[IFI Freelance] That’s Nothing with This Feeling (Ficlet)

THAT’S NOTHING WITH THIS FEELING

 junhxehoes21’s storyline and artposter | Main Cast: Ikon’s Kim Hanbin & OMG’s Arin | Length: 1004 words | Genre: AU, School Life | Rating: G | Disclaimer: All casts aren’t mine | Twitter: @h0ekoo

Summary:

“Karena sekali teman akan tetap teman.”

“Rin, minggu depan—yah, informasi saja, sih—ah, masa kau lupa?”

Saat-saat istirahat begini, saat jam makan siang pun seorang Kim Hanbin justru tak mau diam. Perempuan yang dipanggilnya tadi—Arin—masih menyeruput ramen yang masih semangkuk penuh itu. Beberapa orang memandang mereka karena terbiasa, sisanya lagi memandang mereka penuh pertanyaan aneh karena tak mengerti hubungan keduanya.

“Habiskan makanmu, Kim Hanbin.” Jawab Arin sembari tersenyum.

Hanbin menuruti tanpa berkata iya meski awalnya mendengus pelan. Sementara perempuan itu menelan mie-nya pelan-pelan, ia menyiapkan kata-kata dalam mulutnya.

“Lagipula, aku tidak akan lupa. Tenang saja,” ucapnya lalu meneguk sedikit.air.

Hanbin mendengarnya sambil terus memakan mie-nya. Untuk beberapa detik Arin memerhatikan pemandangan yang sudah ratusan (mungkin ribuan) kali ia lihat. Karena begitulah, seluruh jam istirahat dalam hidupnya ia habiskan bersama Kim Hanbin yang berisik ini dan entah kenapa ia belum juga bosan mendengar celotehannya yang kadang itu-itu lagi. Semua celotehan itu hanya basa-basi yang tak sekalipun menjadi basi.

Lagipula orang akan mengerti kalau

“Tentu saja, kita memang ditakdirkan menjadi teman sejak lahir,”

…mereka bersahabat.

“Kalau kau lupa, kepalamu pasti terbentur sesuatu atau mungkin kau memang bukan Arin-ku lagi,” ujarnya sambil terkekeh.

Arin tersenyum.

Ya, aku tahu.

“Jadi kau tidak akan lupa untuk memberikanku kejutan, kan?”

“Tentu saja,” Arin mengaduk mie-nya sambil menatap ke arah mie itu, “Kejutannya adalah…

Aku tak akan memberikanmu kejutan,” ujarnya sambil nyengir.

Laki-laki itu hampir saja tersedak kalau tak segera melihat cengiran Arin yang tanpa dosa. Sosok dihadapannya itu lalu tiba-tiba saja ngambek—merajuk dengan lucu—sambil mendekatkan wajahnya ke arah Arin. Arin masih tertawa di hadapannya meski lagi-lagi ia sudah sering melihat wajah laki-laki itu marah dan ngambek kepadanya. Meski semuanya telah terbiasa, semua jam istirahat, semua mangkuk ramen, semua celotehan hanbin termasuk cekikikan dan ngambeknya yang seperti saat ini juga, semuanya adalah kesukaan Arin. Entahlah, Arin juga tidak tahu dimana letak kerennya menikmati semua ini, tapi sungguh baginya ini menyenangkan.

“Mana bisa begitu?!,” katanya tak terima. Arin masih memakan mie-nya, menenggelamkan wajahnya pada mangkuk itu dan Hanbin menunggu Arin untuk peduli pada amarah dirinya.

“Aku tau kau nggak serius, Rin.”

Arin menelan mie-nya.

Sebenarnya sih, aku serius. Aku selalu.

“Kalau inceranmu nanti memberikan kejutan, kejutanku untuk siapa, dong? Paling-paling kau tidak akan datang,” dan Arin memakan mie-nya lagi.

Untuk sementara kata-kata itu berputar di kepala Hanbin. Ia memandang ke arah lain, memalingkan mukanya dan tertunduk lesu setelah itu.

Apa maksudmu?

“La-lagipula siapa bilang Hayi tahu soal ulang tahunku?”

Arin mengerutkan alisnya, “Ia bertanya padaku,” kemudian ia berhenti memakan mie-nya untuk sebentar, “Kau nggak tahu? Apa aku belum memberitahumu? Yah, lagipula, sih untuk tahun-tahun selanjutnya akan lebih mudah untukku, kan, kalau Hayi benar-benar jadi pacarmu?”

Dia ini kenapa, sih

Tiba-tiba selera makan Hanbin hilang begitu saja. Ia meneguk airnya dan memikirkan semua kata-kata itu kembali. Sebenarnya, Hayi itu cinta pertamanya, sih. Wajar-wajar saja kalau nanti perempuan itu yang ada di sampingnya saat merayakan ulang tahunnya apalagi mereka sudah sedekat ini. Kalau ia bisa berdua saja dengan Hayi, itu akan jadi kemajuan yang baik untuk hubungannya—bukankah itu semacam lampu hijau?

Tapi ah, gila kalau Arin nggak ada.

Akan tetapi, sebelum Hanbin bertemu Hayi, ia bukan tipe laki-laki jomblo yang tampak putus asa karena statusnya itu. Ia punya banyak teman dan Arin adalah salah satu yang paling dekat. Mungkin yang paling dekat. Menyenangkan melakukan banyak hal bersama teman-temannya dan bersama Arin. Ia bahagia dan terkadang merasa cukup memiliki gadis itu. Karena itu aneh rasanya jika tiba-tiba gadis itu tak ada.

Mungkin memang begini rasanya.

Ia suka melihat Hayi bahagia bersamanya, tetapi Arin adalah gadis yang membuatnya bahagia—entah untuk berapa kali.

Hanbin masih menyisakan ramennya sementara ia menyaksikan Arin yang hanya tinggal kuahnya saja.

Arin menyudahi makannya dan berkata,

“Lagipula…

…aku mendukungmu, kok,” katanya sambil tersenyum dan mengelap bibirnya sehabis makan.

Aku serius, Kim Hanbin.

Hanbin mengacak rambutnya sendiri, “Kalau begini akan kucarikan kau pacar, Rin, sungguh.”

Iya, karena dengan begitu akan mudah untuk memahami bahwa banyak hal yang akan berjalan tanpa kau, Rin.

Arin menggelengkan kepalanya. Semua waktunya bersama Hanbin sudah lebih dari cukup. Lagipula, untuk saat ini ia tidak mau berhubungan dengan laki-laki manapun. Semuanya pasti tidak akan memahaminya seperti sahabatnya yang satu ini.

“Hanbin, aku nggak butuh pacar. Lagipula, apa kau nggak tahu kamis kemarin aku menolak Chanwoo? Aku bisa saja mendapatkannya sendiri, Hanbin. Aku bisa. Tapi sungguh, aku nggak membutuhkannya, kok.”

Hanbin menghempaskan nafasnya. Tidak peduli seberapapun ia ingin menghabiskan waktu untuk keduanya dengan sama besar—Hayi dan Arin—mereka berdua punya posisi yang berbeda.

“Kau kan sahabatku. Dan aku hanya punya satu Kim Hanbin. Di dunia ini aku yakin nggak ada lagi. Jadi, kau nggak perlu menggantinya dengan siapapun,” ujar Arin begitu jujur, “Sudah begitu, meski dengan orang yang sama…

…semua waktu kita tidak bisa diganti,kan?”

Hanbin mengiyakan dalam hati. Ia tak mengerti mengapa ia seperti ini. Kenapa ia bersikap sangat aneh padahal ini hanya soal merayakan ulangtahun, cuma itu. Ia berkata pada dirinya sendiri bahwa ia khawatir jika Arin hanya memilikinya. Tetapi lebih dari itu, ia memang ingin menjadikan dirinya sebagai orang yang Arin inginkan untuk berbagi banyak hal seperti sebelum-sebelumnya—sebelum ia sering berkata “Bin, nggak penting, kok. Eh gimana dengan Hayi?” atau “Sungguh, aku nggak apa-apa. Lebih baik kau sama Hayi aja sana, “ atau yang lebih parahnya pagi ini gadis itu diantar Kim Minggyu ke sekolah karena Hanbin harus mengantar Hayi.

Jujur, Hanbin tidak suka perubahannya yang tiba-tiba.

“Kalau begitu, Rin, kau harus terus denganku.”

Gadis dihadapannya justru menggeleng pelan dan tersenyum.

Terus denganmu? Yang terjadi adalah sebaliknya, Kim Hanbin, tetapi aku bisa memahaminya.

Aku cukup mengerti.

Arin terkekeh, “Kita semua bertambah dewasa. Kau nggak boleh menghabiskan semua waktu cuma untuk teman-teman—apalagi aku. Kau punya kehidupan pribadi yang jauh lebih penting—seperti Hayi—dan aku juga akan memilikinya meski tidak sekarang Hanbin. “ katanya dengan begitu yakin, “jadi jangan khawatir. Jangan sedikitpun.”

Dan dengan ini aku benar-benar menyerah.

“Kau akan tetap bermain denganku, kan?”

Arin tersenyum.

Tentu saja, Hanbin.

Tentu saja.

“Karena sekali teman akan tetap teman.”

FIN

A/N:

Haiii semuanya, heheeheheh. Maaf ya kalo tulisanku masih acak-acakan meski aku udah berusaha gini L Semoga ada banyak yang berkenan ngasih komentar dan kritik sarannya yaa, apapun. Terima kasih udah mau meluangkan waktu baca ini, semoga ngga menyesal hmm Semoga ini cukup bikin baper yaa heheheh. Terimakasih!

Amal, 98’s. Salam kenal.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s