[Songfic] Jerk

#3 Jerk

Siskarikapra©2018

Starring iKON’s Song Yunhyeong

| Slight appearance of Hanbin & Jasmine|

Length Vignette Genre in AU! Drama, daily life, Hurt! And Rated General

In related story  with Mintulli’s Done?

Previous Track : #1 | #2

I was immature and I plucked you, a beautiful flower.

Sembilan belas tahun masih termasuk ke dalam usia yang sangat muda. Sembilan belas tahun seorang Song Yunhyeong bahkan masih terlalu muda. Pemuda itu memang sudah banyak mengalami kesulitan dan berbagai macam masalah di usianya yang baru sembilan belas tahun. Tapi tetap saja, ia masih anak kecil yang bahkan belum masuk ke usia dewasa.

Meski bukan soal keluarga atau finansial, Yunhyeong bisa dikatakan memiliki masalah yang rumit. Pemuda itu terlahir dengan hidup enak. Orangtuanya punya bisnis restoran, ia juga bukan seperti kebanyakan remaja lain yang harus kerja paruh waktu demi membayar uang sekolah. Tapi soal kisah percintaannya, Yunhyeong sedikit buruk.

Katakan saja klise. Karena pada kenyataannya Yunhyeong memang selalu bermasalah soal hubungannya dengan Jasmine belakangan ini.

Memang kedengarannya terlalu berlebihan untuk anak umur sembilan belas tahun yang membicarakan masalah hubungan percintaan. Tapi cinta yang sesungguhnya justru tak mengenal umur, kalau dipikir-pikir.

Pemuda Song itu sekarang tengah terbaring di atas ranjang. Tangannya terbentang lebar di masing-masing sisi tubuh sementara pandangnya terpaku pada langit-langit kamar.

“Aku ingin sendiri, Yunhyeong. Tolong mengerti akan keadaanku saat ini.”

Kalimat Jasmine yang ia dengar lewat sambungan telepon beberapa menit lalu masih saja melingkari isi tempurung kepalanya.

Saat ini mereka memang sedang sangat disibukkan dengan ujian masuk universitas. Gadisnya itu sudah gagal tiga kali. Sementara Yunhyeong sendiri dapat tawaran beasiswa ke luar negeri dengan hanya mencoba satu kali ujian—dan Jasmine belum tahu soal ini.

Pemuda Song itu mengarahkan kepalanya menoleh ke arah ponsel yang terletak di sisi kanannya. Ia merasa sangat buruk sekarang karena tak dapat melakukan apa-apa ketika gadisnya sedang dalam keterpurukan.

Keadaan mereka sekarang sedang tidak baik begini jadi Yunhyeong seratus persen ragu bagaimana caranya memberi tahu Jasmine perkara beasiswa yang ia dapat dengan begitu mudah.

Entahlah, pikir Yunhyeong.

←→

“Hei, jangan melamun.”

Hanbin baru saja menyenggol lengan atas Yunhyeong yang sejak tadi hanya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.

Ia tahu karibnya itu tengah kebingungan bagaimana cara berpamitan yang baik kepada Jasmine—kekasih Yunhyeong.

“Jadwal penerbanganmu malam ini, Yunhyeong. Kau tidak ingin memberi tahu Jasmine?”

Yunhyeong diam. Ia tak menanggapi perkataan Hanbin barusan—bahkan mungkin ia mendengarnya saja tidak.

Hanbin menghela napas.

“Tuh, lihat. Bocah tengik. Kau suka sekali menceramahiku soal Yoonri tapi sendirinya saja kesusahan dengan Jasmine.”

Kali ini Yunhyeong  menoleh. Ia menatap Hanbin tepat di mata dengan kelopaknya yang seakan enggan terbuka. Belakangan ini ia agak kelelahan karena menjalani pelatihan di universitas lokal sebagai bekal beasiswanya di Inggris. Banyak sekali yang harus ia pelajari sampai waktu tidurnya menipis.

“Kau bisa diam, tidak? Aku sedang berpikir.” Kata Yunhyeong singkat

“Apa lagi yang kau pikirkan? Datang saja padanya dan katakan kalau kau harus pergi. Tidak ada waktu lagi, Yunhyeong.”

Selepas mendengar ucapan Hanbin barusan, Yunhyeong ingin sekali meninju karibnya itu yang kelewat cerewet saat suasana hatinya sedang rumit. Tapi ia menahan amarahnya karena tak mau meninggalkan kenangan buruk bagi Hanbin di hari terakhirnya berada di Korea sekarang ini.

Di sela-sela usahanya menahan emosi, Yunhyeong sedikit terkejut ketika ponselnya tiba-tiba berdenting nyaring. Benda persegi panjang itu menampilkan sebuah pop-up pesan singkat saat Yunhyeong menekan tombol kunci untuk menyalakan layar.

Satu pesan baru. Dari Jasmine.

Ayo bertemu di kafe dekat kampusku malam ini.

“Bye, Song!”

Yunhyeong melambaikan tangannya pada teman sekelasnya ketika berpisah di perempatan jalan. Pemuda itu menyusuri beberapa lorong gang untuk sampai di apartemennya yang terletak tak jauh dari kampus.

Tahun ini adalah tahun ke tiganya di Inggris. Enam semester sudah berlalu sejak kedatangannya ke Negara Albion itu.

Sambil merajut langkah, Pemuda Song  itu masih memasang senyum. Tapi pahatan kurva di bibirnya mulai memudar ketika ia memasuki kawasan apartemen.

Bukan apa-apa. Kalau sudah hampir larut malam begini, pikiran random Yunhyeong sering kali mencuat dan memenuhi seluruh tubuhnya. Tentang rindunya kepada orangtua, kepada adiknya, dan juga Jasmine.

Yunhyeong masuk ke lift untuk sampai di lantai tempat kamarnya berada. Di dalam lift yang isinya hanya ada dirinya seorang dan refleksinya di dinding membuat pikiran pemuda itu makin ruwet.

Ketika pintu lift terbuka otomatis, Yunhyeong kembali meneruskan langkahnya. Pemuda itu memasukkan kode keamanan dan langsung masuk serta bergegas membersihkan diri.

Ketika hendak tidur, Yunhyeong mengurungkan niatnya. Ia menarik laci meja nakas dan mengeluarkan sebuah album foto. Koleksi gambar hasil jepretannya sendiri yang sudah ia persiapkan jauh-jauh hari sebelum berangkat ke Inggris—sebagai obat penawar semisal ia terlalu lebat diselimuti kabut rindu.

Dibukanya halaman demi halaman yang ada di sana. Sesekali ia mengembangkan senyum atau sebaliknya—membuat wajahnya kelihatan murung setengah mati.

Yunhyeong paling banyak meneliti gambar Jasmine. Ia rindu sekali pada gadis itu.

“Lalu kita selesai, begitu?”

Kalimat Jasmine sekitar tiga tahun lalu tiba-tiba mengunjungi benak Yunhyeong begitu saja. Ia tersenyum getir mengingat pertengkaran yang terjadi di antara mereka sebelum ia pergi terbang ke sini.

Sebenarnya, terpisah jarak begini justru membuat keduanya semakin renggang. Apa lagi perbedaan waktu yang sampai sembilan jam. Mereka agak kesusahan untuk sekedar bertukar pesan atau bertukar kalimat lewat telepon.

Nanti saja, ya. Aku ada rapat organisasi, Yunhyeong. Nanti aku yang hubungi kau duluan.”

Biasanya begitu jawaban Jasmine kalau ia menelepon saat pagi—di sana sudah sore.

“Jasmine, aku ada kelas. Selesai kuliah nanti kukirim pesan.”

Begitu pula jawaban Yunhyeong yang sama saja dengan alasan Jasmine. Mereka memang masih menjalin hubungan baik sampai sekarang. Tapi rasanya tidak sama seperti dulu. Bahkan sudah hampir dua minggu mereka tidak saling memberi kabar lantaran pertengkaran yang terjadi terakhir kali.

Sambil membalik halaman dari album foto, benak Yunhyeong masih berpacu. Ia bahkan tanpa sadar meretaskan beberapa bulir air mata ketika sedang memandangi figur Jasmine.

“Jasmine..”

Katakan saja Yunhyeong lembek karena menangis gara-gara perempuan. Tapi percayalah, ia sekarang tengah menyesali apa yang pernah ia perbuat dan segala polahnya yang kadang kelewatan sampai ia dan Jasmine sekarang rasanya terpaut jarak yang jauh sekali.

Rasanya tubuh pemuda itu tiba-tiba menyusut dan bercampur dengan partikel-partikel kecil di udara. Ia merasa bodoh setengah mati. Setelah ia pikir ulang, selama ini yang sering bertingkah menyebalkan tidak lain dan tidak bukan adalah dirinya sendiri.

Ia sering sekali membentak Jasmine di telepon kalau sedang terlampau lelah. Meski akhirnya ia minta maaf dan Jasmine tak menganggapnya serius. Tapi kalau hal itu bukan sekali dua kali ia lakukan, tentu Jasmine merasa muak juga.

Selama ini Jasmine selalu berada di sisinya. Selalu berusaha mengerti keadaannya yang sering kali tak menentu. Sekarang, akhirnya semua itu memukul dirinya sendiri. Tentang seberapa bobrok dirinya memerlakukan gadis sebaik Jasmine.

Sebenarnya Yunhyeong ingin sekali meraung-raung supaya hatinya lega. Tapi ia tak melakukan hal itu. Ia malu pada dirinya sendiri.

Yunhyeong sadar ia memang masih terlalu muda saat meminta Jasmine menjadi kekasihnya. Ia memetik hati gadis itu yang sangat cantik di usia yang terlalu dini. Yah, dan ini lah akibatnya. Bahkan di umur dua puluhan seperti ini sekali pun, ia masih bertingkah kekanakkan dan tak tahu harus bagaimana kalau sedang ada masalah dengan Jasmine.

Jadi, biarkan dia mengkalim dirinya sebagai pemuda yang jahat. Karena nyatanya Jasmine terlalu baik untuk bersanding dengannya yang bajingan. Biarkan Yunhyeong yang jadi pemuda jahat. Karena Jasmine adalah gadis yang terlalu baik untuknya.

—fin

 

Iklan

3 pemikiran pada “[Songfic] Jerk

  1. Ping balik: [Songfic] Best Friend | iKON Fanfiction Indonesia

  2. Ping balik: [Songfic] Everything | iKON Fanfiction Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s