[IFI Freelance] iKOS (Chapter 2)

Title : iKOS

Author : aretazia
Main Cast : All member iKON (B.I, Bobby, Jinhwan, Yunhyeong, Donghyuk, Junhoe, Chanwoo)
Lenght : Series
Genre : Romance, comedy, friendship
Rating : All

Summary:

“Aku yakin otakmu pasti masih sangat bagus, Hanbin-ah, karena hanya kau gunakan untuk menulis lagu saja!”

“Ya kalian! Aku akan membuktikan kalau aku bisa menjadi penyanyi meski tidak bisa masuk klub paduan suara itu!”

‘Kalau kau tidak bisa lewat pintu, lewat saja jendela. Kalau jendelamu terkunci, pecahkan kacanya. Ada banyak cara untuk bisa keluar asal kau memang ingin keluar!’

Chapter 2

 [ Annyeong! ]

Sudah lebih dari dua menit Hanbin hanya duduk di meja belajarnya, menatap uap tipis yang melayang di sekitar cangkir kopinya yang masih panas. Pikirannya menerawang jauh, mengingat kembali mimpi-mimpi yang ia rajut sejak masih kecil, janji-janji yang ia utarakan pada kedua orangtuanya sesaat sebelum ia merantau ke Seoul, dan apa yang sudah ia usahakan untuk memenuhi mimpi dan janji tersebut.

            Pemuda itu seolah kehilangan harapannya setelah ditolak mentah-mentah oleh klub paduan suara di kampusnya. Ia seperti sedang melihat mimpinya menjadi seorang penyanyi profesional semakin berjalan menjauh, mundur dengan gerakan cepat. Bagaimana agensi bisa menerimaku kalau klub paduan suara di kampus saja menghina kemampuanku? Apa benar aku bisa bernyanyi? Atau semua itu hanya perasaanku saja? Hanbin menatap cermin besar di depan lemarinya, bertanya dalam hati seolah sedang menceritakan kesedihannya dengan pantulan dirinya sendiri di cermin itu. Namun, sesi curhat imajiner itu terganggu dengan nada dering handphone Hanbin yang menandakan ada satu chat masuk.

            Lisa

            Annyeong, calon pemegang kabel klub band kampus! Aku barusaja membeli es krim dan ternyata mendapatkan bonus satu es krim lagi. Jadi sekarang aku punya dua es krim, tapi aku tidak sanggup menghabiskannya sendirian. Kau simpan saja kopimu dan makan es krim ini! Sekarang!

            Hanbin tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum. Kenapa dia bisa tahu? Ah, tidak, maksudku memangnya apa yang dia tidak tahu? Masih wajar kalau Lisa tahu kebiasaannya yang selalu membuat kopi dengan air mendidih setiap kali perasaannya kacau hanya untuk melihat bagaimana uapnya melayang-layang, tapi tentang pemegang kabel? Entahlah, Hanbin sendiri seringkali kagum dengan daya stalk perempuan, terutama Lisa.

Menyakitkan memang membaca kalimat awal pesan dari sahabat karibnya itu, tapi Hanbin yang sudah tahu persis seperti apa jenis gurauan Lisa tidak pernah menganggap itu serius, ia bahkan sebenarnya tahu kalau sahabatnya sejak SMP itu memang sengaja membeli dua es krim sebagai usaha untuk bisa menghibur perasaannya.

            Lisa

            Pabo-ya! Apa kau sedang menangis? Kau mau aku belikan tisu?

            Hanbin

            Tidak! Di mana kau? Awas saja kalau bukan es krim cokelat!

            Lisa

            Apa kau benar-benar harus bertanya aku di mana? Aish, kau memang tidak bisa mengingat apapun di otakmu!

            Hanbin

            Yak! Jangan kemana-mana dan tunggu pembalasanku! Awas kau!

            Pemuda itu segera meraih jaket hitamnya yang tergantung di pintu. Setelah mematikan lampu dan mengunci pintu kamarnya, ia berjalan keluar dari kos. Namun, dia memutar balik langkahnya begitu sampai di ruang TV, dan berjalan mendekat ke kamar Yunhyeong, orang yang baru beberapa jam yang lalu resmi menjadi penghuni kos ini.

            Hanbin merasa sangat bersalah karena candaanya ke teman satu kosnya itu keterlaluan hingga membuat Yunhyeong ketakutan dan selalu pucat setiap kali melihatnya lagi. Karena terlalu lemas, sore tadi ia, Jinhwan, dan Bobby bahkan harus membantu Yunhyeong berdiri dan menuntunnya masuk ke kamar. Lucu memang, Hanbin sendiri tidak bisa menahan tawa setiap kali mengingatnya, tapi di lain sisi ia juga merasa kasihan karena mengacaukan hari pertama pemuda itu di kota Seoul.

            Tok, tok, tok.

            Hanbin mengetuk pintu kamar Yunhyeong dengan sangat pelan, namun Yunhyeong yang sepertinya sedang tidak melakukan apa-apa segera memuka pintu kamarnya begitu suara ketukan itu terdengar.

            “Halo, hyung..” Hanbin memasang senyum yang bagaimapun diusahakannya, tetap akan menunjukkan rasa canggung. “Kau sudah baik-baik saja?”

            “Ne, aku baik-baik saja, Hanbin-ah. Maaf karena terlalu berlebihan, aku hanya tidak biasa dengan cara bercandamu.” Yunhyeong yang pada dasarnya memang sangat ramah dan baik hati justru menganggap itu semua kesalahannya. Itu juga yang membuat Hanbin, pemuda yang kini berdiri di depannya melongo, ia tidak menduga kalau Yunhyeong akan dengan sangat mudah memaafkan kesalahannya.

            “Tidak, aku harusnya yang meminta maaf, hyung. Maafkan aku..”

            “Tidak, itu salahku, bagaimana aku bisa tidak tahu kalau kau sedang pura-pura?”

            “Tapi aku juga seharusnya tidak perlu bercanda seperti itu. Maafkan aku hyung..”

            “Tidak, maafkan ak-“

            “Hyung, sudahlah terima saja maafku dan kau tidak perlu meminta maaf, agar cepat, karena aku harus pergi setelah ini.” Hanbin memohon dengan sedikit merajuk. Dia benar-benar bosan dan seolah tidak ada harapan pembicaraan tentang permintaan maaf itu akan berakhir dengan sendirinya jika tanpa ada yang ingin menghentikan.

            “Ah? Ne, baiklah, kau saja yang meminta maaf.” Jawab Yunhyeong akhirnya, dan jika ia bisa mendengar dengan baik, maka akan terdengar suara desahan nafas kelegaan dari Hanbin.

            “Baiklah, maafkan aku, hyung. Aku tidak akan mengulanginya.”

            “Iya, sama-sama.”

            “Aku pergi dulu ya, hyung. Apa kau akan menitip sesuatu? Biar aku belikan.”

            “Emm..” Yunhyeong terlihat ragu-ragu. Ia melirik ke kiri dan kanan, memastikan apa ada orang lain selain mereka berdua di sana. “Apa aku benar-benar boleh menitip sesuatu?”

            “Ya, tentu saja. Tapi aku tidak tahu kapan pulang jadi kuharap itu bukan makanan.” Hanbin mengikuti pandangan mata Yunhyeong yang bergerak-gerak ke kanan dan kiri, pikirannya sibuk menduga-duga apa yang sebenarnya Yunhyeong ingin titipkan, dan dalam hati berharap agar itu bukan suatu barang yang berbahaya.

            “Sini.” Yunhyeong menarik lengan kanan Hanbin, mendekatkan mulutnya ke telinga pemuda itu. “Bisa kau belikan aku lipbalm Nivea?”

            Hening.

***

            Seperti seseorang yang memang sudah berpengalaman, berbekal kartu pengunjung yang Lisa berikan, Hanbin dengan mudah menyusup ke sebuah flat mewah yang terletak tak jauh dari kampusnya. Berbeda dari kosnya yang hanya rumah biasa, flat yang hampir seluruhnya dihuni oleh mahasiswa dan mahasiswi itu sangat modern dan persis seperti hotel. Tak ayal jika yang tinggal di dalamnya pun didominasi oleh orang-orang berdompet tebal, tak terkecuali Lisa yang memang anak dari salah satu pengusaha sukses di negara asalnya, Thailand.

            Tujuan Hanbin datang ke flat 10 lantai itu bukan untuk ke kamar Lisa, tentu saja gadis itu akan membunuhnya jika hal itu benar-benar terjadi. Dia datang ke sana untuk pergi ke bagian rooftop flat tersebut, tempat di mana ia dan Lisa biasa menghabiskan waktu bersama sejak mereka pindah ke Seoul untuk kuliah. Tidak seperti rooftop hotel berbintang yang biasanya dibuat restoran romantis, rooftop flat mahasiswa itu lebih mirip seperti lapangan kosong berlantai semen. Itu sebabnya tidak ada yang berniat pergi ke sana kecuali Hanbin dan Lisa yang biasanya menggunakan rooftop itu untuk mengerjakan tugas kuliah masing-masing atau sekedar melangsungkan sesi curhat dan membuang waktu luang seperti yang akan dilakukannya malam ini.

            Di tempat tinggal aslinya, di Gyeonggi, mereka biasa menghabiskan waktu bermain di bangunan lima lantai setengah jadi yang tidak lagi dilanjutkan pembangunannya karena terkena kasus korupsi. Bangunan yang oleh banyak orang dihindari karena dipercaya berhantu, oleh dua orang itu justru dijadikan basecamp tempat kumpul mereka. Dulu ada satu teman lain, Song Minho, tapi sekarang mereka tidak lagi satu universitas jadi mau tidak mau gank kecil itu harus terpisah sementara.

            “B.I! Ya bodoh, lama sekali sih! Kau tahu, es krimnya sudah meleleh!” Lisa yang sudah berdiri di tepian rooftop berteriak ke arah Hanbin yang baru saja sampai. Hanbin yang memendam kekesalannya segera mengacak-acak rambut panjang teman perempuannya itu dengan gemas.

            “Kau yang bodoh! Memangnya kau kira aku bisa ditipu? Bilang saja kalau kau tidak membeli es krim!” Ia menjitak lemah puncak kepala Lisa, dan bukannya marah, gadis itu justru tertawa sangat puas. Dia pun mengikuti Hanbin duduk di pembatas rooftop, sesuatu yang gadis umumnya takuti tapi justru sangat digemari Lisa, berada di ketinggian.

            Awal persahabatan mereka juga dimulai dari rooftop, bedanya saat itu di rooftop sekolah mereka. Hanbin dan Minho yang sudah biasa bermain baduk di sana tidak sengaja bertemu Lisa yang berdiri di tepi rooftop bangunan tertinggi di SMP mereka. Kedua pemuda itu berteriak menyuruh Lisa turun karena mereka pikir dia sedang mencoba melakukan percobaan bunuh diri, tapi ternyata memang itu yang dia sukai, persis seperti Hanbin dan Minho. Dan sejak saat itu, tiga remaja penggemar ketinggian pun memulai persahabatan mereka hingga sekarang.

            “Jadi bagaimana?” Lisa memulai obrolan serius.

            “Bagaimana apanya?”

            “Ceritakan tentang audisi itu, pabo-ya!” Lisa menyikut lengan kiri Hanbin.

            Hanbin terdiam sesaat. Matanya sibuk mengamati ratusan lampu berbagai kendaraan yang melintas di jalan raya di bawah mereka. Ia melirik sekilas ke arah sahabatnya yang sedang menunggu ceritanya, kemudian tersenyum kecut.

            “Aku gagal, dan kau sudah tahu itu, entah siapa yang sudah menceritakan padamu semua detailnya, bahkan saran senior sialan itu yang menyuruhku jadi pemegang kabel. Kau pasti sudah tahu semuanya!” Hanbin menghembuskan nafas dengan berat, matanya kembali melihat ke bawah.

            “Ya, Kim Hanbin!” Lisa memutar matanya. “Kau benar-benar bodoh atau hanya pura-pura bodoh?”

            “Apa maksudmu? Aku sedang tidak dalam mood yang bagus untuk menerima gurauan seperti itu, Lisa.”

            “Aku tidak sedang bergurau. Aku tidak mendengar cerita dari siapapun! Aku membaca note-mu di grup kita, kau menulisnya sendiri siang tadi, ‘dasar senior kurang ajar! Kau kira suaramu sebagus apa hingga menyuruhku masuk ke klub band sebagai pemegang kabel?!’ aku dan Minho bahkan sudah mengomentarinya tapi kau tidak membukanya lagi!” Lisa menirukan gaya bicara Hanbin ketika sedang membacakan kembali note Hanbin yang ditulis di grup chatting mereka.

            “Jinjja? Aku menulis seperti itu? Aigoo.. aku sedang dalam pikiran yang benar-benar tidak stabil tadi siang. Untung saja aku tidak menulisnya di grup yang lain. Aigoo!” Hanbin meremas wajahnya sendiri.

            “Aku yakin otakmu pasti masih sangat bagus, Hanbin-ah, karena hanya kau gunakan untuk menulis lagu saja!” cibir Lisa lagi, tapi kali ini Hanbin justru tertawa terbahak-bahak. Ia kemudian menceritakan semua kejadian yang berlangsung saat audisi, persis seperti apa yang ia alami. Namun, tentu disisipi dengan banyak kata makian di dalamnya.

            “Hahaha.. sudah kubilang, kau memang berbakat, tapi tidak untuk paduan suara!”

            “Tak usah menghibur begitu, mulai saat ini jujur saja kalau suaraku memang jelek, agar aku tidak lagi bermimpi menjadi penyanyi. Sekarang aku akan fokus untuk bisa menjadi pengacara seperti apa yang ayahku harapkan.” Hanbin duduk sambil memeluk lututnya sendiri.

            “Ck, payah sekali. Baru satu kali gagal kau sudah langsung mengubah mimpimu. Kau tahu, semua orang mempunyai tempat suksesnya masing-masing. Tidak semua yang masuk ke paduan suara itu berakhir dengan menjadi penyanyi da..”

            “Setidaknya mereka diakui bahwa suara mereka bagus!” Hanbin menatap Lisa, tatapan itu seolah berbicara aku sudah muak. “Suara mereka bagus dan aku tidak. Sudah jelas. Aku tidak mempunyai bakat apa-apa, bahkan untuk menyanyikan lagu buatanku sendiri saja aku sudah tidak bersemangat.”

            Lisa berdiri dari duduknya. Ia berkacak pinggang di depan Hanbin.

            “Kim Hanbin! Pemuda macam apa kau ini, kalau kau memang sepengecut itu, kau tidak akan pernah berhasil dalam hal apapun! Kau harusnya membuktikan dengan cara lain, beli semua omong kosong orang-orang yang hari ini merendahkanmu, kau kira kau sespesial apa sampai Tuhan harus mengabulkan mimpimu hanya dalam sekali usaha?! Ah, kau sebut itu usaha, hah?! Itu hanya unit kegiatan mahasiswa biasa! Payah! Aku tidak menyangka bisa berteman dengan orang sepecundang kau!” Lisa mengakhiri teriakannya dengan menginjak tangan Hanbin yang ada di depannya. Namun, pemuda itu bahkan tidak merasakan apa-apa, ia hanya menatap Lisa dan rambutnya yang berterbangan tertiup angin malam. Ada kata dalam ucapan Lisa yang membuat hatinya yang layu kembali bergetar, semangatnya yang sejak siang tadi runtuh diterjang komentar mengerikan, kini mulai membangun kekuatannya kembali.

            “Kau masih ingat apa yang dulu kau katakan saat aku dihukum dan dikunci di dalam kamar oleh ayahku karena ketahuan bermain di ketinggian? ‘Kalau kau tidak bisa lewat pintu, lewat saja jendela. Kalau jendelamu terkunci, pecahkan kacanya. Ada banyak cara untuk bisa keluar asal kau memang ingin keluar!’ begitu juga dengan mimpimu, Kim Hanbin! Kalau kau tidak bisa masuk paduan suara, buat saja paduan suaramu sendiri! Buat grupmu sendiri! Kalau kau masih tidak bisa, bernyanyilah sendirian! Paham?!” Lisa kembali menginjak tangan Hanbin dengan sepatunya. Kali ini kesadaran Hanbin sudah kembali, jadi ia bisa merasakan kuatnya injakan itu.

            “Aww! Sakit bodoh! Tapi kau benar, aku tidak boleh menyerah hanya karena komentar itu! Aku harus bangkit!” bersamaan dengan teriakan kata bangkit itu, ia mengikuti Lisa berdiri di dinding pembatas rooftop. Keduanya bahkan tidak peduli dengan angin yang semakin bertiup dengan kencang.

            “Ya kalian! Aku akan membuktikan kalau aku bisa menjadi penyanyi meski tidak bisa masuk klub paduan suara itu!”

            “klub paduan suara bodoh!” teriak Lisa.

            “Ya, bodoh! Tidak bermutu!!”

            “Hahaha..”

            Tawa keduanya pecah menggema di atas lantai flat 10 lantai. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang mendengar. Tidak ada yang peduli. Tidak ada selain mereka berdua. Malam itu, dari tatapan Hanbin Lisa bisa tahu kalau pemuda itu telah mendapatkan kembali semangatnya, tapi Hanbin tidak tahu apa maksud dari tatapan Lisa hari ini.

***

            Di waktu yang sama, Bobby yang barusaja pulang dari kerja part time-nya hendak masuk ke dalam kos. Namun, saat bersiap membuka kunci pintu depan, ia terkejut karena pintu itu tidak terkunci seolah ada seseorang yang berada di dalam. Padahal ia baru lima menit yang lalu dihubungi oleh Jinhwan kalau kos sedang dalam keadaan sepi karena Jinhwan sedang menemani Yunhyeong berbelanja. Dan Hanbin, ia tahu kalau jam sembilan masih terlalu sore untuk jam pulang pemuda itu. Dia biasa pulang di atas jam sepuluh, kalaupun hari ini terjadi anomali, Hanbin pasti sudah menyalakan lampu kamarnya yang terletak paling depan karena pemuda itu bahkan tidak bisa tidur jika lampu dimatikan, sedangkan dari lubang ventilasinya bisa dengan mudah diketahui kalau lampu kamar Hanbin saat ini masih belum nyala yang artinya tidak ada orang di dalamnya.

            Bobby memelankan langkahnya. Ia berjalan cepat ke kamarnya dan mengambil pemukul bisbol. Dia sengaja membiarkan semua lampu dalam keadaan mati agar siapapun yang orang di dalam yang mungkin seorang pencuri tidak bisa kabur dengan mudah. Bobby berjalan ke bagian belakang kos dan mendengar ada suara gemericik air di dalam kamar mandi. Ia pun berjalan mendekat dengan tongkat bisbol yang semakin teracung tinggi.

            Setelah benar-benar dekat, Bobby bisa mendengar suara gumaman seseorang yang asing, berbeda dari suara semua penghuni kos ini. Bahkan meskipun Yunhyeong baru beberapa jam yang lalu menjadi penghuni kos, ia tahu kalau suara orang di dalam kamar mandi berbeda dengan suara pemuda itu. Dengan penuh keyakinan, Bobby menekan saklar di luar kamar mandi dan membuat lampu di dalamnya mati seketika.

            “Aaaaaa!” Suara laki-laki berteriak dan beberapa saat kemudian pintu kamar mandi terbuka. Bobby yang sudah siap dengan tongkat bisbolnya tiba-tiba membeku.

            Di depannya, seorang pemuda dengan badan penuh sabun dan sampo sedang berdiri dengan wajah terkejut. Dan yang paling mengerikan adalah, pemuda itu tidak menggunakan apa-apa selain handuk yang belum ia gunakan dengan sempurna.

            “AAAAAAA!!!!”

            Entah teriakan siapa yang paling keras, tapi malam ini, kegaduhan kembali terjadi di kos tanpa nama itu.

tbc.

Iklan

2 pemikiran pada “[IFI Freelance] iKOS (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s