[Songfic] Best Friend

#4 Best Friend

Siskarikapra©2018

Starring iKON’s Jung Chanwoo & Shannon Williams

Length Vignette Genre in AU! daily life, And Rated PG

Previous Track : #1 | #2 | #3

Why are you pretty if you’re not gonna be for me?

“Yak, Jung Chanu!”

Chanwoo cuma bisa menaruh telapak tangan kanannya di wajah sambil menarik napas berat. Ia sekilas melirik Shannon yang—entah bagaimana bisa—sekarang sedang duduk di tengah ranjangnya dengan wajah kusut.

Pemuda Jung itu sebenarnya paham, pasti ada yang membuat gadis blasteran Welsh itu sedih jadi ia minum-minun dan berakhir mabuk serta meracau macam orang gila begini.

“Apa? Apa lagi kali ini?” tanya Chanwoo pasrah

Bukannya menjawab, Shannon malah menekuk wajahnya dan membuat ekspresi seolah ia akan menangis. Chanwoo yang tadinya duduk di kursi meja belajar tentu saja segera mendekat.

“HUUWWAAAAAAA!”

Shannon memekik. Yang tentu saja membuat Chanwoo melotot dan terpaksa membekap mulut Shannon—karena hell yeah ini sudah hampir tengah malam.

“Ssstt! Kau kenapa, sih? Jangan berisik nanti ibuku bangun!”

Meski tidak sepenuhnya diam—karena Shannon masih menangis tertahan—tapi setidaknya kali ini ia tidak menimbulkan suara yang terlalu berisik. Chanwoo masih di posisinya yang membekap Shannon dan setengah memeluk gadis itu di tengah ranjang.

“Tenangkan dirimu dulu. Lalu katakan padaku apa yang terjadi, huh?”

Setelah hanya saling tatap selama beberapa saat, Shannon akhirnya buka suara.

“Kenapa perempuan itu sangat menyebalkan, Chanu?”

Lagi, Chanwoo menutup wajahnya sambil mendengus kasar.

“Kau mabuk, ahreum.”

“KUTANYA SEKALI LAGI KENAPA PEREMPUAN ITU SANGAT MENYEBALKAN?!” teriak Shannon keras

Chanwoo terpaksa membekap mulut gadis itu—lagi.

“Oke, oke. Akan aku jawab. Tidak usah teriak-teriak, okay?”

“Kenapa juga aku harus duduk di sebelahnya? Dasar gadis jalang!”

“Siapa? Siapa perempuan menyebalkan itu? Siapa yang kau sebut gadis jalang? Apa dia mengganggumu?”

Shannon mengangguk. Dengan mata setengah terpejam serta bibirnya yang mencebik, gadis itu menaik turunkan kepalanya singkat.

“Gadis brengsek itu kegatelan! Dia banyak sekali bicara dan mencoba menarik perhatian kakak tingkat yang aku sukai Chanu-yaaaa huwaaaaa!”

Setelah bicara demikian, Shannon langsung memeluk Chanwoo erat. Pemuda itu sedikit terkesiap tapi akhirnya balik memeluk Shannon sambil mengelus punggungnya pelan selama gadis itu menangis sejadi-jadinya.

“Lalu kau mau aku melakukan apa? Mengerjai gadis itu?”

Tidak ada jawaban. Shannon yang memang dasarnya sedang oleng karena mabuk tak mampu menanggapi. Ia cuma sibuk menyerot ingus selagi menangis di pelukan Chanwoo.

“Kau tau tidak, ahreum? Kita berdua itu sama-sama idiot.”

Chanwoo yang lebih senang memanggil Shannon dengan nama Koreanya juga kelihatan mulai mabuk karena bicara soal hal yang tidak jelas.

Sebenarnya tidak juga, sih. Pasalnya pemuda itu cuma ingin mengungkapkan segala hal yang selama ini bersarang di rongga hatinya.

Soal kejelasan status hubungan yang ada di antara mereka berdua, intinya. Mereka berteman sejak kecil. Tak dapat meninggalkan satu sama lain tapi tak juga dapat beralih ke hubungan yang lebih serius. Yah, kau tahu lah, anak jaman sekarang menyebutnya friendzoned, kalau tidak salah.

Chanwoo selalu saja jadi orang pertama ketika Shannon punya masalah. Seperti sekarang saat gadis itu mabuk sehabis menghadiri pertemuan rutin organisasi kemahasiswaan yang ia ikuti di kampus.

Chanwoo tahu, Shannon memang menyukai salah satu kakak tingkat mereka. Sebenarnya ia tidak terima. Tapi mau dikata apa? Ia dan Shannon hanya sebatas teman. Tak lebih.

Ia sering kali mendapati Shannon melamun sambil tertawa sendiri saat melihat kakak tingkat itu. Sedangkan Chanwoo sendiri cuma bisa berusaha menenangkan diri padahal aslinya ia menampung beberapa air mata dan hatinya sakit sekali.

“Chanwoo, aku butuh hiburan. Tolong hibur aku.”

Suara parau Shannon membuyarkan pikiran Chanwoo yang tadinya sedang melayang entah ke mana.

“Apaan? Memangnya aku lelaki penghibur?”

BUGH

Suara barusan adalah bukti nyata—lumayan—kerasnya tinju yang Shannon layangkan untuk Chanwoo. Pemuda itu sekarang sedang memegangi sisi tubuhnya yang langsung menyebarkan rasa nyeri.

“Idiot. Kenapa kau jadi manusia tidak punya nilai guna sama sekali, sih?!” kesal Shannon

Sekarang gadis itu berbaring di ranjang dan menarik selimut lalu bergerak untuk memunggungi Chanwoo.

“Permisi, nona. Tapi kurasa kau salah masuk rumah dan seenaknya tidur di kamar orang karena mabuk.”

“Berisik.”

Chanwoo menoyor kepala Shannon dari belakang. Ia juga tak mendapat serangan balik karena mungkin Shannon sedang malas berdebat. Atau mungkin karena gadis itu terlalu mabuk.

“Heh, Ahreum. Bagaimana pun aku ini laki-laki, kau tahu. Kau tidak takut sembarangan tidur di kamar laki-laki dewasa seenak jidat begini?”

“Lelaki dewasa? Lelaki dewasa pantatmu. Lagian kita itu cuma teman. Kau teman baikku dan aku berani taruhan kau bahkan tidak melihatku sebagai perempuan, Chanu. Jadi, kau lebih baik tutup mulut. Kepalaku sakit.”

Hening.

Sebenarnya Chanwoo ingin sekali memukul kepala Shannon setelah mendengar ucapan terakhirnya yang kelewat menohok hati. Ia ingin sekali protes. Bukannya selama ini malah gadis itu yang tidak melihatnya sebagai laki-laki?

Dasar sialan, batin Chanwoo.

“Ah, kuharap semua ini cuma mimpi. Dan waktu bangun nanti kau tahu-tahu jadi pacarku.” Cerocos Chanwoo asal

“Tapi kalau ini cuma mimpi, aku bakal bilang mimpi ini indah dan menyedihkan di waktu yang sama, Ahreum.”

Chanwoo merebahkan diri. Ia memosisikan tubuh persis di belakang Shannon tapi agak di atas sedikit karena pemuda itu menyandarkan punggung di kepala ranjang.

“Mumpung kau lagi mabuk, aku mau bicara jujur. Toh kau tidak bakal dengar dan ingat, kan.”

“Tidak masalah bagiku kalau kau mau bersandar selamanya. Tidak masalah sama sekali karena aku senang kau mau bersandar padaku meski nyatanya kau tidak mau menerima kenyataan kalau aku menyukaimu.” Kata Chanwoo sambil mendorong kepala Shannon pelan

Gadis itu sekarang melotot. Ia tidak terlalu mabuk, sebenarnya.

“Kalau aku bisa mengontrol perasaanku sendiri, aku bakal membuangnya jauh-jauh. Aku bakal melemparnya sampai ke ujung dunia yang lain supaya aku tidak kecewa karena tidak bisa memilikimu. Kau dengar tidak, gadis bodoh? Aku bicara soal kau dan aku, nih. Jarang-jarang aku serius.” Kata Chanwoo—lagi—kali ini sembari menendang kaki Shannon.

“Aku memang kelihatannya bego dan lamban, tapi aku yakin kau sebenarnya sadar waktu aku mengambil langkah untuk lebih dekat. Tapi waktu itu kau malah pdkt sama kakak tingkat dan pakai gandengan tangan segala. Aku lihat itu, tahu.”

Shannon menggigit bibir bawahnya. Ia bahkan memejamkan mata erat-erat karena menahan malu mendengar perkataan Chanwoo yang kelewat sialan.

“Ahreum, kau tidak perlu begitu terang-terangan menggambar garis supaya aku tahu diri. Aku tahu kok kau cuma mengganggapku teman. Kau juga tahu aku menyukaimu. Aku juga tahu diri seandainya kau tidak mau kita punya hubungan yang lebih. Dengan cara kau memperlihatkan kemesraan dengan kakak tingkat itu membuatku malu sendiri, tahu nggak. Rasanya hidupku itu gagal karena sebatas tak bisa mendapatkan hatimu.”

“Aku mau protes kenapa kau cantik sekali kalau aku tidak bisa memilikimu, huh?”

DEG

Shannon menahan napasnya. Ia ingin sekali menjerit. Jantungnya berpacu lebih cepat dari kerja normal yang biasa dan itu rasanya seperti ingin meledak.

Kalau boleh jujur, Shannon ingin sekali menyahuti semua omongan Chanwoo yang ia dengar sedari tadi. Ia sebenarnya ingin memancing Chanwoo supaya lebih berani dan mengambil langkah untuk mengajaknya ke jenjang hubungan yang lebih serius. Tapi memang dasarnya pemuda itu idiot, dia malah salah menangkap semua kode yang selama ini Shannon berikan.

Tolol, bodoh, brengsek, biadab, Jung Chanwoo kenapa kau idiot sekali, sih?! Batin gadis itu

“Aku sudah sering sekali menunjukkan kalau aku itu menyukaimu. Tapi setiap kali aku melakukannya kau selalu bertingkah aneh dan berakhir marah padaku. Aku malu karena teman-temanku selalu mengejekku idiot karena hal itu.”

Ya, kau memang idiot. Aku bertindak begitu karena aku juga menyukaimu dan jantungku rasanya mau meledak kalau kau melakukan hal-hal semacam itu, bodoh!

“Aku tidak bisa tidur tiap malam karena perasaan itu sangat menggangguku, Ahreum.”

Aku juga sama! Aku rasanya mau mati karena kau terlalu lamban!

“Kalau menyukaimu adalah sebuah dosa dan perbuatan keji, kuharap kau jadi penjaranya supaya kita bisa terus bersama.”

ADUH, JUNG CHANU!

“Semuanya jadi kacau gara-gara kau. Masalahnya kau cantik sekali dan kita ujung-ujungnya cuma teman.”

“GGAAAAAAHHHHHHH.”

Karena tak tahan lagi, Shannon berbalik sambil merentangkan tangannya. Ia berupaya demikian supaya Chanwoo berhenti bicara yang secara tak langsung membuat tubuhnya memanas seperti dipanggang.

Chanwoo menarik tangan Shannon yang melintang di perutnya. Ia kemudian memiringkan tubuh serta membuat sudut siku dengan lengannya serta menggunakan telapak tangan sebagai penopang kepala.

Jujur saja, Chanwoo tidak bodoh-bodoh amat. Ia sebenarnya tahu Shannon sejak tadi mendengarkan makanya ia sengaja bicara banyak.

Sekarang, saat gadis itu persis di sampingnya dan sedang—pura-pura—memejamkan mata, saatnya ia beraksi.

Wush~

Entah angin apa yang membawanya, tapi pemuda itu baru saja menempelkan bibirnya di bibir Shannon. Kilat. Tidak sampai satu detik.

Gadis itu tentu saja melotot sekarang. Ia menatap Chanwoo tidak percaya.

“Jika suatu hari nanti tak ada seorang pun di sisimu, apa kau bakal melihatku?”

—fin

Rika/n oke ini pertama kalinya aku menistai Chanu WKWKWKWKWK but hope yall enjoyed it ya gengs haha luv yaaa ❤

 

 

 

 

Iklan

4 pemikiran pada “[Songfic] Best Friend

    • Eyyo Fafa! atau Sasa?atau Zaki? oke whateves lol hai Fafa Sasazaki! Selamat datang di IFI hehe

      Iya nih ya dari dulu mereka berdua sama sama o kuadrat n 😦 tapi gemas akunya haha anyway terimakasih banyak sudah memberi komentar ❤

      Salam kenal juga dari Siska di sini 98Liner dan gebetannya mambeen hehe. Have a good day!

      Suka

  1. Ping balik: [Songfic] Everything | iKON Fanfiction Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s