[IFI Freelance] Me and Him: Bocah (Oneshot)

Me and Him: The Series – BOCAH

Title: Me and Him The Series – Bocah

Author: jhyekyung

Main Cast: B.I  (iKON) & Kang Hye Jin (OC)

Length: Oneshoot

Genre: Fluff, Romance, Friendship

Rating: PG-13

Summary: Mereka bilang persahabatan wanita dan pria selalu menemui titik di mana salah satu dari mereka berubah arah. Aku percaya hal itu, namun bagaimana bila kau jatuh hati dengan sahabatmu yang jahil seperti bocah?

Disclaimer: Ini 100% buatan author, namun mohon maaf apabila ada kesamaan alur cerita maupun tokoh. Tidak ada acara plagiat-plagiatan. Tokoh semua kembali pada pihak yang punya hak. Please vote, comment, and read this story!

WARNING: THIS STORY IS SUPER CHEESY.

Username Twitter: @noircygne19

SELAMAT MEMBACA J

BACKGROUND MUSIC:

Paul Kim – Wanna You Love

Bolbbalgan4 – Tell Me You Love Me

HYE JIN’S POV

“Sampai jumpa minggu depan, Jin-ah,” pamit Ye Eun.

Aku menengadahkan kepalaku dari buku kalkulus yang sedang kucermati. Ujian akhir semester tinggal seminggu lagi, dan semua teman-teman di kelasku—mulai dari yang pintar, rajin, bahkan berandalan sekalipun—menekuni tumpukan buku tebal setiap hari mulai dari sore hingga larut malam. Contohnya seperti saat ini. Kami sepakat untuk mengadakan belajar kelompok di rumah Han Bin semenjak Senin lalu. Beberapa orang tua secara finansial tidak mampu untuk membiayai tutor untuk anaknya maupun memasukkan mereka ke tempat kursus, sehingga jalan inilah yang kami tempuh: belajar bersama.

“Eh, iya. Sampai jumpa.”

Pintu rumah Han Bin tertutup dengan keras. Kami kembali sibuk belajar selama beberapa menit ketika Ki Wan tiba-tiba membanting buku catatannya dengan keras. Kami semua tersentak, dan Joo Hee lah yang paling terlihat sebal dengan tingkah Ki Wan.

“Ki Wan, apa-apaan sih!” sergah Joo Hee dengan dahi berkerut. “Kalau kau mau ribut, di luar saja!”

Ki Wan terdiam sesaat, kemudian kembali berceloteh. “Kalian apa tidak merasa penat dengan semua ini? Kita butuh hiburan untuk menyegarkan otak kita yang sudah lemot!”

Joo Hee melemparkan pensil kayu ke arah kepala Ki Wan dengan jengkel. “Cari hiburan sendiri sana! Hanya orang bodoh yang mau menyia-nyiakan waktu untuk kesenangan sesaat!”

Ki Wan hendak membalas ucapan Joo Hee ketika Han Bin mendahuluinya. “Sepertinya usul Ki Wan ada benarnya juga. Aku sudah tidak bisa berpikir apa-apa. Istirahat sejenak tidaklah masalah. Bagaimana menurutmu, Hye Jin?”

“Eumm, aku tak masalah sebenarnya. Istirahat sejenak tidak akan mengganggu kan?” aku melirik ke arah Joo Hee. Gadis itu mengeluarkan sergahan dengan keras, tahu bahwa ia kalah suara. “Baiklah,” ia menutup buku catatannya. “Tapi hanya sebentar saja, oke?”

Han Bin beranjak dari lantai dan berjalan menuju kamarnya dan kembali dengan ponselnya. “Aku berniat memesan pizza. Bagaimana?”

“Sangat boleh,” Ki Wan memainkan bantal dudukannya. “Kalau bisa dengan soju juga,” ia mengedipkan sebelah mata pada Joo Hee. Sontak wajah Joo Hee memerah dengan cepat, melempar isyarat kepada Ki Wan ia akan membunuh laki-laki itu apabila ia mengucapkan kata ‘soju’ lagi.

Waktu berlalu dengan cepat. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Aku menyelesaikan soal terakhir dengan mata setengah tertutup. Satu per satu teman-temanku pulang. Joo Hee yang notabene cukup tegas dalam waktu belajar akhirnya angkat tangan dan memutuskan untuk pulang.

Tepat saat aku merenggangkan otot-ototku sejenak, terdengar suara hujan dari luar rumah. Aku menatap keluar jendela dengan sebal. Sial, kenapa malam-malam begini harus hujan?

“Hujan ya?”

Han Bin bersandar pada kaki sofa sambil menatap ke arah jendela. Kupandangi sekeliling ruang tamu, dan baru kusadari bahwa tinggal aku seorang diri dan Han Bin di ruang tamu.

“Yeah,” Aku terduduk kembali dengan muram. “Sepertinya hujannya akan melebat dalam waktu singkat.”

“Tinggalah sebentar di sini kalau kau mau,” tawarnya, “Nanti apabila sudah mereda kau bisa pulang.”

“Umm,” aku melirik ke layar ponselku, kemudian menatap pemuda itu. “Masalahnya aku sudah berjanji dengan ibuku kalau aku akan pulang pukul sepuluh. Lebih dari itu ia pasti akan mengomel panjang lebar.”

Kami berdua sama-sama terdiam. Suara angin kencang dan tetesan-tetesan air yang pecah di tanah menderu dengan keras. Jam dinding yang berdetak dengan keras makin menandakan bahwa hari semakin malam. Aku memeluk kedua lututku sambil mengetik pesan pada ibuku, berharap ia mengerti bahwa sekarang di tempat Han Bin sedang hujan deras dan akan sangat tidak masuk akal apabila aku nekad pulang menembus hujan seorang diri.

“Hye Jin,” suara Han Bin membuyarkan konsentrasiku.

“Hmm?” aku menatap bingung pemuda itu.

Ia mengarahkan pandangan matanya ke arah payung yang terletak di sebelah pintu masuk rumah, kemudian tersenyum tipis padaku. “Bagaimana?”

“Eh?” Aku berusaha mencerna perkataan Han Bin, dan sedetik kemudian aku ingin mengeluarkan umpatan kepada pemuda itu. “Kau gila ya? Memang benar kau menawarkan bantuan dengan meminjamkan payung, kemudian aku harus menembus hujan seorang diri—”

“Bukan,” Han Bin memotong ucapanku, “Maksudku kita berdua.”

Aku tertegun. Sepertinya pemuda ini perlu istirahat dengan segera. Apa maksudnya dengan ‘kita berdua’? Aku merasakan detak jantungku meningkat dua kali lebih cepat.

“M-Maksudmu?” aku bertanya, setengah terbata.

“Maksudku aku akan mengantarmu pulang, bodoh.”

Owh. Mengantarku pulang, itu maksudnya. Kenapa harus menggunakan kalimat yang memiliki arti ambigu?

“Oh, o-oke. Asal itu tak merepotkanmu.”

Han Bin berlari kecil ke arahku setelah mengunci pagar rumahnya. Aku merasa geli melihatnya berlari seperti itu. Hujan pada malam hari tidak main-main bahayanya. Kau bisa tergelincir saat berlari.

“Ini,” Aku menyerahkan gagang payung kepada Han Bin. “Kau saja yang memegangnya. Aku tidak bisa memayungimu karena aku terlalu pendek.”

“Tidak kok,” Han Bin memasukkan tangan ke dalam saku celananya. “Tinggimu pas. Tidak terlalu tinggi maupun pendek. Aku suka dengan wanita yang tingginya pas.”

Lagi-lagi pemuda ini tidak bisa menyortir ucapannya. Kenapa setiap kali aku berkata-kata ia selalu mengeluarkan komentar yang membuat jantungku berdegup kencang? Gawat, dengan dirinya yang berada tepat di sampingku kurasa Han Bin bisa mendengar detak jantungku yang menggila.

Kuputuskan untuk tidak membalas ucapan Han Bin dan menatap ke arah sepatuku.

Kami terus berjalan menuju perempatan jalan dekat Dongdaemun. Di sinilah tempat tinggalku. Orangtuaku menjalankan usaha resto galbi semenjak aku lahir, dan harus kuakui terkadang usaha kedua orangtuaku sering menghadapi kesulitan dikarenakan tingginya persaingan bisnis kuliner di daerah Dongdaemun. Meskipun Han Bin tahu bahwa aku tinggal di gedung sebelah resto keluargaku, namun aku merasa sedikit risih untuk menunjukkan tempat tinggalku sekarang pada Han Bin.

“Di mana rumahmu?” tanya Han Bin di tengah deru hujan.

“Tak perlu repot-repot, Han Bin. Aku bisa—”

“Aku harus mengantarmu sampai pulang, Hye Jin. Lagipula, siapa yang membawa payung? Siapa yang menawarkan payung untuk kau pinjam?”

Aku meliri Han Bin dengan sedikit dongkol. Sebuah senyum kemenangan terulas di wajah pemuda itu. “Baiklah,” ujarku dengan suara rendah, “Restoran galbi pertama yang kau lihat di deretan kanan pertokoan Dongdaemun.”

“Oke, akan kuantar kau sampai di rumahmu dengan selamat.”

“Terserah kau saja.”

Aku beringsut sedikit ke tepi payung untuk melihat kondisi jalan. Biasanya terbentuk genangan air yang besar dan sangat mengganggu para pejalan kaki, apalagi ketika mereka memakai sepatu yang memiliki pori-pori besar. Air masuk dengan mudah sehingga membuat sepatu dan kaki basah serta tidak nyaman.

Tiba-tiba saja ada sesuatu yang menarikku menjauh dari tepi payung, sehingga posisiku kini tepat berada di tengah-tengah payung. Sesuatu yang hangat merengkuh tubuhku dengan erat, dan sekian detik kemudian aku baru menyadari bahwa tangan kanan Han Bin yang bebas tengah merangkulku dengan erat, menjauhkanku dari tetesan-tetesan air hujan yang masih bergulir dari langit dengan deras. Anehnya, tak muncul keinginanku untuk melawan atau melepaskan rangkulan Han Bin. Sebaliknya, aku merasa nyaman dengan tangan Han Bin yang melingkari bahuku, seakan-akan tangan itu menjagaku dari apapun, bahkan dari hujan sekalipun.

“Kau ini memang mencari masalah ya,” Han Bin mengomel sambil terus merangkulku. “Kau bilang kau tidak mau merepotkanku, dan sekarang aku harus mengantarmu sampai ke rumah plus menjagamu agar tidak kebasahan.”

“Aku hanya mengecek apakah ada genangan air atau tidak,” sergahku kesal. “Memangnya kau ingin sepatumu kemasukkan air?”

“Memangnya dengan mengecek apakah ada genangan air akan membuat sepatu kita seratus persen kering? Lain kali bawalah sandal jepit bila kau tidak ingin sepatumu basah.”

“Sandal jepit. Hah.” Aku memutar bola mataku. “Kondisi hujan seperti ini yang paling dibutuhkan adalah payung, Han Bin, payung. Seandainya aku membawa payung dari rumah, mungkin aku bisa langsung pulang tanpa terjebak denganmu dan berdebat mengenai genangan air.”

“Oke, oke,” Han Bin memasang senyum jahilnya, “Aku mengaku kalah. Ada masalah dengan payungnya, nona muda? Kurang besar? Atau lain kali kubelikan payung dengan ukuran yang sama dengan payungku agar kita bisa sering-sering begini?” Ia menaikkan salah satu alisnya.

Aku menyikut rusuk Han Bin, kemudian melipat kedua tanganku di depan dada. “Dasar gila.” Han Bin mengerang kesakitan sebentar, namun berselang beberapa detik ia terkekeh dengan nyaring dan mengeratkan rangkulannya.

Diam-diam aku pun tersenyum mendengar kekehan Han Bin yang renyah. Satu-satunya suara yang familier di antara derasnya hujan malam hari.

Kami telah sampai di daerah Dongdaemun. Beberapa toko-toko mulai membereskan dagangannya karena hari sudah malam serta hujan deras akan merusak dagangan mereka. Warung tenda tteokbokki yang cukup populer di Dongdaemun sedang kalang kabut menyelamatkan dagangan mereka. Aku pernah berjanji untuk mengajak teman-temanku–termasuk Han Bin–untuk makan di warung tersebut, namun tidak pernah kesampaian karena jadwal harian kami yang padat.

“Itukah rumahmu?” Han Bin mengarahkan telunjuknya pada sebuah resto galbi berwarna oranye di sebelah butik baju bekas.

“Yup,” aku mengganggukkan kepala.

“Asyik, setelah ini aku bisa sering mampir ke sini,” gumamnya dengan jelas. Aku menatap pemuda di sampingku dengan heran. Apa maksudnya?

Han Bin menatapku dengan tatapan serba salah. “Eh, maksudku aku bisa makan galbi sepuasnya, ehehehe.”

“Jangan harap kau bisa makan sepuasnya. Bayar dulu. Meskipun teman tetap harus bayar, itulah namanya bisnis.”

“Sejak kapan kau pintar berbisnis dan sejak kapan aku ini temanmu? Memangnya aku mau jadi temanmu? Salah besar, hahaha.”

Mulutku terganga. Dasar manusia satu ini. Setelah semua pergobanan yang sudah kulakukan di kelas–mulai dari berbohong kepada guru untuk menyelamatkan dirinya dari hukuman karena tidak mengerjakan PR sampai menunggunya selesai latihan baseball–ia masih tidak menganggapku teman atau setidaknya berterimakasih atas semua pengorbananku?

Kuputuskan untuk mendorong lengan Han Bin yang masih merangkulku menjauh dan berlari menembus hujan. Kutinggalkan Han Bin yang masih termenung dengan tindakanku barusan. Lama kelamaan pemuda itu bisa menjadi sangat menyebalkan. Kuputuskan juga peristiwa ketika degup jantungku meliar saat dirinya berada terlalu dekat denganku adalah emosi sesaat dan tak sepantasnya aku memelihara jenis perasaan tersebut terhadap Han Bin.

Aku telah sampai di depan pintu besi yang berperan sebagai gerbang masuk ke rumahku. Untung dengan keberadaan terop dan lampu di atasku, aku mampu mencari kunci gerbangku dengan cepat. Namun saat aku hendak membuka gembok, sebuah tangan dengan keras menutup kembali gerbang tersebut. Detik itu juga aku tahu siapa pelakunya.

“Han Bin!” Aku tak dapat menahan luapan kekesalanku. “Tolong jangan mengangguku, oke? Ini sudah malam!”

“Hye Jin, Hye Jin, dengarlah, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya bercanda. Kau tahu aku, kan? Maafkan aku.”

Aku melipat kedua tanganku sambil menyipitkan mata. “Memangnya kau pikir membuang waktu untukmu itu menyenangkan. Pfft.”

“Aku tahu,” pinta Han Bin sambil mengamit salah satu tanganku, “Maafkan aku ya?”

“Terserah.”

Beberapa menit penuh keheningan berlalu. Aku beringsut tak nyaman melihat Han Bin yang tak kunjung beranjak dari depan rumah.

“Kau tidak pulang?” aku memberanikan diri untuk bertanya.

“Nanti saja. Di rumah juga tidak ada siapa-siapa. Di sini jauh lebih ramai dan nyaman.”

Aku hanya mengangguk-angguk.

“Hye Jin.”

“Ya?” Aku menoleh menatap Han Bin yang rupanya juga menatapku dengan lekat-lekat.

“Apa mereka pernah bilang kalau kau cantik?”

Kurasakan darah mengalir ke pipiku dan membuatnya berwarna merah dan panas. Aku berusaha untuk menahan senyumku karena Han Bin barusan membuatku melayang ke angkasa.

“T-Tidak,” aku tertawa canggung. “Sebenarnya apa mau mu?”

Han Bin memasukkan kedua tangannya di saku celana. “Bukan apa-apa.” Aku dapat melihat wajah Han Bin juga memerah di bawah sinar lampu.

“Kalau begitu aku akan–“

Cup!

Entah apa yang merasukiku aku, secara tiba-tiba bibirku telah menempel di pipi Han Bin. Saat aku menarik kembali wajahku, terlihat ekspresi Han Bin yang merupakan pepaduan tak percaya dan senang. Aku sendiri tak dapat menahan tawa kecil yang lolos dari mulutku saaat melihat wajah konyol Han Bin.

“Selamat malam, Han Bin.”

Dengan separuh sadar, Han Bin mengulangi ucapanku dengan nada seperti robot. “Ya, selamat malam, Hye Jin.” Ia terus memegangi pipi kanannya dan berjalan dengan kaku menjauh dari rumahku.

Aku kembali terfokus untuk mencari kunci yang tepat untuk gembok gerbang ketika sosok Han Bin berlari ke arahku. Ia membalik tubuhku sehingga menghadap dirinya dan mengecup bibirku dengan menggebu-gebu.

“Akhirnya kau peka juga dengan kode yang kuberikan selama ini,” ujar Han Bin setelah menjauhkan bibirnya dari bibirku.

Aku tersenyum sambil memukul pelan bahu pemuda itu. “Memangnya kau sendiri pernah menangkap kodeku?”

“Eh—”

“Sudahlah kita bahas besok saja. Ini sudah malam. Pulang sana!” Aku tersenyum geli melihatnya.

Han Bin mendekatkan wajahnya dan kembali memberi kecupan kilat di bibirku sebelum ia berlari menembus hujan.

“Hei, kau—”

Dari kejauhan Han Bin memberi gestur hati kepadaku. Aku membalasnya dengan memberi gestur berupa menyilangkan ibu jari dan telunjukku sehingga membentuk hati juga.

Saranghae, Hye Jin-ah!” teriaknya sebelum menghilang dari pandanganku.

Aku tersenyum-senyum seperti orang gila. Ah, Han Bin, pemuda itu. Meskipun ia seperti bocah, ia berhasil mengobrak-abrik hatiku dengan kejahilannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s