[IFI Freelance] iKOS (Chapter 1)

Title : iKOS

Author : aretazia
Main Cast : All member iKON (B.I, Bobby, Jinhwan, Yunhyeong, Donghyuk, Junhoe, Chanwoo)
Lenght : Chaptered
Genre : Romance, comedy, friendship
Rating : All
Summary:
“Yaa! Hanbin! Aku tahu itu kau, anak Gyeonggi sialan!”
“Astaga, apa dia tidak bisa berhenti membuatku takut?” 
“Sepertinya klub paduan suara tidak bisa menerima suaramu. Coba saja ke klub band, barangkali kau diterima, diterima sebagai pemegang kabel. Hahaha!”
“Pasti karena Hanbin-hyung lagi, kan? Ah, kurasa aku harus berbicara dengan dia sekarang juga!”

Chapter 1

[ A Damn Secret ]

Suara gesekan sepatu dengan aspal jalan menggema di salah satu gang kecil yang terletak di pinggiran Kota Seoul. Pemilik sepatu itu sendiri terlihat sangat kesal hingga untuk sekedar mengangkat kaki pun rasanya seperti mengangkat beban puluhan kilogram. Jeans panjang, kaos berlapis hoodie tebal yang menutup hingga kepala, dan masker hitam yang ia kenakan hampir membuat seluruh bagian tubuhnya tidak terlihat, kecuali sepasang mata kecewanya yang terus bergantian menatap langit dan aspal jalanan.

Ia berkali-kali memaksa dirinya untuk segera melupakan kejadian siang tadi, tapi suara senior yang menjadi juri pemilihan klub paduan suara baru di kampus terus terngiang di kepalanya, semakin menambah kekecewaan yang dia sendiri tidak tahu akan sampai kapan terus terasa.

            “Ya. Kurasa bakatmu bukan bernyanyi. Ikut klub gambar saja, mungkin saja bisa.”

            “Kau bernyanyi seperti rollercoaster. Cepat sekali, nadanya naik turun tidak sesuai, ah, jinjja, ini yang tadi kau sebut bisa menyanyi?”

            “Sepertinya klub paduan suara tidak bisa menerima suaramu. Coba saja ke klub band, barangkali kau diterima, diterima sebagai pemegang kabel. Hahaha”

Pemuda itu semakin terbakar emosinya sendiri. Penghinaan! Benar-benar penghinaan! Paduan suara di kampusnya memang menjadi salah satu alasan mengapa ia memilih kampus itu di antara ratusan perguruan tinggi lain di Seoul. Klub paduan suaranya menjadi nomer satu di Korea Selatan, bahkan sudah sering diundang ke acara maupun lomba-lomba di luar negeri, sesuatu yang selama ini menjadi impian pemuda itu.

Sekarang, setelah berlatih mati-matian selama berminggu-minggu sebelum hari H pemilihan anggota baru dilakukan, ia justru disarankan menjadi pemegang kabel. Pemegang kabel!!

“Aarrgh sialan!!!” untuk yang kelima kalinya sepanjang perjalanan pulang kuliah hari ini, ia kembali menendang batu yang tergeletak di jalanan. Dan kali ini, batu yang ia tendang sukses mengenai tong sampah yang terbuat dari seng, menimbulkan bunyi nyaring yang mengagetkan Kakek Lee, salah satu orang tertua di kompleks itu yang juga dikenal sebagai orang paling galak dan cerewet.

“Yaa! Hanbin! Aku tahu itu kau, anak Gyeonggi sialan!” Kakek Lee berteriak dari jendela rumahnya, mengacung-acungkan jari telunjuk keriputnya ke arah Hanbin yang sudah beberapa detik yang lalu lari terbirit-birit.

“Sini kau pemuda kurang ajar! Tehku jadi tumpah semua! Kenapa kau hobi sekali menendang batu, sih?!” Orang tua itu terus melanjutkan makiannya meski Hanbin sendiri bahkan sudah tidak terlihat lagi di pandangannya. Suaranya yang lantang membuat beberapa tetangga yang lain ikut keluar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dan, jadilah sore hari di gang kecil itu ramai hanya karena tendangan batu.

Hanbin, pemuda yang membuat hampir seisi kompleks gaduh, sudah tiba di depan indekos tempat tinggalnya. Ia tidak tahu kalau namanya masih diteriaki oleh Kakek Lee, toh kalaupun tahu ia juga tidak peduli. Meski kurang lebih baru sebulan sejak ia pindah dari rumahnya di Gyeonggi ke kos ini, ia telah hafal mati bagaimana sifat orang tua itu yang memang mudah sekali marah karena hal-hal kecil. Ya, bukankah batu itu kecil?

Pemuda itu menurunkan masker yang menutupi separuh wajahnya. Tangannya terus bergerak merogoh ransel hitam miliknya, mencari kunci kos yang terselip entah di mana. Setelah hampir semenit berlalu dan pencariannya tidak mendapatkan hasil apa-apa, ia berdiri dan mengetok pintu depan kos itu dengan kasar.

“Annyeoooong!! Aku sudah kelaparan, cepat buka siapa pun di dalam!” Teriaknya masih dengan berapi-api. Tak hanya karena komentar senior saja, tetapi Kakek Lee dan perutnya yang tiba-tiba terasa sangat lapar juga bertanggung jawab atas emosinya yang semakin membuncah.

“Hai, kau baru pu-“

“Kenapa lama sekali, sih! Aku sudah lelah!!” Hanbin tidak peduli dengan teman satu kosnya yang masih mematung di depan pintu. Pemuda itu langsung berjalan ke kamarnya.

Dia mengerang frustasi ketika melihat kunci kos yang tadi ia cari ternyata masih tergantung di pintu kamarnya. Ini pasti karena pagi tadi ia terlalu bersemangat untuk berangkat ke kampus. Apalagi kalau bukan karena seleksi sialan itu. Aish, jenjang!

            “Astaga, apa dia tidak bisa berhenti membuatku takut?” Bisik Jinhwan yang masih bergetar karena baru saja menerima bentakan dari Hanbin.

Kos-kosan yang mereka tinggali memang lebih mirip rumah dengan banyak kamar daripada asrama. Ada kurang lebih tujuh kamar, dan selama hampir sebulan setelah waktu penerimaan mahasiswa baru, hanya ada tiga kamar yang sudah berpenghuni. Empat lainnya masih kosong. Bukan hanya karena lokasinya yang terpencil dan lumayan jauh dari universitas terdekat, pemilik kos yang terkenal tegas dan galak juga menjadi alasan kenapa kos tersebut masih sepi.

Sayangnya, tiga orang penghuni awal tersebut datang dari luar Kota Seoul seperti Gyeonggi, Jeju, bahkan Amerika, jadi mereka tidak tahu apa-apa mengenai pemilik kos tersebut.

“Ah, kenapa dia tidak bisa berkata lebih halus lagi? Kurasa aku sudah cepat membuka pintunya. Aku memang tidak pernah benar.” Jinhwan yang perasa masih memikirkan apa salahnya yang sebenarnya hingga ia kembali kena marah oleh pemuda itu. Ya, tak lama sebelum ini ia juga pernah dimarahi Hanbin karena memakai kamar mandi terlalu lama, tidak langsung mencuci piring bekas makannya, atau karena berjalan terlalu keras hingga mengganggu Hanbin menulis lagu. Yah, setidaknya begitulah yang Hanbin katakan, entah benar atau tidak ia sering menulis lagu.

Jinhwan menutup dan mengunci pintu depan kosnya untuk kemudian kembali masuk ke dalam kamar. Namun, baru saja pantatnya menyentuh empuknya tempat tidur, suara teriakan seseorang yang minta dibukakan pintu kembali terdengar. Dengan kesal ia kembali keluar dan membuka pintu tersebut.

“Annyeo-“

“Bukannya semua orang sudah mendapatkan kunci pintunya masing-masing?! Aku juga ingin beristirahat dengan tenang!! Tolong jangan tinggalkan kunci rumah kalian!! Kalian ini!! Aissh, jenjang!!”

“Hyung, kau baik-baik saja?” Bobby, pemuda bergaya swag yang belum lama ini pindah dari Amerika, menatap Jinhwan dengan khawatir. Bukan karena Jinhwan baru saja marah-marah, tetapi karena mata pemuda berbadan kecil itu kini terlihat berkaca-kaca.

“Tidak apa-apa, aku hanya terlalu sensitif.” Ia menghapus air yang menggenang di ujung matanya.

“Pasti karena Hanbin-hyung lagi, kan? Ah, kurasa aku harus berbicara dengan dia sekarang juga!” Bobby sudah merangsak masuk ke dalam kos dan mengetok pintu kamar Hanbin dengan brutal sebelum Jinhwan bergerak mencegahnya.

“Sudah hentikan, nanti kalian malah bertengkar.” Sekarang Jinhwan sudah benar-benar menangis. Ia berusaha menghentikan Bobby yang kini terus berteriak menyuruh Hanbin keluar.

“Sudahlah, Jinhwan-hyung serahkan semuanya padaku saja! Aku sudah sangat geram! Memangnya dia pikir dia siapa hingga bisa membuatmu menangis terus-menerus?!” Sejak awal bertemu, Bobby dan Jinhwan memang sudah langsung akrab jika dibandingkan dengan Hanbin yang hanya keluar dari kamar untuk ke kamar mandi, ke dapur, atau langsung keluar dari kos. Itupun tentu saja, dengan raut muka yang entah mengapa bagi keduanya selalu terlihat marah.

“Hanbin-hyung! Keluar kau! Kenapa kau selalu membuat Jinhwan-hyung menangis?! Aku tahu kau paling tua di antara kami, tapi tidak begini caranya! Ini tidak adil!!”

“Hanbin-hyung, keluaaar!!” Bobby mengeraskan ketukannya di pintu kamar yang di atasnya terdapat tulisan “B.I” besar sekali. Siapapun tidak mengerti apa arti huruf B dan I itu kecuali Hanbin sendiri.

Tak lama kemudian, suara kaki yang turun dari tempat tidur terdengar. Hanbin membuka pintu, matanya terlihat lelah namun tetap berapi-api. Jangan tanya bagaimana menyeramkannya wajah pemuda itu saat ini, hanya dengan menatap wajahnya saja keberanian Bobby sebelumnya sudah luntur tak bersisa. Dan Jinhwan? Ah, pemuda itu sudah menangis tersedu-sedu di belakang Bobby.

“Ada apa?” Tanya Hanbin dengan suara berat berkharisma.

“Ke-kenapa kau membuat Jinhwan-hyung menangis? Hyung, cobalah untuk bersikap halus. Kita tinggal satu rumah, kita harusnya seperti saudara..” Bobby yang sebelumnya membayangkan akan menghajar Hanbin hingga babak belur justru berbicara dengan nada serendah dan “sebaik-baik saja” mungkin.

“Aku tidak membuatnya menangis. Hei, memangnya aku memukulmu? Kenapa kau menangis? Aku hanya berkata kau terlalu lama membuka pintu.” Jawab Hanbin dengan sangat tenang, yang anehnya semakin membuat Bobby dan Jinhwan merasa takut.

Jinhwan semakin mengeraskan tangisnya, tangan kecilnya memegang kaos bagian belakang Bobby, menyuruh pemuda itu mundur.

Mianhae hyung. Mian..” Ucapnya lirih.

“Kau tidak dipukul? Dia hanya berbicara seperti itu?” Bobby berbisik ke Jinhwan.

“Ne..”

“Lalu kenapa kau menangis?”

“Kubilang aku orangnya sensitif..”

“Hyaa! Hyung, kau ini membuatku malu saja.”

“Kenapa kalian berbisik-bisik? Sudah jelas kan? Jangan ganggu aku lagi! Aku ingin tidur!” Hanbin mengeraskan kata tidur dalam kalimatnya. Ia menatap tajam Bobby dan Jinhwan sekali lagi, lalu bersiap menutup pintu kamarnya kembali.

Akan tetapi, belum sempat ia menutup pintu, Tuan Yang, pemilik kos yang mereka tempati, tiba-tiba masuk ke dalam kos mereka. Rumahnya yang persis terletak di depan kos mereka membuat ia bisa dengan mudah mendengar keributan yang sedang terjadi.

“Ada apa ini? Kalian ribut sekali.” Ia berjalan mendekat dengan langkah lamban yang justru semakin membuat jantung ketiga pemuda itu berdetak kencang. “Yak, Jinhwan-ah, kenapa menangis? Bobby, Hanbin, apa yang terjadi?”

Ketiga pemuda itu menggeleng secara bersamaan karena sebenarnya ketiganya juga tidak tahu apa yang mereka ributkan. Lagipula menurut Bobby akan memalukan jika ia bercerita bahwa Jinhwan menangis hanya karena Hanbin berkata ia terlalu lama membuka pintu.

“Kalian harus hidup dengan damai. Aku tidak ingin kos ini dihuni oleh orang-orang yang hanya gemar membuat keributan! Aku masih punya banyak urusan yang jauh lebih penting selain terus-menerus melerai pertengkaran kalian! Aku tidak ingin ada kejadian seperti ini lagi. Kau, Jinhwan-ah, jangan mudah menangis! Apalagi kau Hanbin-ah, kau paling muda di sini, harusnya kau bisa menghormati hyung-hyungmu!”

Ada jeda sepersekian detik sebelum akhirnya ucapan Tuan Yang benar-benar meresap ke dalam otak ketiga pemuda itu.

“APAAA???!!!” Bobby dan Jinhwan berteriak bersamaan. Keduanya melirik Hanbin dengan gerakan slow motion. Kata “apa” yang baru saja terucap masih menyisakan bentuk bibir yang membulat lebar. Mereka tidak salah dengar, Tuan Yang dengan jelas berkata..

Apalagi kau Hanbin, kau paling muda di sini, harusnya kau bisa menghormati hyung-hyungmu!

Apalagi kau Hanbin, kau paling muda di sini,

Hanbin, kau paling muda di sini,

kau paling muda di sini,

paling muda di sini,

P-A-L-I-N-G M-U-D-A…

***

Persis setelah Tuan Yang meninggalkan kos dan rahasia bahwa ternyata Hanbin adalah penghuni kos yang paling muda terbongkar, ia dipaksa duduk di sofa ruangan yang selama ini digunakan untuk menonton TV oleh dua orang teman kosnya, Jinhwan dan Bobby. Di depan Hanbin, Jinhwan berkacak pinggang dan menatap tajam ke arah Hanbin, sedangkan Bobby berdiri di sebelah kiri Jinhwan, raut mukanya tidak jauh berbeda dari pemuda berbadan kecil itu, tapi tentu saja terlihat lebih mengerikan.

“Jadi selama ini ternyata kau lebih muda dari kami?” Tanya Bobby dengan suara beratnya.

“Kenapa kau membohongi kami?” Tambah Jinhwan. Mata sipitnya yang tadi basah oleh air mata kini terlihat kering dan memanas.

“Agar kau bisa menindas kami?”

“Dan bisa seenaknya memarahi kami?”

“Agar bisa menyuruh-nyuruh kami sesukamu?!”

“Jawab!”

“Jangan diam saja!”

Aish, jinjaa! Bagaimana aku bisa menjawab kalau kalian terus berbicara?!” Hanbin yang tersudut memutar matanya dengan frustasi.

“Kau berani pada kami, yang lebih tua darimu?” Bobby kembali menggertak. Wajahnya terlihat sangat puas.

“Tidak, hyung. Aku tidak bermaksud membohongi kalian, tapi kalian saja yang tidak mau bertanya. Aku kira kalian memang lebih muda dariku jadi kubiarkan saja kalian memanggilku hyung.” Hanbin si kharismatik yang selama ini terkenal garang dan menjadi penguasa di kos tanpa nama itu, kini hanya bisa menatap lantai di bawah kakinya. Tidak berkutik.

“Badanku kecil, tapi aku paling tua di sini, kau tahu? Sekarang kau tidak boleh menyuruhku membukakan pintu, tak boleh menggangguku mandi, dan tidak boleh mengomentari langkahku yang berisik. Arrasseo?” Jinhwan sengaja mengeraskan suaranya agar terlihat garang, tapi gagal total karena kenyataannya ia memang tidak pandai berakting marah. Bentakannya justru terdengar seperti suara teriakan ibu-ibu yang sedang panas dalam.

Arrasseo, hyung..”

“Katakan yang keras!”

Arrasseo!”

“Jangan membentak!”

Arrasseooo….”

“Dengar!” Bobby kembali menaikan suaranya. Rasanya ia masih belum puas melampiaskan balas dendamnya dengan Hanbin. “Mulai sekarang kau harus-“

Tok, tok, tok.

Bobby dan Jinhwan yang mengira suara ketukan itu berasal dari Tuan Yang segera menjatuhkan diri mereka ke atas sofa, dan duduk di samping Hanbin. Kedua orang itu langsung berakting tertawa seolah-olah mereka bertiga baru saja membicaran sesuatu yang sangat lucu. Tuan Yang yang bisa membuat suasana mencengkam hanya dengan suaranya membuat mereka sedikit trauma, takut kejadian seperti tadi kembali terulang kali ini.

Hanbin yang sebelumnya terpojokkan juga tidak mempunyai pilihan lain kecuali ikut tertawa bersama. Jadilah ketiga pemuda itu tertawa terbahak-bahak tanpa alasan seperti orang tolol yang terlalu sering mabuk MSG.

Annyeong..!”

Seseorang masuk ke dalam dan menemukan Jinhwan, Bobby, dan Hanbin di ruang TV sedang tertawa bersama. Namun, tawa ketiganya langsung lenyap tak berbekas setelah melihat orang yang masuk ternyata orang asing dengan koper besar di tangannya, bukan Tuan Yang seperti yang mereka kira.

“Hai, apa kalian penghuni kos ini?” pemuda yang baru saja masuk terlihat sangat ceria, dan sial, tampan.

Bobby, Jinhwan, dan Hanbin masih membatu. Ketiganya kompak saling menatap satu sama lain, dan seperti ada jeda sepersekian detik sebelum akhirnya cepat-cepat bangkit berdiri setelah sadar sejak tadi mereka terjebak dalam posisi saling merangkul satu sama lain. Menjijikan!

Pemuda yang baru datang itu masih memasang senyum garingnya. Ia terlihat bingung dan tidak mengerti dengan sikap tiga laki-laki di depannya.

“Hai, jeoneun Song Yunhyeong imnida, penghuni kos baru di sini. Saya mahasiswa seni, seni peran lebih tepatnya. Kalian siapa?” Ia masih berusaha mencairkan suasana canggung yang menyelimuti mereka. Bahkan, meskipun sebenarnya bibirnya sangat lelah, ia tetap tidak ingin berhenti tersenyum untuk menunjukkan keramahannya.

Yunhyeong ingat pesan utama ibunya sebelum ia datang ke Seoul “Tersenyumlah, dan semua akan menjadi baik-baik saja.” So, here is he. Tersenyum kaku yang justru membuat Bobby, Jinhwan, maupun Hanbin kehilangan kata-kata.

“Apa dia harus terus tersenyum seperti itu?” bisik Bobby ke Jinhwan yang berada persis di sebelah kanannya.

“Kurasa dia barusaja melakukan pembersihan kerak gigi, dan dia ingin kita melihat betapa memuaskan hasilnya.” Jawab Jinhwan dengan bisikan yang membuat keduanya sama-sama ingin tertawa.

Setelah beberapa detik tetap dalam keadaan saling diam, Hanbin membuka suara terlebih dahulu.

“Kelahiran tahun berapa kau?”

“Oh, wae? Apa itu yang ingin kau tahu tentangku pertama kali?” Tanya Yunhyeong bingung. Sebelumnya ia menduga penghuni kosnya akan dengan ramah bertanya “berasal dari mana kau?”, “kau akan tinggal di kamar nomor berapa?”, “wah bibirmu segar sekali, lipbalm merek apa yang kau pakai?”, atau setidaknya ia tidak pernah menduga bahwa mereka akan bertanya mengenai tahun kelahiran saat perkenalan.

“Ya. Itu syarat wajib untuk bisa diterima di sini. Dilihat dari wajahmu, pasti kau kelahiran ‘96 atau ’97, kan?” Hanbin masih berusaha. Apa lagi niatnya bertanya tahun kelahiran kalau bukan untuk mencari orang yang lebih muda darinya?

“Tidak. Aku lahir tahun 1995. Apa itu artinya aku tidak diterima di sini?” Tanya Yunhyeong polos. Senyum aneh yang sejak tadi bertahta di bibirnya kini berganti menjadi ekspresi bingung yang juga sama-sama membuat ketiga pemuda itu ingin tertawa.

“Sudahlah, kau terlalu memaksakan diri, Hanbin-ah. Terima saja kedudukanmu sebagai yang paling muda di sini..” Jinhwan menepuk-nepuk pundak kiri Hanbin. Seulas senyum evil terulas di bibir tipisnya.

“Ah, jenjang (sialan)..”

“Selamat datang Yunhyeong! Kenalkan, aku Bobby. Tak usah memanggilku hyung karena kita seumuran. Dan ini, yang badannya paling kecil,” Bobby menunjuk Jinhwan “jangan kira dia paling muda, dia justru yang paling tua di sini. Jinhwan-hyung.”

Annyeong, hyung.” Yunhyeong menyapa Jinhwan dengan ramah, dan dibalas dengan Jinhwan tidak kalah hangat.

“Dan kau?” Yunhyeong berganti melirik ke arah Hanbin. “Kau pasti yang paling muda di sini, kan?” pemuda itu bermaksud mencairkan suasana dengan sedikit gurauan.

“Ya, benar! Aku paling muda di sini, apa kau mau menyuruh-nyuhku?!” Tanya Hanbin dengan suara dan ekspresi khasnya, menyeramkan.

“A-A.. Tidak, tidak.. a- aku tidak akan menyuruhmu apa-apa. Sungguh..” Yunhyeong yang baru pertama kali melihat ekspresi itu refleks menjauhkan langkahnya dari Hanbin. Kalau saja di belakangnya tidak ada dinding, mungkin dia akan terjungkal karena terkejut dengan jawaban yang meledak-ledak itu. Ia pun segera memasang senyum tamengnya.

Tersenyumlah, semua akan baik-baik saja. Dia paling muda.. paling muda.

“Ya! kau tidak boleh seperti itu Hanbin-ah. Lihat, dia sangat ramah, dia pasti anak baik-baik, benar kan Yunhyeong?” Hibur Jinhwan. Yunhyeong hanya mengangguk ragu-ragu.

“Lagipula masih ada 3 kamar lagi. Siapa tahu akan ada penghuni yang lebih muda darimu. Haha.” Bobby ikut menimpali, dan Hanbin hanya bisa menanggapinya dengan senyum kecut, tapi kemudian dia menatap Yunhyeong dan senyum kecut di bibirnya itu berganti senyum yang jauh lebih ramah.

“Mianhae, hyung. Aku tidak galak kok, tadi anggap saja sebagai tes untuk menguji kekuatan jantungmu. Namaku Kim Hanbin.” Ia mengulurkan tangannya ke pemuda tampan yang masih berdiri merapat ke dinding. Yunhyeong sendiri tidak langsung menyambut uluran tangan itu, ia masih sedikit takut. Dia hanya terus memandang wajah dan tangan Hanbin secara bergantian, menimang-nimang kadar ketulusan ucapan pemuda itu.

Namun, setelah akhirnya dia benar-benar percaya..

“Ya! Aku mengajakmu bersalaman dan kau tidak mau menyambutnya?!! Sombong sekali kau! Kau kira kau siapa?!”

“KIM HANBIN!!” Teriak Jinhwan dan Bobby bersamaan setelah Hanbin kembali membentak teman baru mereka.

Yunhyeong, pemuda yang menerima teriakan itu sendiri sudah terjatuh ke lantai, lemas tidak berdaya.

“A-a-a..”

Bruk.

tbc.

Iklan

Satu pemikiran pada “[IFI Freelance] iKOS (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s