air mata meretas dari pelupuknya yang runcing.

***

Hanbin merutuki dirinya sendiri yang secara refleks memutar balik kilasan memori itu. Benak sialannya entah kenapa dipenuhi dengan pikiran-pikiran tantang gadis yang hampir membuatnya ingin mengakhiri hidup.

Sebenarnya itu semua terjadi bukan karena tanpa alasan. Serebrumnya secara refleks memutar kejadian itu setelah ia melihat salah satu—lebih tepatnya sepasang—kustomer yang datang ke kafe tempat ia sekarang bekerja.

Ia melihat perempuan yang kira-kira seumuran dengannya tengah menangis tersedu-sedu. Sementara itu seorang lelaki—yang kemungkinan besar adalah kekasih perempuan itu—tengah berusaha keras untuk membuatnya berhenti menangis. Bisa Hanbin lihat segala cara sudah lelaki itu lakukan tetapi tidak berhasil.

“Hanbin!”

Karena melamun, ia bahkan tidak sadar bel tanda pesanan siap diantar sudah berbunyi sampai seniornya datang menghampiri dan memukul bahunya.

“Cepat antar! Pesanan meja nomor 11!”

“Ah, ne. Joesonghaeyo.”

Setelah itu, ia buru-buru mengantar pesanan dan kembali ke balik meja kasir.

Hanbin tersenyum miris sambil menundukkan kepala. Ia mengejek dirinya sendiri lantaran taringat akan kejadian konyol beberapa tahun lalu yang baru saja melintas di benaknya.

Tidak apa, Hanbin sungguh tidak apa-apa. Lukanya sudah sembilan puluh sembilan persen sembuh. Dan hatinya sudah hampir pulih. Meski butuh waktu setidaknya dua tahun. Ya, dia tidak apa-apa.

Oseo ose—yo.”

Hanbin niatnya ingin menyapa pelanggan yang baru saja datang. Tetapi sapaannya terbata lantaran wajah orang itu sangat familiar dan baru saja mampir di pikirannya.

Tidak, tidak mungkin. Aku pasti salah lihat. Dia hanya murid pindahan waktu itu. Bukan siapa-siapa. Batin Hanbin.

“Ingin pesan apa?” tanya Hanbin seramah mungkin sambil mengembangkan senyum. Tetapi jujur saja ia kehilangan fokus saat menatap mata kustomernya yang baru datang ini. Rasanya entah kenapa sangat, sama.

Matcha green bubble tea. Susunya setengah takaran biasa saja dan tolong hitung ice cube-nya sampai sebelas. Jangan lebih, jangan kurang.”

Hanbin terkesiap. Tidak mungkin.

Perempuan di hadapannya tentu menyadari reaksi Hanbin yang kelewat terkejut. Jadi ia memberanikan diri tersenyum lebar sambil mengangkat tangannya, melambai singkat pada Hanbin.

Annyeong.”

Tidak apa-apa. Hanbin memberikan sugesti itu kepada dirinya sendiri sambil memejamkan mata dan menarik napas panjang.

Tidak apa-apa, Hanbin. Ini hanya kebetulan. Ya, hanya kebetulan.

Setelah ia membuka mata dan kembali beradu pandang dengan perempuan itu, pikirannya kembali kosong.

Tunggu, apa benar aku tidak apa-apa?

Hanbin ingin menjerit. Ia ingin memekik bahwa ini semua hanyalah mimpi dan tidak mungkin terjadi. Apakah tidak apa-apa? Apakah perempuan itu adalah perempuan yang sama dengan perempuan yang meninggalkannya dua tahun lalu? Apakah ini situasi yang benar saat pikirannya berteriak tidak apa-apa sementara hatinya tidak?

Maja, na-ya.” Ujar perempuan itu.

Baiklah. Tidak apa-apa. Aku bahkan tidak apa-apa jika Tuhan mencabut nyawaku sekarang juga.

Oraenmani-da. Hanbin-ah.”

—fin

Rika/n HAALLLLUUUUU~~ ADUH EXCITED SEKALI BISA UPDATE DI SINI BAWA YOONRI X HANBIN HIKS AKU KEMBALI MEMBUKA LUKA LAMA/SLAP

/maafin kepsloknya please/

Dan, oh, ya! aku iseng aja buat ini karena semalam tiba-tiba sebuah plot muncul di dalam kepala, tetapi apa daya pas baru nulis seperempat harus tertunda, dan baru selesai sekarang juga WKWKWKWK

eh, mau kasih tau sih sekalian promo ini sebenarnya mungkin penggalan future/? dari workbook aku yang lagi on going di wattpad. Aku punya satu work yang isinya story Yoonri x Hanbin dari masih awal-awal banget. Buat kalian yang berkenan silahkan mampir di wattpadku unamenya @yoonriieee ehe XD

udah ya sekian rika chabs! see ya!

Iklan

Satu pemikiran pada “[Oneshot] 괜찮아

  1. HAAAAI KAKAK SISKAAAA WKWKWKWKKW OMEGAT OMEGAT OMEGAAATT TULUNG MAAFKAN AKU YANG GAK BISA MENGKONDISIKAN PIKIRAN KARENA HARUS PAKE CAPSLOCK.

    SUMPAAAAAH SEBENERNYA AKU NEBAKNYA INI BAKAL ROMANCE SIH. FULL NO SAD SAD AN, BUT……. INI KENAPA JADI SEMI ROMANCE SEMI FLUFFY? APAAN SIH TATAP TATAPAN? PUKUL PUKUL AN? SENYUM SENYUM GAK JELAS, ADUUUUHH PLIS YA BIN, AKU DISINI LBIH PEN MATI ASLI DAAAAAAHHHH. NGUMPAT TERUS AKU NIIII

    oke daaaan aku brarti uda kespoiler dong ya bakal kek gimana alurnya nanti . Sumpah aku kaget kalo emang bakalan pergi….. AIIIHH INI READER PERASAANNYA KEK RUJAK SUMPAH GATAU HARUS GEMES SEDIH APA SENENG?
    TRUS APA LAGI ITU HANBIN? KEBAYANG DIA YANG JADI BARISTA DI VCR KONSERNYA MEREKA YA ALLOOHH AMPUNI AKUUU :””””””)))))))))

    Ini bener benerrr worth it banget, dan banyaaaaak bnget katakata kamu disana yang bisa nge-link ke story another side ku nanti HAHAHAHHAHAHAHAHHAHAHAHAJAHAHA

    MANGATS TERUS MWAH,😘😘😘😘😘

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s