[Songfic] Love Scenario

#1 Love Scenario

Siskarikapra©2018

Starring iKON’s Kim Hanbin & Song Yunhyeong, OC’s Yoonri

Length Vignette Genre in AU! Drama, Daily life! Songfic and Rated General

| Another YoonriXHanbin storyline featuring Love Scenario’s vibe, please enjoy! |

I loved you and I was loved so I’m okay with that.

Hanbin mendongak sedikit ketika sebuah lengan terulur dan menyuguhinya segelas cokelat hangat. Ia mendapati Yunhyeong yang menatapnya kasual sambil sekilas mengangkat dagu—mengisyaratkannya untuk mengambil gelas cokelat tersebut.

Setelah Hanbin meraih benda tabung yang berisi cairan kokoa itu, Yunhyeong menarik kursi di depannya dan mendudukkan diri di sana. Pemuda itu juga sama seperti Hanbin—sedang menikmati minuman hangat kala salju di luar turun cukup lebat.

Dua pemuda itu berada di ruang tengah kediaman keluarga Song. Mereka baru saja selesai mengerjakan prediksi soal ujian kelulusan. Padahal, mereka sedang menikmati libur di akhir musim dingin. Tapi si giat Hanbin memaksa Yunhyeong untuk melakukannya. Jadi, ia mau tak mau mengabulkan permintaan karibnya itu.

Ketika baru ingin menyesap cokelat hangatnya, Hanbin terhenti karena ponselnya berdenting nyaring. Ia lekas menaruh gelas di genggamannya asal-asalan dan menyambar benda persegi panjang itu dengan semangat yang kelewat batas. Setelah layar yang menyala memantulkan sinar ke wajahnya, Hanbin langsung terlihat sumringah. Sambil menaikkan dua sudut bibir, ibu jari tangannya sigap mengetikkan sesuatu—yang entah apa dan untuk siapa.

“Kalian jadi sering komunikasi ya, belakangan ini?”

Setelah pertanyaan—yang lebih terdengar seperti pernyataan—itu lolos dari bilah bibir Yunhyeong, Hanbin cuma bisa mengerling tanpa benar-benar menanggapi. Pemuda Kim itu sekilas kelihatan bahagia dengan senyum kecil yang membingkai wajahnya. Tapi juga kelihatan menyedihkan di waktu yang sama—menurut Yunhyeong.

“Hatimu kembali lagi kan, Hanbin?”

Hanbin mengangkat sepasang alisnya. Ia hanya berekspresi menggunakan wajah tanpa menanyakan alasan Yunhyeong bertanya demikian secara verbal.

“Hatimu pasti kembali lagi untuk dia, kan?”

“Memangnya selama ini hatiku hilang ke mana, Yunhyeong?”

“Jangan memutar kalimatku begitu. Jawab dulu pertanyaanku.”

Intonasi bicara Yunhyeong barusan memang tidak terlalu keras atau tinggi. Tapi kelihatan sekali pemuda Song itu menahan kesal karena Hanbin malah mengalihkan topik pembicaraannya.

“Ya. Dia menghubungiku duluan.” Kata Hanbin akhirnya

Yunhyeong melempar pandang sambil mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

Setelah beberapa waktu hanya hening yang merayapi keduanya, tiba-tiba Yunhyeong buka suara.

“Apa kau bahagia?”

Pertanyaan Yunhyeong itu terlalu tiba-tiba. Hanbin sampai gelagapan harus menyikapinya dengan cara apa.

“Gadis yang sempat membuat hidupmu berantakan sekarang datang lagi. Kau bahkan sering ingin mengakhiri hidup karena tidak dapat menerima kepergiannya. Ketika dia muncul lagi seperti ini apa kau bahagia?”

“Yunhyeong,”

“Hanbin, kau baru saja bangkit. Satu tahun hidup seperti berandalan apa kau tidak cukup puas?”

“Yunhyeong,”

“Aku tidak akan menahanmu lain kali. Jadi terser—“

“YUNHYEONG DENGARKAN AKU DULU.”

Mendengar suara Hanbin yang cukup tinggi, Yunhyeong tentu saja memotong kalimatnya. Ia menatap Hanbin tepat di mata dan membiarkan karibnya itu berbicara.

“Aku dan Yoonri sudah berakhir. Kami tidak ada hubungan apa-apa semenjak kepergiannya. Ia datang lagi untuk minta maaf padaku. Apakah memaafkannya merupakan perbuatan yang salah?”

Sejemang, Yunhyeong hanya bernapas dengan tempo yang teratur. Ia tak lantas menanggapi perkataan Hanbin barusan karena perasaannya sekarang campur aduk sekali.

“Aku hanya benci kalau kau kehilangan akal—lagi—hanya karena seorang gadis, Bin.”

→←

Pada kenyataannya, menghadapi sebuah perpisahan memang bukan sebuah hal yang dikategorikan ke dalam hal mudah yang gampang diatasi. Tidak akan ada hari esok untuk hari kemarin yang sedang berlangsung sekarang. Perkara itu memang menyakitkan betul, kita bahkan bisa kena infeksi kalau terus-terusan menyinggung soal luka yang disebabkan oleh sebuah perpisahan.

Tapi bagi Hanbin, merasakan bagaimana menyenangkannya saat jatuh cinta dan pernah bertemu dengan Yoonri sampai pada akhirnya mereka harus berpisah, bukanlah hal yang buruk-buruk amat. Memori bersama—mantan—gadisnya yang tak dapat seluruhnya terhapus dan seolah tersusun rapi seperti skenario drama nyatanya tak benar-benar membuat Hanbin menyesal.

Meski dengan akhiran yang sedikit menyakitkan, itu tidak apa-apa. Pernah mencintai gadis itu justru Hanbin merasa senang.

“Kau sudah mempersiapkan diri? Kenakan pakaian yang tebal, ya. Di sana pasti sedang minus derajat, kan?”

Di depan layar komputer, Hanbin hanya mampu menyimpulkan senyum sambil mengangguk pasrah. Ia sedang membuat panggilan video dengan Yoonri yang sekarang menetap di luar negeri.

“Jangan terlalu memforsir tenangamu untuk belajar, Hanbin. Kalau kau sakit, tidak ada aku yang bisa mengomelimu.”

“Kau masih saja bawel seperti dulu ya, Ri.”

Di seberang sana, gadis Yoon itu mencebikkan bibir. Seketika Hanbin melempar pandangnya ke sembarang arah. Wajah menggemaskan yang baru saja menatapnya sungguh membuat ia jadi salah tingkah dan tak tahu harus bagaimana.

“Jadi, kau tinggal dengan ibumu di sana?” tanya Hanbin ketika Yoonri sudah memasang wajah normal

Gadis itu menggeleng sebelum menjawab,”Aku tinggal dengan keluarga Changkyun di sini. Memang sih, aku sering mengunjungi ibu. Tapi untuk tinggal bersama rasanya tidak mungkin.”

Setelah mendengar perkataan Yoonri, Hanbin mengangguk—tanda ia mengerti.

“Bagaimana rasanya tinggal di sana?”

Yoonri memutar kedua bola matanya sebelum menjawab dengan mantap,”Panas. Aku tidak tahu kalau ada negara yang punya musim seperti di sini. Mau musim hujan atau panas, tetap saja cuacanya panas.”

Hanbin tergelak.

Seperti biasa, Yoonri dengan cara bicaranya yang khas plus gestur tubuhnya yang sangat ekstra tak pernah gagal untuk sekedar menggelitik selera humor Hanbin.

“Apa ujian kelulusan di sana sama dengan di sini?”

Yoonri mengangguk.

“Cuma awal semester yang beda. Tapi karena ujian kelulusan agak maju dari akhir semester biasa, jadi kurasa kita ujian di waktu yang berdekatan.”

“Ngomong-ngomong, aku rindu padamu, Ri.”

“Ehh—?”

“Sengat listrik yang biasa mengisi ruang di sela-sela tulang rusukku kembali lagi.”

Di seberang sana, Yoonri memiringkan kepalanya ke satu sisi. Ia mendekatkan wajah ke web-cam dan menyuguhkan Hanbin sebuah pemandangan yang sangat memesona.

“Kau bicara apa, Hanbin?”

“Caramu menatapku itu, Rihyeon.”

Yoonri melotot. Hanbin baru saja menyebut nama aslinya dan tak mau bohong, gadis itu jadi sedikit gugup. Dari awal mengenal pemuda itu, Yoonri paling tidak bisa kalau sudah dipanggil menggunakan nama aslinya. Bahkan sampai saat mereka sudah tidak punya hubungan apa-apa, suara berat Hanbin ketika memanggilnya masih ampuh untuk menimbulkan kegaduhan kecil yang menyerangnya tepat di organ hati.

“Caramu menatap mataku, aku selalu menyukainya. Sorot matamu menunjukkan kalau aku pernah dicintai, aku selalu menyukainya.”

Setelah selesai bicara, Hanbin menaruh sikunya di meja. Lengan bawahnya mengarah ke atas dan telapak tangannya menopang dagu.

“Kau banyak mengajariku tentang berbagai macam hal. Aku bahkan berhasil mengisi sebagian dari diriku yang ikut hilang saat kau pergi. Kau tahu? Kau terlalu berharga untuk aku lepaskan begitu saja di waktu lalu, Ri.”

“Hanbin, kita sudah sepakat untuk tidak membahas—“

“Iya, Ri. Aku cuma mau bilang, aku pernah mencintaimu dan kau juga pernah mencintaiku, jadi aku baik-baik saja dengan hal itu. Jangan khawatir.”

Yoonri mematri senyum di wajahnya. Begitu pula Hanbin yang habis menghela napas lega dan bangga pada dirinya sendiri yang sudah berhasil menerima kenyataan.

Mereka memutus sambungan panggilan video setelah beberapa kali bertukar kalimat penutup. Hanbin langsung merebahkan diri di atas ranjang setelah mematikan komputer.

Sembari menatap langit-langit kamarnya, pikiran pemuda itu melayang-layang.

Otak besar di dalam tempurung kepalanya memutar balik beberapa memori ketika ia benar-benar terpuruk saat Yoonri hilang tanpa jejak setahun lalu. Juga tentang sifatnya yang sangat pencemburu ketika menjalin hubungan dengan gadis itu di waktu lalu. Tak tertinggal, soal mereka yang saling mencintai seperti orang yang hilang akal, itu sudah sangat cukup bagi Hanbin.

Rasa rindu yang amat sangat sempat menggelayuti bahkan hampir memenuhi diri Hanbin saat memikirkan hal-hal acak tersebut. Tapi ia berusaha menahannya dan memilih untuk mennyatukan segala ingatannya ketika bersama Yoonri menjadi sebuah rentetan adegan utuh seperti film, layaknya kehangatan di musim panas.

Karena menurut Hanbin, memori yang dapat ia ingat selama hidupnya, jika di dalam sana ada presensi Yoonri, itu sudah merupakan hal yang lebih dari cukup.

Dan sekarang ketika lembar terakhir sudah dibalik , saat skenario dari drama percintaannya sudah selesai dan lampu sorot sudah berhenti mengarah padanya, ini saatnya bagi Hanbin untuk menutup tirai dan mengahkiri semuanya.

—fin

Rika/n Ssup’ gangs it’s been really long:”) But ola~ anyway. Aku memutuskan untuk membuat 7 songfic dari 7 selected song yang ada di album Return. Semoga bisa post sehari satu dan hey, aku tidak berhenti menulis tentang iKON, fyi. aku aktif di wattpad dan sedang on going full storyline YoonriXHanbin dari very first page. So buat kalian yang ingin mampir ke sana, langsung saja kunjungi profileku di @siskarikapra or simply tap on this

Comments and likes are welcome!

 

 

Iklan

8 pemikiran pada “[Songfic] Love Scenario

  1. Ping balik: [Songfic] Hug Me | iKON Fanfiction Indonesia

  2. Ping balik: [Songfic] Jerk | iKON Fanfiction Indonesia

  3. Ping balik: [Songfic] Best Friend | iKON Fanfiction Indonesia

  4. Ping balik: [Songfic] Everything | iKON Fanfiction Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s